- Aktivis KontraS, Andrie Yunus, sedang menjalani rangkaian operasi medis intensif akibat luka parah dari penyiraman air keras.
- Dampak fatal zat kimia korosif tersebut memicu penilaian bahwa serangan itu merupakan upaya percobaan pembunuhan yang terencana.
- Usman Hamid mendesak pemerintah dan DPR segera membuat undang-undang khusus untuk memperketat distribusi bahan kimia berbahaya secara bebas.
Suara.com - Kondisi kesehatan aktivis KontraS, Andrie Yunus, korban penyiraman air keras, kini mulai menunjukkan perkembangan positif meski masih harus menjalani serangkaian prosedur medis yang panjang.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengungkapkan bahwa Andrie telah menjalani operasi kelima dan diprediksi masih akan menjalani operasi keenam hingga ketujuh.
Fokus utama pengobatan saat ini adalah memulihkan penglihatan Andrie yang terdampak parah akibat zat kimia tersebut. Usman menyebut pihak keluarga bahkan berencana melibatkan ahli mata dari India untuk membantu proses pemulihan.
"Kondisi Andrie sekarang tuh masih dalam proses pemulihan, operasi sudah kelima. Mungkin akan ada operasi keenam atau ketujuh, terutama terkait matanya. Juga beberapa bagian tubuhnya yang mungkin masih ada luka basah, dan Andrie masih akan menjalani pengobatan yang cukup panjanglah gitu termasuk mungkin melibatkan ahli mata dari India,” ujar Usman dalam kanal YouTube Bambang Widjojanto, Minggu (17/5/2026).
Meskipun Andrie mulai bisa melihat cahaya, Usman tidak menampik bahwa luka yang diderita rekannya itu sangat fatal.
"Luka di sebagian wajahnya itu sampai di hidung, bibir, apalagi di dada itu cukup parah. Kita berharap yang terbaik untuk dokter di Rumah Sakit Cipto dan dokter-dokter lain yang membantu," tambahnya.
Bukan Sekadar Penganiayaan, Tapi Percobaan Pembunuhan
Dalam kasus tersebut, muncul sorotan tajam mengenai jenis zat yang digunakan pelaku. Zat kimia yang disiramkan ke tubuh Andrie disebut sebagai zat asam berkonsentrasi tinggi yang bersifat invasif dan korosif. Sifat zat ini tidak hanya merusak jaringan kulit luar, tetapi juga terus merusak hingga ke tulang meski bagian luar tampak mengering.
Melihat dampak kerusakan yang begitu masif, serangan ini dinilai bukan lagi sekadar penganiayaan biasa, melainkan mengarah pada upaya penghilangan nyawa.
"Zat yang paling kuat asamnya itu. Jadi bukan hanya invasif tapi korosif," tegas Usman.
Baca Juga: Usman Hamid Kritik Peradilan Militer yang Abaikan Korban: Kehilangan Legitimasi Hukum
Senada dengan itu, banyak pihak menilai tindakan ini sebagai percobaan pembunuhan, serupa dengan kritik yang pernah dilontarkan mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, dalam kasus serupa yang menimpanya.
Desakan Regulasi Ketat Bahan Kimia Berbahaya
Menanggapi maraknya kasus penyiraman air keras di berbagai wilayah, seperti Palembang, Tangerang, Bekasi, hingga Bangka Belitung, Usman Hamid mendesak pemerintah dan DPR segera merancang undang-undang yang mengatur khusus bahan-bahan korosif.
"Harusnya dengan peristiwa Andrie, peristiwa penyiraman air keras di sejumlah wilayah di Palembang, di Tangerang, di Bekasi, di Bangka Belitung, juga pemerintah dan DPR segera membuat undang-undang anti bahan-bahan korosif atau undang-undang yang bisa mengatur produksi, distribusi dari bahan-bahan korosif. Jadi orang enggak bisa sembarangan," ujarnya.
Menurutnya, aturan yang ada saat ini, yakni Peraturan Pemerintah (PP) tahun 2001, sudah tidak memadai untuk mengontrol distribusi dan jual beli zat asam kuat secara bebas di masyarakat.
“Seingat saya baru ada peraturan pemerintah tahun 2001 itu di era pemerintahan Gus Dur atau pemerintahan Megawati. Tapi peraturan pemerintah itu belum cukup kuat untuk melarang penggunaan atau pembelian bahan-bahan korosif ini secara terbuka,” tambahnya.
Ia mencontohkan negara-negara lain yang telah memiliki regulasi ketat agar zat berbahaya hanya bisa diakses pihak tertentu dengan izin khusus, seperti laboratorium.
Usman juga mengingatkan bahwa kegagalan negara dalam memperketat kontrol bahan berbahaya seperti arsenik dalam kasus aktivis HAM Munir dan air keras dalam kasus Novel Baswedan telah menyebabkan munculnya korban-korban baru.
"Harus ada undang-undanglah setidaknya, untuk mencegah itu bisa berulang kembali di masa depan," pungkasnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Usman Hamid Kritik Peradilan Militer yang Abaikan Korban: Kehilangan Legitimasi Hukum
-
Usman Hamid: Keadilan bagi Andrie Yunus Mustahil Tercapai di Peradilan Militer
-
4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Ngaku Salah, Siap Minta Maaf Langsung ke Andrie Yunus
-
'Biar Andrie Kapok!': Pengakuan Kapten Nandala soal Jiwa Korsa di Balik Penyiraman Air Keras
-
Oditur Militer Puji Racikan Air Keras Penyerang Andrie Yunus 'Kreatif'
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Formasi 81 di Langit Monas, Aksi Jet Tempur hingga Terjun Payung Meriahkan HUT RI di Jakarta
-
Review The Debt Collector: Aksi Balas Dendam Penuh Darah di Kota Bangkok!
-
Bikin Geram Publik! Backsound Upacara HUT ke-81 RI Diduga Pakai AI, Gak Bisa Bayar Pencipta Lagu?
-
167 Koruptor di Lapas Sukamiskin Dapat Remisi HUT RI, Satu Orang Langsung Bebas
-
Sosok Savia Aulia Rahmawati Sinden Cilik Disabilitas yang Pukau Tamu di Upacara Istana Merdeka
-
Comeback Dramatis, Dean James Bantu Go Ahead Eagles Tahan Feyenoord 2-2
-
Bukan Kupas Bawang, Ini Sosok Susanah Warga Bogor yang Disebut Prabowo di Sidang MPR
-
Edi Purwanto Minta Logistik Gempa NTT Merata, Prioritaskan Bayi, Ibu Hamil dan Lansia
-
BI dan ASPI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia, 8 Bank Resmi Jadi Penerbit
-
5 Pilihan Cerdas Bebas Bokek, Ini Rekomendasi Motor Bekas 5 Jutaan Paling Irit dan Tahan Banting