-
Netanyahu menyetujui gencatan senjata sepuluh hari dengan Lebanon demi mengejar perdamaian bersejarah.
-
Israel tetap mempertahankan pasukan di zona keamanan sepuluh kilometer untuk mencegah serangan roket.
-
Tuntutan utama Israel mencakup pelucutan senjata Hizbullah dan perdamaian permanen melalui mediasi Amerika.
"Jauh lebih kuat, jauh lebih ampuh, jauh lebih berkelanjutan, dan jauh lebih solid daripada yang kita miliki sebelumnya," tambah Netanyahu.
Agenda gencatan senjata sepuluh hari ini juga berkaitan erat dengan undangan diplomatik dari Amerika Serikat.
Donald Trump dikabarkan telah mengundang Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk bertemu langsung di Washington, DC.
Pertemuan tingkat tinggi ini diharapkan mampu menghasilkan solusi permanen bagi krisis kemanusiaan dan keamanan di Timur Tengah.
Inisiatif Amerika Serikat ini menjadi katalisator bagi Israel untuk mempertimbangkan gencatan senjata jangka pendek sebagai langkah awal.
Dukungan internasional dianggap sangat krusial dalam menekan tensi militer yang sudah berada pada level mengkhawatirkan.
Tuntutan Tegas Terhadap Hizbullah
Israel menetapkan parameter yang sangat tinggi dan tidak dapat dinegosiasikan dalam upaya mencapai perdamaian berkelanjutan.
Terdapat dua tuntutan utama yang dibawa oleh pihak Israel ke meja perundingan dengan pemerintah Lebanon.
Baca Juga: Israel Diserang Jutaan Lebah, Warga Zionis Ketakutan Yakin Itu Kiriman dari Tuhan
"Dalam pembicaraan ini, kami memiliki dua tuntutan: pelucutan senjata Hizbullah (dan) kesepakatan perdamaian berkelanjutan - dari posisi yang kuat," kata Netanyahu.
Bagi Israel, keberadaan kekuatan militer Hizbullah dianggap sebagai hambatan utama bagi terciptanya stabilitas di kawasan.
Pelucutan senjata kelompok tersebut menjadi syarat mutlak jika Lebanon menginginkan penghentian serangan militer secara permanen.
Netanyahu melihat periode sepuluh hari ini sebagai momentum langka untuk mengubah peta politik dan keamanan di wilayah tersebut.
Ia optimis bahwa keberhasilan diplomasi kali ini bisa menciptakan lembaran baru dalam hubungan antara Tel Aviv dan Beirut.
"Kita memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan perdamaian bersejarah dengan Lebanon," kata Netanyahu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Ikan Sapu-Sapu Jakarta Bisa Pupuk Organik, KKP Ingatkan Bahaya Jika Dikonsumsi
-
Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark
-
Pemerintah AS Kaji Ulang Aturan Daur Ulang Plastik, Lingkungan Terancam?
-
Pemerintah Buka 30.000 Posisi Manajer Koperasi Desa! Cek Syarat dan Cara Daftarnya di Sini
-
Amerika Serikat Klaim Gencatan Senjata Lebanon-Israel Dapat Diperpanjang
-
Diduga Akibat Korsleting Listrik, Satu Keluarga Tewas Akibat Kebakaran di Tanjung Duren Jakbar
-
Pihak Andrie Yunus Pastikan Absen Sidang Perdana di Pengadilan Militer 29 April, Ini Alasan Kontras
-
Setelah AS, Giliran Jerman Mau Ikut Campur di Selat Hormuz
-
Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor
-
Heboh Mahasiswi ITB Jadi Korban Foto AI Telanjang, Wamenkomdigi Ingatkan soal Etika