Suara.com - Ketegangan geopolitik di Eropa Timur tak hanya berdampak politik, tetapi juga berpotensi memicu krisis lingkungan global. Bahkan dalam skenario konflik nuklir skala kecil, dampaknya bisa berupa gangguan iklim serius yang berlangsung bertahun-tahun dan dirasakan lintas negara.
Dilansir dari Phys.org, studi terbaru dalam jurnal npj Clean Air mensimulasikan konsekuensi lingkungan dari konflik nuklir regional hipotetis di perbatasan Ukraina–Rusia.
Penelitian oleh tim University of Exeter ini menggunakan UK Earth System Model untuk mengukur potensi dampak iklim dan paparan radiologis yang dapat terjadi.
Dampak Iklim dan Perubahan Suhu
Dalam simulasi ini, para peneliti memodelkan penyebaran karbon hitam yang dihasilkan setelah ledakan nuklir. Hasilnya menunjukkan bahwa partikel karbon hitam akan menyebar ke atmosfer, menghalangi sinar matahari, dan mempengaruhi iklim di Belahan Bumi Utara.
Pada tahun pertama pascakonflik, rata-rata suhu di Belahan Bumi Utara diprediksi turun mendingin sebesar 1°C. Penurunan suhu yang lebih signifikan diperkirakan terjadi di wilayah regional tertentu, yakni sebesar 5°C di Rusia dan 4°C di Amerika Serikat.
Selain suhu, model ini juga menunjukkan penurunan curah hujan yang substansial di wilayah pertanian utama pada lintang tengah. Hal ini disebabkan karena sinar matahari yang turun tidak maksimal mencapai permukaan bumi.
Penelitian ini menemukan bahwa gangguan iklim yang dihasilkan tidak berlangsung secara singkat. Berdasarkan model, dampak tersebut diproyeksikan bertahan selama kurang lebih enam tahun.
Pemanasan di lapisan stratosfer, yang disebabkan oleh keberadaan partikel karbon hitam bekas nuklir, dapat memicu perubahan pola sirkulasi atmosfer utama. Hal ini berdampak pada perubahan pola arus jet dan Zona Konvergensi Intertropis, yang juga dapat memengaruhi sistem cuaca global.
Baca Juga: Indonesia Hasilkan 1,9 Juta Ton E-Waste: Mengapa Pengelolaannya Tertinggal?
Penyebaran Material Radioaktif Global
Selain dampak iklim, studi ini juga meneliti distribusi jangka panjang material radioaktif yang melekat pada partikel karbon hitam. Temuan menunjukkan bahwa radionuklida yang umurnya panjang dapat diangkut melintasi batas geografis secara global.
Data simulasi memperkirakan bahwa sekitar 40 persen dari material tersebut akan mengendap di Belahan Bumi Selatan. Ini mengindikasikan bahwa dampak dari konflik nuklir regional dapat meluas ke wilayah yang jauh dari zona ledakan hingga menjadi masalah kemanusiaan dan lingkungan global.
Penulis utama sekaligus post-doctoral research fellow at the University of Exeter, Dr. Ananth Ranjithkumar, menyatakan bahwa simulasi menunjukkan dampak konflik regional dapat meluas menjadi krisis global.
“Simulasi kami menunjukkan bahwa dampaknya dapat bergema di seluruh planet selama bertahun-tahun, mengganggu sistem iklim dan menyebarkan dampak radioaktif jauh melampaui zona ledakan, mengubah perang regional menjadi krisis global," katanya.
Salah satu penulis, Profesor Jim Haywood juga menekankan relevansi studi ini dengan kebijakan keamanan internasional, khususnya mengenai New Strategic Arms Reduction Treaty yang berakhir pada 5 Februari 2026 perlu segera diperpanjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
- Tak Terima Dideportasi, WNA Cina di Sumsel Bongkar Dugaan Kejanggalan Proses Imigrasi
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- 5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Mengapa Parpol Melawan Usul KPK Soal Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum?
-
Kebakaran Sampah 2 Hari di Kelapa Gading, DLH DKI Ungkap Dugaan Pemicunya
-
Prabowo Panggil Kapolri ke Hambalang, Bahas Keamanan Nasional hingga Hilirisasi di 13 Lokasi
-
Purbaya Buka Suara Soal Pajaki Selat Malaka: Tak Ada Rencana Kutip Tarif
-
Hadapi El Nino 2026, Pemerintah Ungkap Strategi Cegah Karhutla
-
Muhammadiyah Gandeng BPJS Ketenagakerjaan: Dosen Muda Bisa Dapat Akses Rumah hingga Pelatihan Kerja
-
Istri dan 2 Anak Bandar Narkoba Koko Erwin Tiba di Bareskrim, Terjerat Kasus Pencucian Uang
-
Dari Banner ke Influencer: Cara Baru Industri Rokok Menjangkau Anak Jadi Target Pasar
-
Periksa Saksi, KPK Bongkar Modus Surat Pernyataan Jadi Alat Pemerasan Bupati Tulungagung
-
KPK Cegah 2 Tersangka Baru dalam Korupsi Kuota Haji Bepergian ke Luar Negeri