- ITDP Indonesia menggelar diskusi di Jakarta pada 27 April 2026 mengenai urgensi transportasi publik sebagai layanan dasar wajib.
- Ketiadaan mandat hukum yang kuat menyebabkan anggaran transportasi daerah sering kalah prioritas dibandingkan sektor pendidikan dan kesehatan.
- Lemahnya koordinasi antarwilayah serta keterbatasan pembiayaan teknis menjadi hambatan utama dalam menciptakan sistem transportasi publik yang inklusif.
Suara.com - Transportasi publik di Indonesia hingga kini belum sepenuhnya diposisikan sebagai layanan dasar yang wajib disediakan pemerintah daerah. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama belum meratanya kualitas dan ketersediaan angkutan umum di berbagai kota.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia pada 27 April 2026 di Jakarta.
Diskusi ini mempertemukan lebih dari 40 pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator transportasi, hingga organisasi masyarakat sipil.
Deputy Director ITDP Indonesia, Deliani Siregar, mengatakan ketiadaan mandat hukum yang kuat membuat transportasi publik kerap tidak menjadi prioritas dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
“Penguatan mandat ini penting agar transportasi publik dapat direncanakan dan didanai secara lebih konsisten, tidak hanya bergantung pada prioritas jangka pendek, tetapi sebagai bagian dari layanan yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Deliani.
Berbeda dengan sektor pendidikan dan kesehatan yang sudah masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM), layanan transportasi publik—terutama berbasis bus kota—belum memiliki kewajiban serupa. Akibatnya, anggaran transportasi sering kalah bersaing dengan sektor lain dalam pembahasan anggaran daerah.
Kondisi ini bahkan berdampak langsung pada masyarakat. Dalam salah satu kasus di Bali, terhentinya layanan transportasi publik membuat sejumlah pelajar terpaksa pindah sekolah karena tidak mampu menanggung biaya transportasi yang meningkat.
“Tanpa mandat yang jelas, transportasi publik akan selalu berada dalam posisi yang kurang prioritas, padahal perannya sangat penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan produktivitas kota,” kata Deliani.
Selain isu mandat, FGD juga menyoroti lemahnya koordinasi antarwilayah dalam pengelolaan transportasi, khususnya di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek. Perluasan layanan kerap terhambat oleh perbedaan kewenangan, pembiayaan, hingga belum jelasnya otoritas koordinasi.
Baca Juga: Harga BBM Terancam Melejit, Komisi V DPR Desak Pemerintah Stop WFH dan Revolusi Transportasi Publik!
Di sisi lain, implementasi konsep Transit-Oriented Development (TOD) juga dinilai belum optimal. Meski telah masuk dalam dokumen perencanaan, pelaksanaannya di lapangan masih tidak konsisten dan berpotensi memicu gentrifikasi jika tidak diiringi kebijakan hunian yang inklusif.
Tantangan pembiayaan turut menjadi perhatian. Banyak daerah di luar Jakarta masih terbatas dalam anggaran dan kapasitas teknis untuk mengakses skema pembiayaan alternatif seperti green financing atau Land Value Capture (LVC).
ITDP menilai, tanpa perubahan kebijakan yang menempatkan transportasi publik sebagai layanan dasar, upaya menghadirkan sistem transportasi yang andal, inklusif, dan berkelanjutan akan sulit tercapai.
“Ke depan, transportasi publik perlu diposisikan sebagai fondasi utama mobilitas perkotaan. Dengan kerangka kebijakan yang lebih kuat dan kolaborasi lintas sektor, kita dapat memastikan sistem transportasi yang lebih andal, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tutup Deliani.
Hasil diskusi ini akan menjadi masukan bagi agenda kebijakan pemerintah sepanjang 2026, termasuk dalam mendorong regulasi yang memberikan mandat lebih kuat bagi penyelenggaraan transportasi publik di tingkat daerah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Dunia Harus Tahu! 8 Juta Warga Sudan Terancam Kelaparan, 700 Ribu Anak di Ambang Maut
-
Stasiun Bekasi Timur Dibuka Lagi, KAI Pastikan Asepek Keselematan Sudah Terpenuhi
-
Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa
-
Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?
-
Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah
-
Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh
-
Lasarus PDIP: Pintu Kereta Api Jadi Akar Masalah, Harus Diurus Pemerintah Pusat
-
Analis Bongkar Misi Reshuffle Prabowo Hapus Bayang-bayang Jokowi dan Jadikan Dudung 'The New Luhut'
-
Polisi Gandeng KNKT Usut Kecelakaan Maut KRL Bekasi: Human Error atau Gagal Sistem?
-
Vietnam Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL di Bekasi, Presiden To Lam Kirim Pesan ke Prabowo