-
Militer Israel melakukan penghancuran sistematis ribuan bangunan di wilayah perbatasan Lebanon Selatan.
-
Pakar hukum internasional memperingatkan adanya potensi kejahatan perang dalam taktik zona penyangga.
-
Lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi akibat eskalasi operasi darat Israel.
Suara.com - Strategi militer Israel di wilayah perbatasan Lebanon kini beralih dari serangan udara ke penghancuran darat secara masif terhadap infrastruktur sipil.
Data terbaru menunjukkan ribuan bangunan di desa-desa Lebanon Selatan telah rata dengan tanah akibat operasi pembongkaran terkendali.
Dikutip dari BBC, langkah ini menyusul instruksi resmi untuk mempercepat perobohan hunian warga yang dianggap berada dalam zona konflik aktif.
Penghancuran yang meluas ini telah mengubah lanskap sejarah desa-desa pegunungan menjadi hamparan puing dan debu abu-abu.
Aksi tersebut memicu perdebatan sengit di tingkat global mengenai batasan kebutuhan militer dan perlindungan hak asasi manusia.
Analisis mendalam terhadap data visual mengonfirmasi bahwa lebih dari 1.400 struktur bangunan telah hancur total sejak awal Maret lalu.
Rekaman yang diverifikasi menunjukkan ledakan serentak di beberapa titik lokasi yang menghapus seluruh blok permukiman dalam sekejap.
Kota Taybeh menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah dengan hilangnya ratusan bangunan termasuk tempat ibadah.
Di wilayah pesisir Naqoura, aktivitas pembongkaran bahkan berdampak langsung pada area sekitar markas pasukan perdamaian PBB.
Baca Juga: Berani! Anggota DPR Polandia Pamer Bendera Israel Bergambar Nazi di Sidang Parlemen
Kandice Ardiel, juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (Unifil) yang bermarkas di markas besar tersebut, menyatakan:
"Ini bukan sekadar gedung, mereka mewakili sebuah komunitas."
Legalitas Operasi Zona Penyangga Israel
Pakar hukum internasional kini menyoroti potensi pelanggaran hukum perang terkait taktik bumi hangus yang diterapkan di wilayah kedaulatan Lebanon.
Prinsip hukum humaniter dengan tegas melarang perusakan properti sipil kecuali jika terdapat kebutuhan militer yang sangat mendesak.
Israel berdalih bahwa infrastruktur milik Hezbollah sengaja ditempatkan di dalam area warga guna menghambat serangan balasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
BGN Pamer Laporan Keuangan era Dadan Hindayana Raih Opini WTP BPK
-
Rupiah Jadi Mata Uang Terkuat di Asia, Dolar AS Turun ke Rp17.919
-
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah Sebagai Tersangka, Bersamaan dengan Pelimpahan Barang Bukti
-
Bhayangkara FC Lepas 12 Pemain, Termasuk Bintang Berlabel Timnas Indonesia
-
Genggaman yang Terlepas di Pulau Rimau: Detik-Detik Tragis Penombak Ikan Ditelan Ombak
-
Liga Aspal Ramai di Jakarta, Pramono Janji Bangunkan Sarana Olahraga
-
Calon Manajer Koperasi Merah Putih Didominasi Perempuan, Capai 60 Persen!
-
Jaringan Tembus 1,13 Juta Agen, BRI Perkuat Penetrasi Pasar Lewat Sektor Ritel
-
Gabung Persija, Kwon Chang-hoon Singgung Nama Shin Tae-yong
-
Ulasan Novel Kendat, Misteri Kasus Berdarah Pulung Gantung di Desa Rangi