News / Nasional
Minggu, 03 Mei 2026 | 10:15 WIB
Ilustrasi pendidikan di daerah terpencil. [google ai studio]
Baca 10 detik
  • Anggota DPR RI Saadiah Uluputty menyoroti ketimpangan kualitas pendidikan serta fasilitas di wilayah kepulauan pada peringatan Hardiknas tahun 2026.
  • Pemerintah didesak segera memeratakan akses pendidikan berkualitas guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di daerah pelosok Indonesia tersebut.
  • Seluruh tenaga pendidik dan siswa harus meningkatkan keterampilan teknologi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta kecerdasan buatan.

Suara.com - Momen Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi ajang refleksi kritis bagi parlemen terkait masih adanya jurang pemisah dalam kualitas pendidikan di Indonesia.

Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, memberikan sorotan tajam terhadap ketimpangan pendidikan yang masih menghantui daerah kepulauan.

Ia menegaskan, bahwa momentum Hardiknas tahun ini harus menjadi pijakan serius bagi pemerintah untuk memeratakan kualitas pendidikan, terutama di wilayah kepulauan seperti Maluku.

Menurutnya, anak-anak di pulau-pulau kecil masih berjuang dengan tantangan besar, mulai dari keterbatasan jumlah guru hingga fasilitas belajar yang belum memadai.

Legislator asal daerah pemilihan Maluku ini juga mengaitkan esensi pendidikan dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat, berkaca pada peringatan Hari Buruh yang jatuh sehari sebelumnya.

“Kemarin kita juga memperingati Hari Buruh 1 Mei. Ini menjadi refleksi penting bahwa pendidikan memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Saadiah kepada wartawan, Sabtu (2/5/2026).

Ia menambahkan bahwa semangat para orang tua di daerah pelosok untuk menyekolahkan anak-anak mereka harus dijawab dengan jaminan kualitas pendidikan yang mumpuni oleh negara.

“Banyak orang tua bekerja keras sebagai nelayan, petani, pedagang kecil, buruh pelabuhan, dan pekerja lainnya demi memastikan anak-anak mereka tetap bisa sekolah. Karena itu, pendidikan harus menjadi jembatan yang mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda,” jelasnya.

Saadiah menekankan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas adalah hak setiap anak Indonesia tanpa terkecuali.

Baca Juga: Tiga Gagasan Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang Dipertanyakan Penerapannya

Selain masalah fasilitas fisik, ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kian masif.

Ia mendorong seluruh elemen, mulai dari siswa hingga tenaga pendidik, untuk terus memperbarui kemampuan mereka agar tidak tergilas oleh perkembangan zaman.

"Generasi muda harus terus meningkatkan kemampuan, kreativitas, dan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” ucapnya.

“Begitu pula para orang tua, guru, dan masyarakat perlu terus membuka diri terhadap perkembangan teknologi agar tidak tertinggal,” sambungnya.

Bagi Saadiah, pendidikan bukan sekadar proses belajar mengajar di kelas, melainkan fondasi utama untuk menjawab tantangan masa depan sekaligus solusi konkret dalam memperkecil kesenjangan sosial di tengah masyarakat Indonesia.

Load More