News / Nasional
Kamis, 23 April 2026 | 12:32 WIB
Tangis Pak Azis pecah saat menerima motor dari lembaga sosial Gerakan Bareng. (Instagram)
Baca 10 detik
  • Guru honorer Abdul Azis menerima bantuan motor dari relawan di Jakarta Utara pada 22 April 2026.
  • Bantuan diberikan setelah kisah perjuangan Azis bersepeda sejauh sepuluh kilometer setiap hari menjadi viral media sosial.
  • Azis mendesak pemerintah segera meningkatkan kesejahteraan guru honorer melalui kebijakan sertifikasi dan pengangkatan status menjadi ASN PPPK.

Suara.com - Dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan Abdul Azis (45), seorang guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, akhirnya berbuah manis. Setelah kisah perjuangannya viral di media sosial, ia mendapat bantuan satu unit sepeda motor matik untuk menunjang mobilitasnya sebagai tenaga pendidik.

Motor tersebut diberikan oleh seorang relawan yang tergerak melihat kegigihan Azis dalam mengabdi. Penyerahan bantuan berlangsung pada Rabu (22/4/2026) dan disambut suasana haru di halaman sekolah.

Azis bahkan diminta langsung mencoba motor barunya di hadapan para siswa yang bersorak gembira. Momen itu menjadi simbol kebahagiaan yang selama ini terasa jauh dari kesehariannya.

Sambil menahan tangis, Azis mengungkapkan rasa syukurnya setelah berbulan-bulan harus berjuang dengan keterbatasan transportasi.

“Alhamdulillah, senang banget. Sekian lama, hampir kurang lebih enam bulan gowes, akhirnya ada yang baik memberikan motor. Saya benar-benar terharu,” ujar Azis, Kamis (23/4/2026).

Berikut sejumlah fakta di balik perjuangan Azis sebagai guru honorer:

1. Mengabdi Lintas Wilayah Jakarta

Azis tinggal di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, namun mengajar di Penjaringan, Jakarta Utara. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 5 kilometer sekali jalan, atau total 10 kilometer pulang-pergi.

2. Kehilangan Motor Sejak Akhir 2025

Baca Juga: Viral Tren Makan Tanah Liat, Pakar Kesehatan Beri Peringatan Keras

Sebelumnya, Azis mengandalkan motor pemberian pamannya. Namun, kendaraan tersebut hilang dicuri pada Desember 2025. Sejak saat itu, ia menggunakan sepeda lipat milik saudaranya untuk tetap bisa mengajar.

3. Melintasi Jalur Berisiko Tinggi

Perjalanan Azis tidak mudah. Ia harus melintasi jalur pesisir yang dipadati truk kontainer, penuh polusi, serta memiliki medan menanjak. Ia bahkan harus menuntun sepeda di beberapa titik agar tetap bisa sampai tepat waktu.

4. Membonceng Anak ke Sekolah

Tak hanya berjuang sendiri, Azis juga membonceng putri sulungnya yang duduk di kelas 3 SD menuju sekolah yang sama. Kekhawatiran akan polusi dan risiko kecelakaan menjadi bagian dari rutinitas yang tak terhindarkan.

5. Penghasilan Terbatas, Tetap Bertahan

Load More