-
Penembakan di Islamic Center San Diego menewaskan lima orang termasuk dua pelaku remaja.
-
Kepolisian lokal bersama FBI menduga kuat adanya motif kejahatan kebencian terhadap Muslim.
-
KJRI San Francisco memastikan tidak ada warga negara Indonesia menjadi korban tragedi.
Suara.com - Tragedi berdarah di Islamic Center San Diego (ICSD) menjadi sorotan global setelah aksi penembakan brutal merenggut lima nyawa sekaligus. Investigasi mendalam kini langsung melibatkan otoritas federal guna mengungkap motif di balik serangan mematikan pada pusat ibadah Muslim tersebut.
Aparat keamanan bergerak cepat dengan menggandeng Biro Penyelidik Federal (FBI) demi mengusut tuntas indikasi kejahatan berbasis kebencian. Fokus utama penyelidikan ini diarahkan pada latar belakang lokasi kejadian yang merupakan episentrum aktivitas keagamaan.
Kabar baik datang bagi publik tanah air setelah perwakilan diplomatik kita memastikan keselamatan seluruh masyarakat Indonesia di sana. Korban jiwa dalam peristiwa mencekam ini dipastikan bersih dari unsur warga negara asing asal Indonesia.
Petugas pelindung area Islamic Center dilaporkan ikut gugur saat mencoba menghentikan jalannya terjangan peluru panas. The New York Times melaporkan petugas itu tewas akibat tertembak dalam insiden tersebut.
Dua orang yang menjadi otak penembakan brutal ini diyakini langsung mengakhiri hidup mereka sendiri di lokasi. Pihak kepolisian mengidentifikasi bahwa para pelaku teror tersebut masih tergolong dalam usia remaja.
Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tiga warga yang tewas adalah laki-laki. Otoritas penegak hukum setempat kini terus mengumpulkan bukti sekecil apa pun dari tempat kejadian perkara.
Dugaan sementara mengenai latar belakang aksi kekerasan ini mengarah pada sentimen negatif terhadap kelompok agama tertentu. Sentimen sosiologis ini diperkuat oleh status tempat ibadah yang menjadi titik pusat berkumpulnya umat Islam.
"Namun, Departemen Kepolisian San Diego menduga bahwa serangan ini ada kaitannya dengan serangan kebencian terhadap komunitas Muslim," katanya.
Seluruh jajaran pemerintahan dari tingkat lokal hingga pusat kini menaruh atensi yang sangat besar.
Baca Juga: Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai "situasi yang mengerikan." Pemerintah Amerika Serikat berjanji akan bersikap transparan dalam membagikan setiap perkembangan informasi terbaru.
"Yang terjadi adalah situasi yang mengerikan. Saya telah menerima pembaruan informasi awal, dan kami akan terus memantaunya dengan cermat," ujar Trump, seperti dikutip Anadolu. Gedung Putih memastikan pengawasan berkala akan terus berjalan hingga situasi benar-benar kondusif.
Di sisi lain, perwakilan diplomatik Indonesia terus bergerak aktif mengawal keselamatan warganya pasca insiden. Komunikasi intensif terus dijalin dengan tokoh-tokoh Islam guna memantau perkembangan psikologis masyarakat di sana.
Dalam pernyataan tertulis pada Selasa, Konsul Penerangan dan Sosial Budaya KJRI San Francisco Afina Burhanuddin mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan komunitas Muslim Indonesia untuk memastikan kondisi WNI menyusul peristiwa itu. Langkah preventif ini diambil guna memberikan rasa tenang bagi keluarga di tanah air.
Peristiwa mencekam ini diketahui mulai pecah pada menjelang tengah hari waktu setempat di kawasan California. Penembakan massal tersebut seketika mengubah kekhusyukan siang hari menjadi kepanikan yang luar biasa bagi warga sekitar.
Ia mengatakan penembakan terjadi sekitar pukul 11.40 waktu setempat (Selasa, 01.40 WIB) dan menewaskan lima orang, termasuk seorang petugas keamanan dan dua tersangka yang berusia 17 dan 19 tahun. Wahl mengatakan informasi awal menunjukkan kedua tersangka kemungkinan tewas karena bunuh diri. Mereka diduga berusia 17 dan 19 tahun.
Sebagai informasi penutup, kompleks tempat ibadah ICSD memegang peranan vital bagi ekosistem komunitas Muslim setempat. Lokasi pusat kegiatan dakwah dan sosial ini sendiri berdiri megah tidak jauh dari wilayah jantung kota San Diego.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Usai Habisi Nyawa Anak Sendiri, Ibu di Pamekasan Dibawa ke RSJ
-
AI, Kreator, dan Livestream Jadi Senjata Baru Bisnis, Meta Bidik Pasar Asia Pasifik
-
Alasan Dibalik Pemberhentian Sementara Direktur Niaga Garuda Indonesia
-
Dana Kekayaan Norwegia: Waspadai Saham AI!
-
Update Harga HP Lipat dari Berbagai Merek, Mana Paling Murah dan Worth It?
-
SeaBank Bukukan Laba Rp749,26 Miliar pada Semester I 2026, Apa Pendorongnya?
-
Perpres Ojol Ditargetkan Terbit Akhir Agustus atau Awal September
-
Museum Nasional Jadi Playground Kreator, AI dan Teknologi Buka Jalan Cuan dari Karya Digital
-
Pengamat Sebut 2029 Jadi Penentu Nasib Dinasti Politik Jokowi: Kalau PSI Gagal, Wassalam!
-
Pertamina Pastikan Pasokan BBM NTT Aman Usai Gempa, 11 Truk Tangki Dikirim via Kapal Feri