- Konferensi The Cornerstone membahas dampak penggunaan kecerdasan buatan terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemandirian generasi muda saat ini.
- Anies Baswedan menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam membekali anak dengan literasi penggunaan teknologi yang bijak.
- Pelajar Matahati Sabri menyatakan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis secara mandiri.
Suara.com - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan remaja kini berkembang pesat dan mulai membentuk cara mereka belajar, berpikir, hingga menyelesaikan masalah sehari-hari. Di tengah manfaat yang ditawarkan, muncul kekhawatiran bahwa ketergantungan pada AI dapat perlahan melemahkan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian generasi muda.
Isu ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam konferensi nasional The Cornerstone, sebuah forum dialog lintas generasi yang membahas dampak AI terhadap pendidikan dan pembentukan karakter anak, yang diselenggarakan oleh EduALL. Forum ini menyoroti bagaimana orang tua dan pendidik perlu beradaptasi agar tidak tertinggal dalam mendampingi anak di era teknologi yang berubah cepat.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang hadir sebagai pembicara, menegaskan bahwa AI merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar membatasi penggunaan, melainkan membekali anak dengan kemampuan untuk memahami kapan teknologi perlu digunakan dan kapan harus ditinggalkan.
“Kalau seseorang disebut sangat menguasai AI, bukan karena dia banyak menggunakan AI, tapi karena dia tahu kapan tidak menggunakan AI,” ujar Anies dalam forum tersebut.
Ia menilai tantangan terbesar di era AI tidak hanya berada pada anak, tetapi juga pada orang tua dan guru yang harus terus belajar agar mampu mendampingi perkembangan teknologi. Menurutnya, tanpa arahan yang tepat, AI berisiko menggeser proses pembentukan karakter dan daya pikir mandiri anak.
Pelajar Matahati Sabri yang aktif di GENIUS Research Club dan jurnalisme STEM turut membagikan pengalamannya tumbuh bersama AI. Ia mengakui teknologi ini sangat membantu dalam riset dan brainstorming, namun juga menimbulkan risiko ketergantungan.
“Karena AI bikin kita merasa gak susah bikin tugas atau mikirin project,” ujarnya, menggambarkan kemudahan yang sekaligus menjadi tantangan bagi pelajar saat ini.
Matahati juga menceritakan pengalamannya mengikuti kompetisi yang melarang penggunaan AI. Awalnya ia merasa kesulitan karena harus kembali melakukan riset dan berpikir secara manual, namun pengalaman tersebut justru membuatnya menyadari pentingnya melatih kemampuan berpikir mandiri.
“Memang kadang kita harus memaksa diri sendiri untuk melakukan hal yang mungkin kita tidak suka agar nalar kita tetap terasah,” katanya.
Baca Juga: Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Soroti Bahaya AI bagi Pelajar: Otak Bisa Malas Berpikir
Merespons keresahan yang disuarakan oleh pelajar tersebut, moderator Mercy Widjaja melempar pertanyaan kritis mengenai bagaimana seharusnya orang tua dan sekolah bersikap dalam menghadapi perubahan drastis pola belajar anak di era AI ini, agar teknologi tidak sampai mengambil alih fungsi nalar dan karakter generasi mendatang.
Anies kemudian mengibaratkan AI seperti Superman yang memiliki kekuatan besar, tetapi tetap membutuhkan nilai moral dan pendidikan keluarga agar dapat digunakan secara benar. Ia menegaskan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan peran dasar orang tua dalam membentuk karakter anak.
“AI tidak pernah bisa menggantikan pelukan ayah dan ibunya. Tantangan terbesar di era AI bukan hanya pada anak, tapi justru pada orang tua dan guru yang harus terus belajar agar mampu mendampingi mereka dengan arah yang tepat,” tambahnya.
Pandangan Anies tersebut diamini oleh pendidik sekaligus Founder Cikal, Najelaa Shihab. Ia menilai penggunaan AI harus disesuaikan dengan kesiapan usia anak, layaknya jadwal imunisasi. Mengacu pada berbagai riset terbaru, ia mengingatkan bahwa anak di bawah usia 16 tahun sejatinya belum siap menghadapi risiko algoritma yang kompleks.
“Kita ingin anak kita jadi pengemudi yang taat aturan, tapi bukan berarti anak umur 10 tahun langsung kita kasih mobil di jalan raya,” analoginya.
Najelaa menegaskan, sebelum anak menggunakan AI secara optimal, mereka harus lebih dulu memiliki fondasi berpikir kritis, kreativitas, dan identitas moral yang tak bisa digantikan oleh mesin.
Melalui forum ini, para pembicara menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. Kunci utamanya ada pada literasi digital, pendampingan orang tua dan guru, serta pembentukan karakter sejak dini agar generasi muda tetap tumbuh sebagai pengguna teknologi yang kritis, mandiri, dan beretika.
Menutup rangkaian acara dengan aksi nyata, EduALL menyalurkan 100 persen hasil penjualan tiket konferensi ini melalui kolaborasi bersama Indonesia Mengajar demi memastikan pemerataan akses pendidikan di berbagai pelosok Nusantara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen
-
Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi
-
Ribuan Taruna TNI-Polri Jadi Kakak Asuh Siswa di 178 Sekolah Rakyat
-
833 ASN Pendamping PKH Punya Pekerjaan Sampingan, Kemensos Tagih Pengembalian Gaji Rp7,9 Miliar
-
Prabowo Bakal Resmikan B50 Pekan Depan