- Polda Jawa Tengah berhasil menangkap Ashari, pengasuh pesantren di Pati, atas dugaan rudapaksa terhadap puluhan santriwati di Wonogiri, Kamis (7/5/2026).
- Eva Monalisa mendesak kepolisian untuk melakukan proses hukum transparan, menghukum pelaku secara maksimal, serta menyelidiki pihak lain yang terlibat.
- Negara diminta memberikan perlindungan dan pemulihan trauma kepada korban, serta mengevaluasi sistem pengawasan di seluruh lembaga pendidikan berbasis asrama.
Suara.com - Anggota DPR RI dari Fraksi PKB asal Pati, Jawa Tengah, Eva Monalisa, memberikan apresiasi atas keberhasilan Polda Jawa Tengah meringkus Ashari, pengasuh sebuah pesantren di Pati yang diduga merudapaksa puluhan santriwatinya.
Tersangka ditangkap tim kepolisian di Wonogiri pada Kamis (7/5/2026).
Meski mengapresiasi penangkapan tersebut, Eva menegaskan bahwa ini hanyalah langkah awal dari proses keadilan yang panjang. Ia meminta agar proses hukum berjalan terbuka dan memberikan hukuman maksimal bagi pelaku.
"Kami mengapresiasi penangkapan tersangka. Namun, kasus ini tidak boleh berhenti di sini. Proses hukum harus dikawal hingga tuntas, pelaku dihukum seberat-beratnya, dan yang terpenting, keberpihakan hukum harus nyata kepada para korban,” ujar Eva Monalisa di Jakarta, dikutip Jumat (8/5/2026).
Eva menekankan bahwa transparansi dalam penyidikan sangat krusial agar seluruh praktik kejahatan di lingkungan pesantren tersebut dapat terbongkar secara menyeluruh. Menurutnya, kepolisian tidak boleh memberikan ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan seksual.
"Penyelidikan mendalam dan transparan sangat krusial memastikan keadilan bagi para korban,” tegasnya.
Lebih lanjut, legislator PKB ini meminta pihak kepolisian tidak hanya fokus pada tersangka utama.
Ia mendesak agar dilakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya pihak-pihak lain yang mengetahui namun membiarkan kejahatan ini berlangsung dalam kurun waktu lama.
"Kepolisian harus mendalami apakah ada pihak lain yang mengetahui atau sengaja membiarkan kejahatan ini berlangsung. Jika ada, mereka harus dimintai pertanggungjawaban hukum. Jangan ada celah bagi siapa pun yang melindungi predator seksual,” ungkapnya.
Baca Juga: Siasat Licin Kiai AS Hindari Polisi, Kabur ke Wonogiri Naik Travel Demi Tak Terlacak
Selain aspek hukum, Eva menyoroti pentingnya kehadiran negara dalam pemulihan trauma para korban. Ia meminta adanya jaminan perlindungan agar para santriwati yang menjadi korban tidak mendapatkan intimidasi atau tekanan tambahan setelah berani bersuara.
"Negara harus hadir memberikan perlindungan maksimal dan jaminan pemulihan. Jangan sampai korban mengalami tekanan psikologis tambahan setelah berani bersuara,” tambahnya.
Lebih lanjut, Eva menyatakan bahwa kasus tragis ini harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran terhadap sistem pengawasan di lembaga pendidikan berbasis asrama.
Ia mendorong terciptanya mekanisme pelaporan yang independen dan aman untuk mencegah penyalahgunaan relasi kuasa oleh oknum pengajar atau pengasuh di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Ambil Sampel Cari Penyebab Kematian, Polisi Bongkar Makam Sutrimo di Banyumas
-
Timnas Indonesia Bakal Turun dengan Kekuatan Penuh di FIFA ASEAN Cup, Negara Tetangga Was-was
-
2 Pilihan Kulkas Mini Polytron 50 Liter, Hemat Listrik dan Pas untuk Ruang Sempit
-
Hibah Rp800 Juta untuk DWP Tangsel Disorot, Dasar Hukum Pencairan Anggaran Dipertanyakan
-
The First Responders Season 2 dan Pertarungan Otak Melawan Dalang Kejahatan
-
12 Hari Hilang, Perempuan di Tasikmalaya Ditemukan Tewas dalam Sumur Berisi Kobra Jawa
-
BRI Perkuat Ekosistem UMKM Desa Brilian Hargobinangun Sleman
-
Dorong UMKM Tumbuh Berkelanjutan, BRI Peduli Perkuat Ekonomi Lokal Desa Brilian Hargobinangun
-
Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?
-
Megawati Geram Disebut Oposisi: Buzzer Itu Goblok, Nggak Pernah Baca!