News / Nasional
Rabu, 15 April 2026 | 14:29 WIB
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, Rusia, Senin (13/4/2026). [ANTARA FOTO/HO/Bakom RI/app/sgd]
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo dan Presiden Putin bertemu di Kremlin pada 13 April untuk memperkuat kemitraan strategis ekonomi serta energi.
  • Pemerintah Indonesia menyepakati pembelian minyak dan gas dari Rusia guna menjamin ketersediaan cadangan energi nasional yang aman.
  • Kerja sama ini melibatkan negosiasi skema antarpemerintah dan antarbisnis di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi.

"Sekali lagi saya merasa senang hari ini karena atas arahan Bapak Presiden Prabowo untuk menindak lanjuti secara tuntas. Dan, alhamdulillah, sekali lagi saya katakan bahwa insya Allah bisa kita mendapatkan yang baik," ujar Bahlil.

Selain migas, Indonesia juga membuka ruang kolaborasi pada pengembangan penyimpanan minyak, mineral, hingga nuklir.

Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai keputusan pemerintah mengambil minyak dari Rusia sangat "masuk akal."

Hal ini didasarkan pada status Rusia sebagai produsen minyak dan gas terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Namun, Fabby mengingatkan agar pemerintah mewaspadai "apa yang diminta Rusia" sebagai imbal balik dari kerja sama ini. Ia menekankan bahwa dalam politik internasional, komoditas strategis sering digunakan sebagai alat tekan.

"Ingat, pemerintah Amerika Serikat menggunakan perjanjian dagang untuk menekan. Itu menjadi alat geopolitik," tegas Fabby sebagaimana disitat dari BBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).

Ia meyakini "pemerintah Rusia juga akan melakukan hal yang sama."

Dosen hubungan internasional Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra, memberikan catatan agar pemerintah berhati-hati terhadap risiko sanksi sekunder (secondary sanction) dari Uni Eropa.

Mengingat Rusia masih dalam jeratan sanksi akibat invasi ke Ukraina, pembelian minyak secara terang-terangan bisa berdampak pada posisi Indonesia.

Baca Juga: Seskab Teddy Ungkap Isi Pertemuan Empat Mata Prabowo dan Macron

"Ketika ada kabar akhir tahun lalu port [pelabuhan] di Karimun yang disinggahi minyak [Rusia] saja, kita sudah nyaris disanksi oleh Uni Eropa. Terlebih kalau terang-terangan membeli [minyak Rusia]," kata Radityo.

Urgensi mencari pasokan baru ini tidak lepas dari kondisi Selat Hormuz yang terganggu akibat perang. Selat tersebut memegang sekitar 89% aliran minyak mentah di Asia.

Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa dalam kondisi krisis, Indonesia harus menjamin ketersediaan BBM untuk masyarakat.

"Jadi, jangan kita pilih-pilih sekarang. Dari negara mana saja [bisa impor], yang penting ada," ucap Bahlil.

Sinyal kesediaan Rusia sudah muncul sejak akhir Maret 2026 melalui Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov.

Rusia menganggap Indonesia sebagai "negara sahabat" sehingga "kami siap bekerja sama di bidang minyak dan gas."

Load More