News / Internasional
Jum'at, 17 April 2026 | 08:02 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Antara)
Baca 10 detik
  • Netanyahu menyetujui gencatan senjata sepuluh hari dengan Lebanon demi mengejar perdamaian bersejarah.

  • Israel tetap mempertahankan pasukan di zona keamanan sepuluh kilometer untuk mencegah serangan roket.

  • Tuntutan utama Israel mencakup pelucutan senjata Hizbullah dan perdamaian permanen melalui mediasi Amerika.

"Jauh lebih kuat, jauh lebih ampuh, jauh lebih berkelanjutan, dan jauh lebih solid daripada yang kita miliki sebelumnya," tambah Netanyahu.

Agenda gencatan senjata sepuluh hari ini juga berkaitan erat dengan undangan diplomatik dari Amerika Serikat.

Donald Trump dikabarkan telah mengundang Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk bertemu langsung di Washington, DC.

Pertemuan tingkat tinggi ini diharapkan mampu menghasilkan solusi permanen bagi krisis kemanusiaan dan keamanan di Timur Tengah.

Inisiatif Amerika Serikat ini menjadi katalisator bagi Israel untuk mempertimbangkan gencatan senjata jangka pendek sebagai langkah awal.

Dukungan internasional dianggap sangat krusial dalam menekan tensi militer yang sudah berada pada level mengkhawatirkan.

Tuntutan Tegas Terhadap Hizbullah

Israel menetapkan parameter yang sangat tinggi dan tidak dapat dinegosiasikan dalam upaya mencapai perdamaian berkelanjutan.

Terdapat dua tuntutan utama yang dibawa oleh pihak Israel ke meja perundingan dengan pemerintah Lebanon.

Baca Juga: Israel Diserang Jutaan Lebah, Warga Zionis Ketakutan Yakin Itu Kiriman dari Tuhan

"Dalam pembicaraan ini, kami memiliki dua tuntutan: pelucutan senjata Hizbullah (dan) kesepakatan perdamaian berkelanjutan - dari posisi yang kuat," kata Netanyahu.

Bagi Israel, keberadaan kekuatan militer Hizbullah dianggap sebagai hambatan utama bagi terciptanya stabilitas di kawasan.

Pelucutan senjata kelompok tersebut menjadi syarat mutlak jika Lebanon menginginkan penghentian serangan militer secara permanen.

Netanyahu melihat periode sepuluh hari ini sebagai momentum langka untuk mengubah peta politik dan keamanan di wilayah tersebut.

Ia optimis bahwa keberhasilan diplomasi kali ini bisa menciptakan lembaran baru dalam hubungan antara Tel Aviv dan Beirut.

"Kita memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan perdamaian bersejarah dengan Lebanon," kata Netanyahu.

Load More