- Prof. Zainal Arifin Mochtar menilai negara merespons film dokumenter Pesta Babi melalui pendekatan populisme yang memecah belah publik.
- Pemerintah lebih memilih mempertanyakan sumber pendanaan film daripada memberikan data pembanding untuk membantah substansi kritik yang disampaikan.
- Negara dianggap merasa terancam oleh munculnya narasi alternatif yang berpotensi merusak monopoli data dan analisis resmi pemerintah.
Suara.com - Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar, menilai respons negara terhadap film dokumenter Pesta Babi tidak lepas dari kecenderungan populisme yang belakangan menguat dalam ruang politik.
Menurutnya, pola tersebut terlihat dari cara negara membingkai perdebatan dengan membelah kelompok yang dianggap pro-negara dan pihak yang diposisikan sebagai lawannya.
"Jadi negara ini seringkali lagi membangun nuansa populismenya. Jadi dalam konsep populisme itu seakan-akan harus dibagi antara yang rakyat dan bukan rakyat, yang nasionalis yang tidak nasionalis, yang pro negara sama pro antek-antek asing," kata Uceng sapaan akrabnya ditemui di sela-sela forum Konferensi Republik di Gadjah Mada University Club, Yogyakarta, Sabtu (30/5/2026).
Disampaikan Uceng, cara negara merespons film Pesta Babi menunjukkan kecenderungan untuk mempertanyakan hal-hal di luar substansi yang disampaikan dalam film.
"Yang dipertanyakan adalah dananya bukan datanya. Padahal bagi saya sederhana saja, harusnya yang didebat itu adalah datanya," ujarnya.
Uceng mencontohkan bahwa apabila terdapat informasi yang dianggap keliru dalam film, negara cukup menunjukkan data pembanding untuk membantahnya.
Ia menilai perdebatan mengenai kondisi proyek pembangunan atau kebijakan publik seharusnya diselesaikan melalui adu data. Bukan malah melalui insinuasi terhadap pihak yang menyampaikan kritik.
"Betul kah, misalnya food estate kuatrik udah berantakan? Bantah aja datanya gitu. Yang kita dorong pada negara adalah bantahlah datanya. Cukup untuk menjelaskan secara data," ucapnya.
Selain faktor populisme, Uceng menduga keresahan negara terhadap film tersebut bukan terletak pada medium film itu sendiri. Melainkan pada kemunculan narasi alternatif yang menawarkan perspektif berbeda dari narasi resmi pemerintah.
Baca Juga: Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta
"Saya sih menganggap negara bukan takut pada film, yang negara takutkan itu adalah narasi alternatif, yang negara takutkan itu adalah data pembanding," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam pemerintahan yang cenderung otoriter dan populis, penguasaan atas data dan analisis sering menjadi instrumen penting.
Oleh sebab itu, kehadiran informasi atau analisis yang berbeda kerap dipandang sebagai ancaman terhadap narasi yang selama ini dibangun.
"Di tengah negara yang otoriter, populis otoritarianistik itu biasanya dia akan memonopoli yang namanya data kan dan memonopoli analisis," tuturnya.
Berita Terkait
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
Siapa Mama Sinta? Tokoh Adat Papua Polisikan Ketua LBH Merauke Terkait Film Pesta Babi
-
Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas
-
Pacu Iklim Kompetisi Daerah, Kemendagri Gelar Apresiasi Pemda 2026 Regional Sulawesi
-
Bukan Melalui Kekerasan, Militerisasi Masuk ke Ranah Sipil Lewat Jalur Administratif Halus
-
Saiful Mujani: Pemilu Cacat Bikin Legitimasi Negara Runtuh, Serukan Boikot Jika Curang
-
Masalah Krusial di Mina Terkuak, Jemaah Haji Tak Makan 9 Jam hingga Tenda Melebihi Kapasitas
-
Bukan Sekadar Seremonial, Ini Alasan PDIP Wajibkan Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme
-
Kedok Warung Sembako Terbongkar! Polisi Sita Ribuan Obat Keras di Jagakarsa, Satu Pria Diringkus