-
Gencatan senjata Lebanon dan Israel dimulai selama sepuluh hari melalui inisiasi Amerika Serikat.
-
PBB mendukung penuh penghentian permusuhan demi keselamatan warga sipil di perbatasan kedua negara.
-
Penghancuran jembatan Sungai Litani mengisolasi ratusan ribu warga di tengah proses upaya damai.
Suara.com - Kesepakatan gencatan senjata di Lebanon menjadi angin segar bagi upaya penghentian kekerasan di wilayah perbatasan.
Langkah ini diharapkan mampu menyudahi duka mendalam yang menyelimuti warga sipil di sepanjang garis biru.
Dikutip dari Sputnik, PBB secara resmi menyatakan kesiapan penuh dalam mengawal transisi menuju stabilitas keamanan yang lebih permanen.
Diplomasi internasional kini berfokus pada mekanisme pengawasan agar bentrokan bersenjata tidak kembali pecah tiba-tiba.
Keberhasilan gencatan senjata ini akan menjadi tolok ukur efektivitas peran mediator dalam konflik Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut hangat kabar penghentian baku tembak yang telah merusak infrastruktur tersebut.
"Saya baru saja berbicara dengan Sekretaris Jenderal, yang mengatakan dengan jelas menyambut baik langkah-langkah yang akan mengakhiri permusuhan dan penderitaan di kedua sisi garis biru," kata Dujarric selama konferensi pers.
Institusi global ini berkomitmen mengerahkan misi politik dan pasukan perdamaian guna menjaga kondusivitas di lapangan.
Partisipasi aktif PBB dianggap krusial untuk memastikan kedua belah pihak mematuhi poin-poin kesepakatan awal.
Baca Juga: Serangan Udara Israel di Ghazieh Tewaskan 7 Warga Sipil Menjelang Kesepakatan Gencatan Senjata
Upaya damai ini menjadi krusial mengingat eskalasi sebelumnya telah memakan banyak korban jiwa tak berdosa.
Inisiasi Washington dan Undangan Diplomasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan antara Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Gencatan senjata tersebut direncanakan berlangsung selama sepuluh hari terhitung sejak Kamis malam waktu setempat.
"Saya baru saja berbicara dengan Sekretaris Jenderal, yang mengatakan dengan jelas menyambut baik langkah-langkah yang akan mengakhiri permusuhan dan penderitaan di kedua sisi garis biru," kata Dujarric selama konferensi pers.
Dujarric menambahkan bahwa PBB, melalui misi politik dan perdamaian akan terus mendukung upaya-upaya menuju perdamaian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Seragam Sekolah yang Layak Masih Jadi Mimpi Sebagian Anak Indonesia
-
Indonesia Gabung WAICO, Pemerintah Tegaskan AI Bukan Ajang Pilih Kubu China-AS
-
3 Sunscreen Jepang agar Kulit Tampak Awet Muda, Lengkap Review Pembeli
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Kemendag Menang Sengketa WTO, Akses Ekspor Rp7,34 Triliun ke Eropa Berhasil Diselamatkan
-
Tumpuk Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Berujung Denda Rp 500 Ribu
-
Meski Amplop Dikembalikan, KPK Bisa Jerat Raja Juli dengan Pasal Suap dan Gratifikasi
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin
-
Lebak Darurat Air Bersih, Kemarau Panjang Landa 90 Desa di 23 Kecamatan