- Pemprov DKI Jakarta mewajibkan warga memilah sampah dari rumah sejak Minggu, 10 Mei 2026, demi perbaikan pengelolaan lingkungan.
- Sistem pemilahan dinilai belum efektif karena lemahnya dukungan pengangkutan sampah terpadu serta minimnya pembinaan dari pihak pemerintah.
- Pengamat menyarankan penyediaan kantong sampah berwarna dan keterlibatan aktif petugas lapangan untuk mendukung keberhasilan program pemilahan tersebut.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai mewajibkan warga untuk memilah sampah dari rumah per Minggu (10/5/2026) kemarin.
Namun, sistem pemilahan sampah di Jakarta dinilai belum efektif karena pengangkutan dan pembinaan dari Pemprov DKI dinilai masih jauh dari memadai.
Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, menyebut ada rasa frustrasi yang sudah lama dirasakan masyarakat ketika mereka sudah bersusah payah memilah sampah dari rumah, namun sistem di lapangan tidak mendukung.
"Yang menjadi rasa frustasi masyarakat selama ini adalah kalau masyarakat sudah memilah, kemudian pengumpulannya bagaimana," ujar Yayat, Senin (11/5/2026).
Pemilahan sampah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan sistem pengangkutan yang juga sudah dipisah berdasarkan jenis sampah, termasuk pengaturan hari dan waktu pengambilan.
Yayat juga menyoroti lemahnya tindak lanjut terhadap program yang sudah ada, seperti bank sampah, yang seharusnya menjadi tulang punggung pengelolaan sampah anorganik di tingkat warga.
"Kita udah punya dulu untuk yang anorganik itu, misalnya ada bank sampah. Tapi juga nggak terdengar tuh, kemajuan yang progresif gitu," sorotnya.
Yayat menyebut pola yang berulang dalam kebijakan lingkungan di Jakarta, di mana pemerintah lebih senang merancang aturan dibanding turun tangan melakukan pembinaan kepada masyarakat.
"Jadi kita kadang-kadang semuanya tuh hanya puas pada saat membuat aturan. Tapi bagaimana mensosialisasikan aksinya, bahkan menginternalisasi menjadi suatu kebiasaan baru juga harus dilakukan," tuturnya.
Baca Juga: DPRD DKI Sentil Kantor Pemerintah soal Pilah Sampah: Jangan Cuma Gencar Kampanye
Sebagai solusi konkret, Yayat mengusulkan agar pemerintah mendistribusikan kantong sampah berwarna ke seluruh wilayah sasaran, seperti kantong kuning untuk sampah plastik dan kantong hijau untuk sampah organik, sehingga pemilahan bisa dimulai dari rumah secara visual dan mudah dipahami.
"Kemudian, dari situ orang diajarkan bagaimana sampah plastik, sampah anorganik itu dikumpulkan satu tempat," jelasnya.
Yayat menegaskan bahwa gerakan ini seharusnya dimulai dari institusi pemerintah sendiri, bukan hanya diberlakukan kepada masyarakat, agar ada keteladanan yang nyata.
"Kalau misalnya kantor pemerintahnya nggak punya contoh, seakan-akan aturan itu hanya untuk masyarakat. Bukan aturan itu untuk pemerintah," katanya lagi.
Yayat tak lupa mengingatkan, seluruh upaya pemilahan dari hulu akan sia-sia apabila petugas pengangkut sampah tidak ikut dididik dan dilibatkan dalam sistem yang sama.
"Tergantung nanti tukang sampahnya. Kalau tukang sampahnya nggak dididik, capek deh," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Wali Kota Jaktim Larang Lapak Kurban di Trotoar, Nekat Bakal Ditegur dan Ditertibkan!
-
Soroti Keputusan Wasit, Mauricio Souza Murka Persija Dipermalukan Persib
-
Duel Persija vs Persib Tak Cuma Soal Skor, El Clasico Satukan Gairah Fans dan Tren Nobar
-
Faktor X yang Bikin Persija Jakarta Dipecundangi Persib Bandung di Samarinda
-
DPRD DKI Sentil Kantor Pemerintah soal Pilah Sampah: Jangan Cuma Gencar Kampanye
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Yusril Ingatkan Hakim Militer di Kasus Andrie Yunus: Jangan Sekadar Formalitas
-
Warga RT 02 Tebet Tak Lagi Buang Sampah Dapur ke TPA: Diubah Jadi Pupuk dalam Sumur Teba
-
Waspada Hantavirus, Arab Saudi Perketat Pengawasan Gerbang Masuk ke Negara
-
Wali Kota Jaktim Larang Lapak Kurban di Trotoar, Nekat Bakal Ditegur dan Ditertibkan!
-
Mengenal Teba Modern, Rahasia Warga Gudang Peluru Jadi Pionir Pilah Sampah Mandiri
-
Polisi Ungkap Kondisi 11 Bayi di Penitipan Sleman: Tiga Masih Dirawat di Rumah Sakit
-
Polemik RDF Rorotan: Benarkah Paparan Bau Sampah Bisa Ganggu Kesehatan Anak?
-
Perum Bulog Rayakan HUT ke-59 dengan Kegiatan Sosial dan Pelayanan Masyarakat
-
Menko Yusril Warning Sidang Penyiraman Air Keras Andrie Yunus: Jangan Sekadar Jadi Formalitas
-
Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores