- Ekonom Y. Sri Susilo mengkritik pernyataan Presiden Prabowo tentang mata uang dolar yang berpotensi memicu sentimen negatif pasar.
- Pernyataan tersebut dikhawatirkan melemahkan efektivitas tujuh langkah intervensi moneter Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
- Klaim masyarakat desa kebal dampak dolar dinilai keliru karena ketergantungan harga komoditas pangan dan obat-obatan terhadap impor.
Suara.com - Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Y. Sri Susilo, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat di desa tidak menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di tengah anjloknya nilai tukar rupiah berpotensi menjadi bumerang.
Menurut Sri, pernyataan kepala negara tersebut justru berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar yang sedang bergejolak. Narasi yang menyepelekan ketergantungan terhadap mata uang asing dikhawatirkan dapat memicu tekanan balik terhadap rupiah.
Apalagi, kata dia, stabilitas nilai tukar nasional tidak bisa hanya dibebankan pada satu instrumen saja. Meskipun Bank Indonesia (BI) secara regulasi bertindak sebagai otoritas moneter yang wajib mengendalikan kurs, pergerakan di pasar riil juga memegang peranan penting.
Kebijakan fiskal pemerintah yang tidak sejalan dengan ekspektasi pasar akan langsung direspons negatif oleh para pelaku usaha.
"Jadi, pernyataan presiden kemarin tuh sebenarnya kurang pas, enggak tepat. Karena tugas BI harusnya didukung oleh kebijakan pemerintah," kata Sri kepada Suara.com, Minggu (17/5/2026).
Sri mencatat BI saat ini tengah berjuang keras menahan laju depresiasi rupiah melalui tujuh jurus intervensi.
Langkah-langkah tersebut meliputi intervensi besar-besaran di pasar valas, penarikan modal asing lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, hingga memperketat pengawasan pembelian dolar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Namun, efektivitas tujuh langkah moneter tersebut dinilai terancam melemah apabila komunikasi publik pemerintah pusat tidak mencerminkan transparansi dan kondisi fundamental yang riil.
Sentimen dari pernyataan politik yang kurang sensitif terhadap pasar dinilai dapat langsung menurunkan kepercayaan investor dan pelaku bisnis.
Baca Juga: Pengamat UMBY Soroti Pernyataan Prabowo, Harga Tempe Bisa Naik karena Dolar
"Ke-7 langkah yang dilakukan BI dapat menjadi kurang efektif karena pernyataan Presiden Prabowo 'orang rakyat di desa enggak pake dolar kok' tersebut," ucapnya.
"Dimungkinkan muncul sentimen pasar akibat pelaku ekonomi/bisnis atau investor yang merasa kurang/tidak nyaman terhadap pernyataan tersebut. Dengan kata lain pernyataan tersebut dianggap dianggap tidak pro pasar," tambahnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa masyarakat pedesaan sepenuhnya kebal dari dampak merosotnya nilai tukar rupiah. Fakta di lapangan menunjukkan banyak komoditas harian yang dikonsumsi masyarakat desa masih mengandalkan impor.
Misalnya tahu dan tempe yang menggunakan kedelai impor, daging serta telur dari pakan ternak berbahan jagung impor, hingga obat-obatan. Semua itu tetap menggunakan bahan baku yang dibeli dengan dolar.
"Dampak selanjutnya maka harga tahu dan tempe, daging, telur, obat dan kebutuhan sehar-hari yang berbahan baku impor juga naik. Kenaikan harga tersebut akan menjadi beban masyarakat desa dan masyarakat pada umumnya," tandasnya.
Berita Terkait
-
Pengamat UMBY Soroti Pernyataan Prabowo, Harga Tempe Bisa Naik karena Dolar
-
Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!
-
Pastikan MBG Lanjut Terus, Prabowo: Ini Program Strategis untuk Rakyat
-
Tinggalkan Pupuk Impor, Prabowo Instruksikan Implementasi Inovasi Batu Bara dan Briket Jagung
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Ada Pihak Bantu Bupati Kuansing Saat OTT, KPK Sempat Kehilangan Jejak
-
Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen
-
Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan
-
Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Bertambah, 3 Taruna Meninggal Dunia
-
Diduga Didiskriminasi Sekolah, Pendidikan Siswa Disabilitas Psikososial Ini Terancam
-
Terdakwa TPPU Sebut Ada Permintaan Dana Pilpres Rp21,5 M, Nama Eks Pangdam Terseret
-
Label A-D Dinilai Membingungkan, BPOM Diminta Revisi Peraturan Nilai Gizi
-
Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!
-
Parkir Ditutup Tenda Didirikan, PN Jaktim Antisipasi Massa Pendukung Sidang Perdana dr Tifa
-
Dari Pajero ke Land Cruiser, Bupati Kuansing Disebut 'Main' Jual Beli Jabatan Sejak 2021