Bisnis / Makro
Kamis, 14 Mei 2026 | 15:58 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Antara)
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi konflik Amerika Serikat dan Iran akan berakhir pada September 2026 mendatang.
  • Konflik berkepanjangan di Selat Hormuz menyebabkan kenaikan harga minyak dunia yang memicu beban impor BBM bagi Indonesia.
  • Pemerintah memberikan subsidi mobil listrik untuk mengurangi ketergantungan impor BBM sekaligus mengoptimalkan kapasitas listrik PT PLN yang tersedia.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan perang Amerika Serikat vs Iran yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia bakal berakhir September 2026.

Menkeu Purbaya menilai kalau berakhirnya perang AS vs Iran bertepatan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) di Amerika Serikat pada November 2026, yang mana itu juga pergantian Presiden Donald Trump.

"Paling jelek itu September. Paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat," kata Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Kamis (14/5/2026).

Kendati begitu Purbaya tak menampik kalau perang AS vs Iran di Timur Tengah bakal berlangsung lebih lama. Maka dari itu Pemerintah terus melakukan penghematan imbas konflik Selat Hormuz.

"Tapi bisa aja jalan berlanjut terus, jadi kita akan monitor terus. Tapi dalam jangka beberapa bulan ke depan ini saya akan menghemat itu," lanjutnya.

Buntut konflik ini, Purbaya akhirnya sepakat memberikan subsidi mobil listrik. Ia beralasan kalau harga minyak dunia tidak akan turun dalam waktu dekat. Hal ini dia simpulkan usai melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance (DDG-111), mencegat kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut. [NY Post]

"Karena kita lihat harga minyak dunia enggak akan turun," ucapnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Kamis (14/5/2026).

Dalam pertemuan itu, Purbaya menilai kalau draf perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran tidak berimbang. Menurutnya, Iran diposisikan sebagai negara kalah perang oleh AS.

Kesepakatan AS itu dinilai Purbaya akan ditolak oleh Iran. Walhasil, perang AS vs Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz bakal berlangsung lama.

Baca Juga: Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Maka dari itu, Purbaya memutuskan insentif mobil listrik karena Indonesia bisa mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari luar negeri.

"Jadi kelihatannya itu perangnya masih panjang. Artinya, konsumsi BBM kita juga kan masih tinggi, dan dengan harga yang lebih tinggi. Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan, kan," paparnya.

Faktor lain, Purbaya menyebut kalau pasokan listrik yang dimiliki PT PLN (Persero) masih banyak yang tidak dipakai. Padahal selama ini Pemerintah membayar penuh pasokan listrik.

"Itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70 persen, masih ada 30 persen listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai. Kalau saya enggak salah ingat ya. Tapi yang jelas ada listrik yang terpakai yang kita bayar, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil. Itu utamanya," jelas Purbaya.

Load More