- Wakil Perdana Menteri Spanyol Yolanda Díaz mengecam pernyataan Presiden AS Donald Trump terhadap Paus Leo XIV pada Selasa, 14/4/2026.
- Trump mengkritik kebijakan Paus Leo XIV dan meragukan kredibilitas pemimpin negara tersebut melalui unggahan di platform Truth Social.
- Díaz menilai komentar Trump tidak sopan serta berpotensi memicu masalah serius jika ditujukan kepada pemimpin negara lainnya secara umum.
Suara.com - Wakil Perdana Menteri Spanyol, Yolanda Díaz, mengecam pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Paus Leo XIV dan menyebutnya sebagai kesalahan besar dalam sejarah.
Berbicara kepada wartawan asing di Madrid, Selasa (14/4/2026), Díaz menilai komentar tersebut tidak menunjukkan rasa hormat terhadap pemimpin Gereja Katolik sekaligus Kepala Negara Vatican City.
"Paus adalah pemimpin negara dan pemimpin agama yang mewakili jutaan umat beriman," kata Díaz.
"Tidak masalah apakah seseorang religius atau tidak; komentar seperti itu tidak pantas,” ujarnya menegaskan.
Sebelumnya, melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut Paus Leo memiliki rekam jejak yang “lemah” dalam menangani kejahatan serta mengkritik kebijakan luar negerinya.
Trump juga mengisyaratkan bahwa Leo, yang disebut sebagai Paus pertama dari Amerika, tidak akan terpilih jika bukan dirinya yang menjabat sebagai Presiden AS.
Díaz menegaskan bahwa ia tetap menghormati kedua tokoh tersebut dalam perannya masing-masing, namun mempertanyakan dampak jika pernyataan serupa diarahkan kepada pemimpin negara lain.
“Jika saya mengatakan tentang pemimpin negara lain apa yang dikatakan Trump tentang Paus, siapa yang tahu apa yang akan terjadi?” tuturnya menambahkan.
(Antara)
Baca Juga: Klaim Iran Kalah dan Hormuz Dibersihkan, Donald Trump Ucap 'Alhamdulillah'
Berita Terkait
-
Klaim Iran Kalah dan Hormuz Dibersihkan, Donald Trump Ucap 'Alhamdulillah'
-
Bukan Sekadar Melintas, Pesawat Militer AS Dikhawatirkan 'Scanning' Data Rahasia Indonesia
-
Israel - Lebanon Akan Berunding, Tapi Anak Buah Donald Trump Mau Nimbrung
-
Bagaimana Cara Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz?
-
Kenapa Amerika Serikat Pakai Nama Menteri Perang, Bukan Menteri Pertahanan?
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Untuk Pertama Kalinya, Lebanon dan Israel Bahas Gencatan Senjata Langsung di Washington
-
Vladimir Putin Ingin Prabowo Subianto Kembali Berkunjung pada Mei dan Juli 2026
-
Survei Cyrus Network: 70 Persen Masyarakat Puas Kinerja Menteri Kabinet Merah Putih
-
Survei Cyrus: 65,4 Persen Publik Dukung MBG
-
Lolos dari Bandara Soetta, Sabu 4,8 Kg Kiriman dari Iran Disergap di Pamulang!
-
Mendagri Tito Bahas Persiapan Program Perumahan di Wilayah Perbatasan
-
Bisa Jadi Pintu Masuk HIV: 19 dari 20 Remaja Jakarta Terinfeksi Penyakit Menular Seksual
-
Begal Petugas Damkar Ditangkap di Hotel Pluit, Polisi: Masih Ada 4 Pelaku yang Buron!
-
Makar atau Kebebasan Berekspresi? Membedah Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani
-
Perintah Tegas Pramono ke Pasukan Kuning: Jangan Tunggu Viral, Jalan Rusak Harus Cepat Ditangani!