- Andrie Yunus melalui Koordinator KontraS memutuskan tidak akan menghadiri sidang perdana di Pengadilan Militer II-08 Jakarta pada 29 April 2026.
- Pihak korban menolak peradilan militer karena khawatir akan terjadi manipulasi motif serta kegagalan dalam mengungkap seluruh aktor intelektual sebenarnya.
- KontraS menegaskan kasus penyiraman air keras ini merupakan tindak pidana umum, sehingga seharusnya diadili melalui mekanisme peradilan umum bukan militer.
Suara.com - Pihak Andrie Yunus memastikan tidak akan hadir di Pengadilan Militer II-08 Jakarta, dalam sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan, Rabu, 29 April 2026.
Kepastian itu disampaikan Koordinator Kontras Dimas Bagus Arya usai hadir di depan gerbang Kementerian Sekretariat Negara bersama Koalisi Masyarakat Sipil dalam rangka menyerahkan sejumlah surat, termasuk surat dari tulisan tangan Andrie Yunus yang ditujukan untuk Presiden Prabowo Subianto, dibarengi aksi simbolik.
Dimas membeberkan alasan mengapa KonstraS maupun Koalisi Masyarakat Sipil dan pihak lain yang menjadi bagian dari Andrie Yunus menolak hadir dalam sidang di Pengadilan Militer, pekan depan.
Dimas menekankan kembali KonstraS maupun Andrie Yunus ketidakpercayaan dengan forum peradilan militer.
Ketidakpercayaan tersebut sudah ada sejak awal proses pengungkapkan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus
"Pertama, kenapa? Ada 3 hal yang menurut kami jadi handicap, atau jadi kekurangan, kenapa kasus ini tidak akan tuntas secara menyeluruh apabila diselesaikan di peradilan militer," kata Dimas di depan gerbang Kementerian Sekretariat Negara, Jalan Majapahit, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026).
"Pertama, dia tidak akan bisa membongkar aktor intelektualisnya siapa," katanya menambahkan.
Kedua, KontraS menilai motif peristiwa sangat rawan sekali dipelintir atau ada manipulasi wacana dari narasi yang digulirkan.
"Kalau kita lihat kemarin pernyataan dari pihak TNI yang menyampaikan bahwa motifnya adalah dendam pribadi, ini mengingatkan kita pada kasusnya Bang Novel 2017 silam, di mana pelaku waktu itu juga menyampaikan bahwa alasan atau motif penyerangannya adalah dendam pribadi juga," tutur Dimas.
Baca Juga: Aktivis Geruduk Puspom TNI, Tuntut Kasus Andrie Yunus Diadili di Peradilan Umum
"Nah, yang kami takutkan, kami khawatirkan, manipulasi ini punya tujuan yaitu melokalisir pelakunya hanya untuk 4 orang," lanjut dia.
Sementara ditegaskan Dimas, temuan dari tim hukum atau Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD), menyatakan atau menemukan ada 16 orang setidaknya, yang terlibat dalam upaya pengintaian, penguntitan, surveillance, bahkan kemudian sampai koordinasi menjelang penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, 12 Maret 2026.
"Apa kabar dengan proses-proses kepada orang-orang yang kami identifikasi ini? Apakah itu juga akan dijadikan fakta persidangan di peradilan militer? Saya rasa tidak," kata Dimas.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, Dimas menegaskan ketidakhadiran KontraS maupun pihak lain dari Andrie Yunus dalam sidang perdana.
"Jadi untuk itu kami menyikapi bahwa tanggal 29 nanti sidang pertama, pihak kami tidak akan datang. Kami menolak penuh bagaimana kemudian proses yang berjalan di peradilan militer, pengadilan militer 2/08 Jakarta," kata Dimas.
"Dan kami juga masih punya argumentasi, statement bahwa kasus ini bukan tindak pidana militers sehingga dia tidak bisa serta-merta dibawa ke pengadilan militer," sambung Dimas.
Dimas menilai kasus penyiraman air keras kepada Andrie seharisnya masuk dalam tindak pidana umum.
"Sehingga lebih tepat apabila proses penyelesaiannya itu dilakukan di yuridiksi pengadilan umum atau pengadilan sipil. Dan tentu itu yang menjadi latar belakang kami untuk tidak mau menghadiri proses-proses yang ada di sepanjang pengadilan militer yang dijalankan oleh pihak TNI," kata Dimas.
Berita Terkait
-
Berkas Andrie Yunus Dilimpahkan ke Peradilan Militer, Anggota DPR: Ujian Besar Supremasi Hukum
-
KontraS Ragukan Motif Dendam Pribadi di Kasus Andrie Yunus, Soroti Dugaan Putus Rantai Komando
-
Menko Yusril Beberkan Alasan Kasus Air Keras Andrie Yunus Tak Bisa Masuk Peradilan Umum
-
Aktivis Geruduk Puspom TNI, Tuntut Kasus Andrie Yunus Diadili di Peradilan Umum
-
Wajah Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus Masih Misteri, TNI: Lihat Saja Nanti di Sidang!
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Kebakaran Kemayoran Hanguskan 304 Bangunan, Rano Karno: Listrik Harus Dijaga!
-
Nadiem Tuding Kasus Chromebook Bermula dari Dendam Birokrasi: Banyak yang Periuk Nasinya Terganggu
-
Habiburokhman Sentil Dino Patti Djalal: Jangan Sok Paling Tahu Diplomasi
-
Janda di Labuhanbatu Dianiaya Besan Hingga Pingsan, Laporan Mandek di Meja Polisi?
-
BRIN Minta Maaf atas Kesalahan Desain Lambang Garuda di Konten Hari Lahir Pancasila
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
-
Menkes Bingung Harga Obat di RI 2-6 Kali Lebih Mahal dari Harga Pasar Global: Kita Harus Negosiasi
-
Respons PDIP Soal Keakraban Prabowo dan Megawati: Biasa Saja, Sudah Bersahabat Lama
-
Papua Barat Punya Sekolah Berbasis Konservasi Pertama di Indonesia, Apa Beda dengan Sekolah Biasa?