-
Netanyahu menyetujui gencatan senjata sepuluh hari dengan Lebanon demi mengejar perdamaian bersejarah.
-
Israel tetap mempertahankan pasukan di zona keamanan sepuluh kilometer untuk mencegah serangan roket.
-
Tuntutan utama Israel mencakup pelucutan senjata Hizbullah dan perdamaian permanen melalui mediasi Amerika.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi mengambil langkah diplomatik dengan menyetujui gencatan senjata selama sepuluh hari di Lebanon.
Keputusan ini menjadi titik balik penting untuk membuka ruang dialog internasional demi mengakhiri eskalasi militer yang berkepanjangan.
Dikutip dari CNN, meskipun aktivitas militer dihentikan sementara, Israel memastikan tidak akan menarik seluruh kekuatannya dari wilayah kedaulatan Lebanon.
Strategi ini diambil untuk memastikan stabilitas keamanan nasional Israel tetap terjaga selama proses negosiasi berlangsung di meja diplomasi.
Gencatan senjata ini diproyeksikan sebagai jembatan menuju perundingan yang lebih komprehensif antara kedua negara yang bertikai.
Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel akan tetap menyiagakan personel di dalam zona keamanan yang telah ditetapkan.
Area operasional ini mencakup radius sepuluh kilometer dari perbatasan untuk membendung segala bentuk ancaman fisik.
"Kami akan tetap berada di zona keamanan 10 kilometer, yang akan memungkinkan kami untuk mencegah infiltrasi ke dalam komunitas dan tembakan rudal anti-tank," kata Netanyahu dalam pernyataan video.
Keberadaan militer di wilayah tersebut diklaim sebagai langkah preventif terhadap potensi serangan susulan dari kelompok bersenjata.
Baca Juga: Israel Diserang Jutaan Lebah, Warga Zionis Ketakutan Yakin Itu Kiriman dari Tuhan
Israel meyakini bahwa penguasaan teritorial sementara ini adalah kunci utama dalam melindungi warga sipil di perbatasan utara.
Kekuatan Zona Penyangga Baru
Pemerintah Israel menggambarkan bahwa zona keamanan saat ini memiliki struktur yang jauh berbeda dan lebih efektif dibandingkan periode sebelumnya.
Netanyahu mengklaim bahwa sistem pertahanan yang diterapkan kali ini jauh lebih stabil untuk menghadapi dinamika konflik di lapangan.
"Kami tetap berada di Lebanon di zona keamanan yang diperluas," kata Netanyahu.
Ia menjelaskan bahwa parameter keamanan baru ini dirancang untuk mampu bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Lebih Transparan, Begini Cara BRI Digitalisasi Transaksi di Lapas
-
Kenyamanan Jadi Prioritas Baru dalam Mobilitas Warga Kota
-
Heboh Transpuan Bogor Dilempar Air Seni, Amnesty Duga Buntut dari Perpres 111/2025
-
Spanyol vs Argentina: 6 Faktor Penentu Juara Piala Dunia 2026
-
Mitra Grab Sambut Positif Skema Komisi 8 Persen, Sebut Tak Ada Lagi Potongan Tambahan
-
Korban Tewas Kecelakaan Sibolangit Dibawa ke RS Adam Malik, Kondisi Mengenaskan
-
Dengue Rugikan Indonesia Rp9 Triliun di 2024: Mengapa 3M Saja Tidak Lagi Cukup?
-
Penantian 18 Tahun Terbayar, 5 Ribu Penggemar 'Karaoke Massal' di Konser Peterpan Malaysia
-
6 Korban Kecelakaan Sibolangit Dirawat di RS Adam Malik, 1 Anak Luka Serius
-
Kisah Foto Ikonik Messi dan Bayi Lamine Yamal, Berujung Duel di Final Piala Dunia 2026