-
Piala Dunia 2026 diprediksi memicu lonjakan kasus kecanduan judi bola secara signifikan.
-
Pecandu sering kali kehilangan seluruh gaji dan terjerumus tindakan kriminal demi taruhan.
-
Pemulihan membutuhkan pengelolaan uang oleh keluarga dan menghindari pemicu siaran langsung pertandingan.
Langkah pertama menuju kesembuhan adalah pengakuan atas kegagalan diri dan penyerahan kontrol finansial kepada orang kepercayaan.
Peter kini tidak lagi menonton pertandingan secara langsung demi menghindari pemicu psikologis yang bisa membuatnya kambuh.
"Begitu saya menonton pertandingan langsung, hampir seketika saya akan berpikir, 'Berapa peluangnya? Siapa favoritnya? Berapa banyak gol yang akan tercipta? Berapa banyak gol di babak pertama'," ungkap Peter secara jujur.
Ia kini mempercayakan seluruh pendapatannya kepada sang istri untuk dikelola guna menutup celah keinginan berjudi.
Menghindari lingkaran pertemanan lama yang masih aktif bertaruh menjadi harga mati yang harus dibayar demi ketenangan hidup.
Dukungan keluarga tanpa penghakiman moral terbukti lebih efektif daripada konfrontasi keras yang justru memicu perilaku sembunyi-sembunyi.
"Percakapan yang dibingkai di sekitar kekhawatiran, 'Saya perhatikan kamu tampak stres belakangan ini, saya khawatir tentang kamu', membuka pintu. Konfrontasi yang dibingkai di sekitar kegagalan moral akan menutupnya dan mendorong perilaku tersebut ke bawah tanah," jelas Dr. Lim.
Penting bagi keluarga untuk menetapkan batasan tegas dengan tidak melunasi utang judi pelaku agar siklus kecanduan terputus.
Pemulihan adalah proses panjang yang melibatkan penanganan rasa bersalah, malu, dan gejala penarikan diri yang menyakitkan secara emosional.
Baca Juga: Pengamat Ingatkan Risiko Selat Malaka Jadi Arena Konflik, ASEAN Diminta Bertindak Cepat
Peter membuktikan bahwa dengan disiplin ketat dan bantuan komunitas, seseorang bisa lepas dari bayang-bayang kegelapan taruhan masa lalu.
Kasus ini mencuat seiring persiapan penyedia layanan konseling menghadapi lonjakan kecanduan judi menjelang turnamen besar FIFA.
Pengalaman Peter, yang dipecat karena mencuri dana perusahaan demi menutupi utang judi sepak bola, menjadi pengingat keras akan risiko kriminalitas akibat adiksi.
Di Singapura dan banyak negara, platform taruhan online ilegal semakin gencar mempromosikan diri melalui pengaruh media sosial, yang menuntut edukasi publik dan regulasi yang lebih ketat dari pemerintah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Aksi Bersih & Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya
-
Bukan Ancaman, Anis Matta Sebut Demo Justru 'Picu' Pemerintah Kerja Lebih Baik
-
Massa Bertahan di Gejayan Meski Aksi Selesai, Bunyi Klakson - Seruan Turunkan Prabowo Terus Menggema
-
Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
-
Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis
-
Benarkah Jokowi Segera Jadi Ketua Dewan Pembina? PSI Kasih 'Kode Keras' Begini
-
Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!
-
Mirip-mirip One Piece, Wibu Jogja Sebut Penguasa Saat Ini Menindas Rakyat Kecil