News / Nasional
Jum'at, 01 Mei 2026 | 16:00 WIB
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI. [Suara.com/Dea]
Baca 10 detik
  • Konsorsium Pembaruan Agraria memilih unjuk rasa di depan Gedung DPR RI daripada menghadiri acara May Day di Monas.
  • Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas belum terselesaikannya persoalan buruh, petani, nelayan, dan aktivis perempuan nasional.
  • Pemerintah dinilai masih represif terhadap petani dan masyarakat adat di berbagai daerah dalam konflik sengketa lahan tanah.

Suara.com - Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mengungkapkan alasan tidak bergabung dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas bersama Presiden Prabowo Subianto.

Sekretaris Jenderal KPA, Dewi Kartika, menyampaikan bahwa pihaknya lebih memilih untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI dan menyampaikan kritik.

Ia menegaskan bahwa persoalan buruh, petani, nelayan, dan pekerja perempuan belum terselesaikan oleh pemerintah sehingga KPA tidak mengikuti May Day Fiesta di Monas.

“Untuk itulah, May Day kali ini, bersama gerakan rakyat, Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK), KPA bersama serikat petani memilih untuk tetap turun ke jalan memperingati Hari Buruh Internasional,” kata Dewi di atas mobil komando, Jumat (1/5/2026).

Menurut dia, saat ini masih banyak petani yang mengalami tindakan represif saat mempertahankan tanahnya, nelayan yang dirugikan, serta aktivis pejuang hak tanah yang ditangkap.

“Jika kami menghitung sejak 24 September 2025, ketika kami turun ke jalan memperingati Hari Tani Nasional, hingga May Day hari ini, tercatat sudah 22 orang petani dan masyarakat adat yang ditembak karena mempertahankan tanahnya,” tutur Dewi.

Ia menyebut petani dan masyarakat adat di Bengkulu Selatan, Jambi, Wadas, dan Bandung mengalami penembakan karena pendekatan pemerintah dinilai masih represif, disertai intimidasi oleh aparat keamanan.

“Sudah 272 petani bersama masyarakat adat mengalami kekerasan fisik karena memperjuangkan hak atas tanahnya dan sudah 450 petani bersama masyarakat adat ditangkap karena mempertahankan kampung dan tanahnya, kawan-kawan semuanya,” ungkap Dewi.

“Oleh karena itu, di May Day tahun ini, kita menyatakan tetap melawan kapitalisme,” tandasnya.

Baca Juga: Aksi May Day di Monas 'Banjir' Sembako dari Istana

Load More