News / Nasional
Senin, 11 Mei 2026 | 19:06 WIB
Terdakwa kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek tahun 2019-2022 Nadiem Makarim usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/1/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Nadiem menjalani sidang kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook tahun 2019-2022 yang merugikan negara sebesar Rp2,1 triliun.
  • Jaksa menduga terdapat keterkaitan antara kebijakan Permendikbud No.11/2020 dengan investasi Google untuk menguntungkan pihak tertentu dalam proyek tersebut.
  • Nadiem membantah adanya hubungan investasi Google dengan peraturan tersebut karena investasi bertujuan menghindari dilusi saham di perusahaan Gojek.

Suara.com - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, mengeklaim tidak ada hubungan antara penerbitan Permendikbud No.11/2020 dengan investasi Google kepada Gojek.

Hal itu disampaikan Nadiem dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebooks dan Chrome Device Management (CDM) yang menjeratnya sebagai terdakwa.

Dalam Permendikbud tersebut, diatur soal pengadaan laptop dengan sistem Windows.

Jaksa penuntut umum (JPU) menyebut pemilihan laptop dengan sistem Windows merupakan langkah Nadiem menyamarkan perbuatannya untuk memilih Chrome OS.

Jaksa menduga peraturan tersebut berkaitan dengan investasi Google sebesar USD 59,9 juta ke Google pada tahun yang sama.

“Dengan itu, ada motif untuk investasi itu masuk ke perusahaan saudara dalam hal ketika ya saudara memastikan bahwasanya akan menggunakan Chrome OS dalam pertemuan dengan petinggi Google tersebut," kata jaksa di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).

"Jelas tidak ada koneksi investasi Google terhadap penerbitan Permendikbud," sahut Nadiem.

Berdasarkan kesaksian pihak Google, kata Nadiem, investasi itu diberikan untuk menghindari dilusi saham di Gojek. Sebab, saat itu banyak investor lain yang juga memberikan investasi kepada Gojek.

"Sudah jelas dari kesaksian Google bahwa investasi mereka setelah saya menjadi Menteri itu hanya untuk menghindari dilusi karena banyaknya jumlah investor lain yang memasukkan uang di ronde yang sama. Jadi ini suatu hal yang sangat lazim," ujar Nadiem.

Baca Juga: Dianggap Asumtif, Audit Kerugian Negara Kasus Korupsi Chromebook Digugat Saksi Ahli

Menurut Nadiem, hal itu sudah ditegaskan dalam kesaksian mantan Presiden Google Asia Pacific Scott Beaumont dan eks Wakil Presiden Google Caesar Sengupta.

Sebelumnya, jaksa mengungkapkan Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim diduga menerima Rp 809 miliar dari kasus dugaan korupsi pada program digitalisasi pendidikan terkait pengadaan laptop Chromebook periode 2019-2022.

"Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yaitu terdakwa Nadiem Anwar Makarim sebesar Rp 809.596.125.000," kata Jaksa Roy Riady di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2025).

Jaksa menjelaskan hasil perhitungan kerugian negara Rp 2,1 triliun ini berasal dari angka kemahalan harga Chromebook sebesar Rp 1,5 triliun (Rp 1.567.888.662.716,74) dan pengadaan CDM yang tidak diperlukan dan tidak bermanfaat sebesar Rp 621 miliar (Rp 621.387.678.730,00).

Selain itu, jaksa mengungkapkan bahwa pengadaan Chromebook dan CDM ini telah memperkaya sejumlah orang lainnya dan koorporasi.

Menurut jaksa, pengadaan Chromebook dan CDM tahun anggaran 2020-2022 tidak sesuai perencanaan, prinsip pengadaan, tanpa melalui evaluasi harga dan survei sehingga laptop tersebut tidak bisa digunakan untuk proses belajar mengajar di daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan).

Load More