News / Metropolitan
Kamis, 16 April 2026 | 16:06 WIB
Foto Ilustrasi pembersihan sampah di Sungai Ciliwung. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Ekosistem Sungai Ciliwung di Kalibata menghadapi tantangan ledakan populasi ikan sapu-sapu yang sulit diberantas akibat reproduksi sangat cepat.
  • Ikan sapu-sapu menjadi dilema karena merusak tanggul sungai namun tetap dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi produk makanan.
  • Pemprov DKI Jakarta menjadwalkan aksi pembersihan sungai pada 17 April 2026 untuk meminimalisir kerusakan infrastruktur dan risiko banjir.

Selain menjadi ancaman bagi ekosistem, ikan sapu-sapu ternyata memiliki sisi lain yang menyentuh aspek ekonomi kerakyatan.

Di tengah statusnya sebagai hama, ikan ini telah menjadi sumber penghasilan bagi sebagian nelayan dan warga sekitar.

Ada perputaran uang yang terjadi dari hasil tangkapan ikan yang memiliki kulit keras ini.

“Yang penting jaga lingkungan tetap bersih, tapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya,” kata dia.

Secara ekonomi, ikan sapu-sapu hasil tangkapan nelayan di Ciliwung biasanya tidak dibuang begitu saja. Ikan-ikan tersebut dijual kepada pengepul dengan harga tertentu.

Dari tangan pengepul, daging ikan sapu-sapu kemudian diolah menjadi berbagai jenis produk makanan yang populer di kalangan masyarakat luas.

Beberapa produk turunan yang sering ditemukan di pasar atau pedagang kaki lima antara lain cilok, nugget, otak-otak, hingga kerupuk.

Hal ini menjadi dilema tersendiri; di satu sisi ia adalah perusak lingkungan, namun di sisi lain ia menjadi penopang dapur sebagian warga.

Persoalan ikan sapu-sapu ini juga telah sampai ke telinga otoritas terkait. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menjadwalkan aksi nyata untuk menangani masalah ini.

Baca Juga: Tanggul Jakarta Digerogoti Ikan Sapu-Sapu, Pramono Gelar Operasi Besar-besaran Besok

Berdasarkan rencana, Pemprov DKI akan melakukan pembersihan besar-besaran di sungai dan saluran air di seluruh ibu kota pada Jumat (17/4). Fokus utama dari aksi ini adalah pengangkatan sampah dan pembersihan ikan sapu-sapu.

Langkah tegas ini diambil karena ikan sapu-sapu dinilai memiliki perilaku yang merusak infrastruktur sungai. Ikan ini gemar membuat lubang di dinding tanah bantaran sungai, yang jika dibiarkan dapat menghancurkan tanggul-tanggul pelindung.

Selain itu, sifat predatornya terhadap telur ikan asli sungai lokal mengancam keanekaragaman hayati Ciliwung.

Kegiatan bersih-bersih yang diinisiasi pemerintah ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang menghadapi tantangan iklim.

Selain menangani hama ikan, petugas akan melakukan pengerukan lumpur dan perbaikan saluran air sebagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan yang diprakirakan akan berlangsung pada September 2026 mendatang.

Dengan demikian, diharapkan kapasitas tampung sungai meningkat dan risiko banjir di Jakarta dapat diminimalisir.

Load More