News / Internasional
Senin, 20 April 2026 | 11:51 WIB
Tragedi kemanusiaan melanda pusat kota Kyiv saat aksi penembakan brutal secara acak merenggut nyawa enam warga sipil. (CNN)
Baca 10 detik
  • Enam warga sipil tewas dalam aksi teror penembakan massal di sebuah supermarket Kyiv.

  • Pelaku kelahiran Moskow tewas diterjang peluru pasukan khusus setelah menyandera sejumlah pengunjung toko.

  • Presiden Zelensky memerintahkan investigasi mendalam terhadap motif pelaku dan kegagalan respons oknum polisi.

Suara.com - Tragedi kemanusiaan melanda pusat kota Kyiv saat aksi penembakan brutal secara acak merenggut nyawa enam warga sipil.

Pemerintah Ukraina kini menetapkan status penyelidikan terorisme atas serangan mematikan yang terjadi di kawasan distrik Holosiivskyi tersebut.

Dikutip dari CNN, langkah hukum ini diambil untuk membedah motif di balik tindakan keji pria bersenjata yang sempat menyandera pengunjung sebuah pusat perbelanjaan.

Potret kota Kyiv (Unsplash/Viktor Talashuk)

Kejadian yang berlangsung pada hari Sabtu ini menjadi alarm keras bagi keamanan publik di tengah situasi negara yang sedang bergejolak.

Otoritas keamanan mengonfirmasi belasan korban lainnya mengalami luka-luka serius akibat serangan tanpa peringatan tersebut.

Jaksa Agung Ukraina Ruslan Kravchenko mengungkapkan bahwa pelaku merupakan seorang pria berusia 58 tahun yang memiliki latar belakang kelahiran Moskow.

Penyerangan bermula saat pelaku melepaskan tembakan membabi buta di jalanan sebelum akhirnya melarikan diri ke dalam supermarket Velmart.

Di lokasi tersebut, pelaku kembali menghabisi nyawa satu orang lainnya dan menjadikan pengunjung sebagai tameng hidup.

"Dia bertindak secara kacau. Dia mendekati setiap orang... dia hanya menembak orang dari jarak dekat," ungkap Menteri Dalam Negeri Ukraina Ihor Klymenko.

Baca Juga: Fakta Mengerikan Penembakan 8 Anak di AS: Pelaku Eks Tentara, 7 Korban Anak Kandung Tersangka

Berdasarkan laporan pemeriksaan awal, senjata otomatis yang digunakan oleh pelaku ternyata merupakan senjata api yang terdaftar secara resmi.

Dampak Memilukan Bagi Warga Sipil

Di antara para korban yang sedang berjuang di rumah sakit, terdapat seorang anak laki-laki kelahiran 2015 yang menderita luka tembak.

Keluarga bocah tersebut hancur seketika setelah sang ayah dan bibinya tewas di lokasi kejadian, sementara ibunya dalam kondisi kritis.

Walikota Kyiv Vitali Klitschko melaporkan bahwa sembilan orang sedang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat luka peluru.

Enam warga lainnya yang berada di lokasi kejadian juga harus mendapatkan tindakan medis darurat dari tim paramedis lapangan.

Situasi mencekam ini sempat membuat komunikasi dengan pelaku buntu karena pria tersebut menolak untuk berinteraksi dengan negosiator.

Petugas negosiator polisi menyatakan bahwa pelaku sama sekali tidak memberikan respons atau tuntutan apa pun selama pengepungan berlangsung.

Setelah 40 menit tanpa kepastian, unit respons cepat dari Kepolisian Nasional meluncurkan serangan taktis untuk melumpuhkan ancaman tersebut.

Kontak tembak tidak terhindarkan ketika pelaku mencoba melawan petugas saat akan ditangkap di dalam area perbelanjaan.

"Setiap detail harus diperiksa, penyelidik sedang bekerja dengan beberapa teori," tegas Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menanggapi perkembangan kasus ini.

Zelensky juga mengonfirmasi bahwa empat orang yang sempat disandera di dalam toko berhasil diselamatkan tanpa luka tambahan.

Evaluasi Kinerja Aparat Penegak Hukum

Selain fokus pada pengejaran motif pelaku, internal kepolisian Ukraina kini menghadapi sorotan tajam terkait perilaku personel di lapangan.

Sebuah rekaman video yang beredar memperlihatkan sejumlah petugas justru melarikan diri dari lokasi saat suara tembakan pertama kali terdengar.

Ivan Vyhivskyi selaku Kepala Kepolisian Nasional Ukraina langsung menginstruksikan pemeriksaan menyeluruh terhadap perilaku tidak terpuji para anggotanya.

Ketegasan diambil dengan menonaktifkan sementara para petugas yang terlibat sambil menunggu hasil investigasi internal selesai dilakukan.

Gema kegagalan prosedur ini membuat Yevhen Zhukov, kepala polisi patroli Kyiv, memilih untuk melepaskan jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Penembakan massal merupakan peristiwa yang sangat langka di Ukraina meskipun kepemilikan senjata api di kalangan warga cukup tinggi.

Pelaku diketahui pernah tinggal lama di wilayah Donetsk dan memiliki rekam jejak kriminal di masa lalunya sebelum beraksi di Kyiv.

Keanehan muncul saat apartemen tempat tinggal resmi pelaku dilaporkan terbakar hampir bersamaan dengan waktu dimulainya serangan di jalanan.

Sejarah mencatat bahwa sejak kemerdekaannya, Ukraina sangat jarang menghadapi insiden kekerasan sipil berskala besar seperti yang terjadi akhir pekan ini.

Kasus ini menjadi ujian bagi stabilitas domestik Kyiv di saat fokus nasional sedang terbagi pada konflik pertahanan negara yang lebih besar.

Load More