- LPSK menduga jumlah korban kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta melampaui data kepolisian sebanyak 53 dari 103 anak.
- Praktik kekerasan di daycare tersebut berlangsung selama bertahun-tahun dan berdampak buruk pada kondisi fisik serta psikologis anak.
- LPSK berkolaborasi dengan UPTD PPA Yogyakarta untuk mendata korban serta memberikan pendampingan medis dan psikis yang dibutuhkan.
Suara.com - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mensinyalir jumlah anak yang menjadi korban kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta berpotensi jauh lebih besar dari data yang terlacak saat ini.
Hal itu berdasar pada temuan bahwa praktik kekerasan di yayasan tersebut diduga kuat sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama.
Adapun berdasarkan data kepolisian, tercatat ada sebanyak 53 anak yang telah terkonfirmasi mengalami tindakan kekerasan fisik secara langsung. Sementara ada total 103 siswa yang dititipkan pada lembaga tersebut.
Wakil Ketua LPSK RI, Sri Suparyati, menyatakan angka tersebut masih sangat dinamis.
Saat ini pihaknya terus melakukan pendataan untuk melihat seberapa luas dampak masif yang dialami oleh keluarga-keluarga lain yang pernah menitipkan anak mereka di sana.
"Kalau dari tadi yang sudah dikumpulkan bisa saja menambah dari 53, tapi kami belum mendapatkan angka yang lebih pasti ya. Tadi kami melihat ada sekitar 103 gitu ya, tetapi itupun juga kami masih mendata lebih jauh gitu dan apa dampak dan sebagainya," kata Sri ditemui di Kantor Perwakilan LPSK DIY, Rabu (29/4/2026).
Potensi pertambahan korban ini terdeteksi setelah LPSK menggali keterangan dari 10 orang tua korban. Adapun beberapa korban kini sudah duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).
Mereka disebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di daycare tersebut. Jauh sebelum kasus ini mencuat melalui penggerebekan kepolisian beberapa waktu lalu.
Fakta ini mengungkap bahwa korban bukan hanya bayi-bayi yang ditemukan dalam kondisi terikat saat penggerebekan, melainkan juga alumni daycare yang kini mulai menunjukkan trauma masa lalu.
Baca Juga: Relokasi Korban Little Aresha, Pemkot Jogja Gratiskan Biaya Daycare 3 Bulan
LPSK melihat adanya pola kekerasan yang terstruktur dan berlangsung selama masa pertumbuhan anak di instansi tersebut.
"Dari sepuluh korban itu kami melihat bahwa sebenarnya tindakan kekerasannya itu bukan saja kepada bayi-bayi balita, tetapi kami melihat sebenarnya itu sudah terjadi jauh sebelumnya sebelum yang kemarin dilakukan penggerebekan," ungkapnya.
"Karena dari beberapa keterangan diketahui bahwa mereka-mereka, anak-anak yang saat ini berada di level TK itu sebenarnya dahulunya juga mereka berada di daycare tersebut dalam waktu yang cukup lama, sekitar tiga tahun," imbuhnya.
Sri memaparkan bahwa dampak masif ini terlihat dari perubahan perilaku dan kondisi fisik anak yang baru disadari orang tua setelah sekian lama.
Indikasi kemunduran psikologis hingga dugaan stunting menjadi bukti nyata bahwa ada banyak korban "tak terlihat" yang perlu segera mendapatkan intervensi medis dan psikis.
"Si anak ketika sebelum masuk ke dalam daycare dia bisa menghafalkan tahfizh cukup baik tetapi ketika sudah di sana tiga bulan ternyata dia tidak bisa hafal sama sekali dan dia sudah tidak mau berkeinginan untuk menghafal itu," tuturnya.
Berita Terkait
-
UPT PPA Yogyakarta Beri Pendampingan Psikologis Anak dan Orang Tua Korban Little Aresha
-
Pemkot Yogyakarta Fasilitasi 37 TPA Pengganti Gratis bagi Anak Korban Little Aresha, Cek Daftarnya!
-
Relokasi Korban Little Aresha, Pemkot Jogja Gratiskan Biaya Daycare 3 Bulan
-
Kronologi Lengkap Kasus Kekerasan pada Anak di Daycare Little Aresha Sorosutan
-
TIDAR Desak Pembenahan Sistem Daycare Nasional Usai Kasus di Yogyakarta
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Solidaritas Sumut dan Sumbar Hibahkan Rp287 Miliar untuk Pemulihan Aceh
-
Selesaikan Masalah Perkotaan, Wamendagri Bima Dorong Aglomerasi Berbasis Sektoral
-
Dari Kritik ke Tawa: Kehadiran Rocky Gerung di Istana jadi Strategi Prabowo Akhiri Era Oposisi?
-
Cekcok Saat Main Bola, Dua Pemuda Cengkareng Nekat Siram Air Keras Hingga Masuk Sel
-
Peneliti Soroti Kebijakan Menhan Soal Militer Asing di Langit RI, Minta DPR Perketat Pengawasan
-
Jelang May Day KSPSI Bocorkan Permenaker Outsourcing, Bakal Lebih Ketat?
-
Selamat Ginting Nilai Prabowo Masih Konsolidasi Hadapi Pengaruh Jokowi
-
Kemenhan Bahas Akses Langit RI, Connie Bakrie: Harga Diri Bangsa Lebih Mahal dari Bantuan Keamanan
-
Sadis dan Terencana: 7 Fakta Pengeroyokan Pelajar di Bantul, Motif Geng hingga Ancaman Hukuman Mati
-
Kisah Haru Evakuasi Kecelakaan KRL Bekasi, Suami Temani Istri Terjepit 10 Jam Sambil Ngelus Pundak