- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi Beijing bersama Presiden Donald Trump pada Mei 2026.
- Pemerintah China mengakali sanksi diplomatik dengan mengubah transliterasi nama Rubio menjadi Marco Lu dalam dokumen.
- Strategi ini memungkinkan China tetap menjaga martabat politiknya sambil memfasilitasi dialog tingkat tinggi dengan Amerika Serikat.
Untuk memahami mengapa Rubio menjadi sosok yang begitu kontroversial bagi Beijing, kita harus melihat kembali rekam jejaknya saat masih menjabat sebagai Senator asal Florida.
Rubio dikenal sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap kebijakan Partai Komunis China (PKC), terutama terkait isu hak asasi manusia.
Beijing telah menjatuhkan sanksi kepadanya sebanyak dua kali pada tahun 2020.
Sanksi pertama diberikan karena Rubio sangat lantang mengkritik tindakan keras China di Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang menuntut otonomi lebih besar dari kontrol ketat Beijing.
Tak berhenti di situ, Rubio yang memiliki latar belakang Kuba-Amerika dan merupakan penentang keras paham komunisme, juga mengecam keras dugaan pelanggaran HAM terhadap minoritas Muslim Uyghur di Xinjiang.
Ia merupakan salah satu promotor utama dari Uyghur Forced Labor Prevention Act, undang-undang yang mewajibkan perusahaan AS untuk membuktikan barang-barang yang diimpor dari wilayah Xinjiang tidak diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa.
Dalam pernyataan saat undang-undang tersebut disahkan pada tahun 2021, Rubio memberikan pernyataan tegas mengenai rantai pasok global yang ternoda oleh pelanggaran kemanusiaan.
“Banyak perusahaan telah mengambil langkah untuk membersihkan rantai pasokan mereka,” kata Rubio saat itu.
“Bagi mereka yang belum melakukannya, mereka tidak akan lagi bisa terus menjadikan warga Amerika. Kita semua, jujur saja, sebagai kaki tangan yang tidak sadar dalam kekejaman, dalam genosida.”
Baca Juga: Klarifikasi Resmi Timnas Irak Terkait Isu Visa Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026
Melunaknya Posisi Beijing Demi Summit
Meskipun Rubio tetap pada pendiriannya, kebutuhan akan dialog tingkat tinggi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia memaksa China untuk lebih fleksibel.
Pada Maret lalu, Kementerian Luar Negeri China telah mengisyaratkan kesediaan mereka untuk melonggarkan penerapan sanksi jika Rubio melakukan perjalanan bersama Presiden Trump untuk pertemuan puncak (summit) di Beijing.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menjelaskan pada 16 Maret bahwa sanksi tersebut pada dasarnya merupakan respons atas tindakan Rubio di masa lalu saat masih berada di lembaga legislatif.
“Sanksi China ditujukan pada ucapan dan perbuatan Rubio terkait China selama masa jabatannya di Senat Amerika Serikat,” tegas Lin Jian.
Kini, dengan status Rubio sebagai diplomat tertinggi Amerika Serikat, Beijing memilih jalur pragmatis.
Dengan "mengubah" nama sang menteri di atas kertas, China berhasil menjaga harga diri politiknya di mata domestik sambil tetap membuka pintu komunikasi dengan pemerintahan Trump.
Siasat transliterasi ini membuktikan bahwa dalam politik internasional, terkadang sebuah karakter huruf bisa memiliki bobot yang sama besarnya dengan sebuah perjanjian perdamaian.
Berita Terkait
-
Klarifikasi Resmi Timnas Irak Terkait Isu Visa Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026
-
Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita
-
Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026
-
Iran Blokir Kiriman Senjata AS di Selat Hormuz, Pendapatan Negara Diprediksi Meroket
-
Sebut AS Siap Akhiri Perang, Rusia Kasih Syarat: Pasukan Ukraina Angkat Kaki dari Donbas
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?