- Presiden AS Donald Trump menunda serangan militer ke Iran setelah menerima desakan diplomatik dari para pemimpin negara-negara Teluk.
- Penundaan ini dipicu kekhawatiran sekutu terhadap potensi serangan balasan Iran menggunakan drone serta rudal yang mengancam fasilitas vital.
- Keputusan Trump juga dipengaruhi penurunan dukungan publik Amerika Serikat terhadap kebijakan perang di Timur Tengah menjelang pemilu sela.
Jajak pendapat terbaru New York Times/Siena menunjukkan 64 persen pemilih Amerika Serikat menganggap perang dengan Iran sebagai keputusan yang salah.
Survei yang sama juga mencatat hanya 37 persen responden yang puas terhadap kinerja Trump sebagai presiden.
Situasi ini dinilai menjadi tantangan besar bagi Partai Republik menjelang pemilu sela, terutama di tengah persoalan ekonomi dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Trump kemudian mencoba meredam situasi dengan menyebut penundaan serangan sebagai langkah positif.
"Jika kita dapat melakukan itu tanpa mengebom mereka habis-habisan, saya akan sangat senang," ujar Trump kepada wartawan.
Iran Tegaskan Kedaulatan atas Selat Hormuz
Di tengah proses negosiasi yang disebut melibatkan mediasi Pakistan, pemerintah Iran menegaskan bahwa tuntutan mereka terkait kedaulatan negara tidak dapat ditawar.
Media Iran melaporkan Teheran meminta penghentian agresi Israel di kawasan, pencabutan blokade AS, serta jaminan tidak adanya serangan sepihak di masa mendatang.
Iran juga menegaskan kedaulatan penuh mereka atas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Baca Juga: Aturan Baru Selat Hormuz, Iran Siap Tarik Biaya Layanan Kapal
Ketegangan meningkat setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas sejak akhir Februari lalu dan memicu gangguan terhadap stabilitas kawasan serta harga energi global.
Berita Terkait
-
Blak-blakan di DPR, Menhan Sjafrie Ungkap Kronologi AS Minta Izin Lintas Udara RI
-
Minyak Hampir USD120 per Barel, Dunia Masuk Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
-
Dari Purbaya Effect ke Purbaya Pretext: Ketika Optimisme Pasar Mulai Goyah
-
Menghindari Perangkap Thucydides: Alarm Xi Jinping untuk Trump
-
Upaya Terakhir AS Gagalkan Timnas Iran ke Piala Dunia 2026! Team Melli Tertahan di Turki
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Membongkar Modus Predator Pengelana Feri: Mengapa Janji Loker di Medsos Masih Ampuh Jerat Mahasiswi?
-
TAUD Laporkan Tiga Hakim Kasus Andrie Yunus ke MA, Pengadilan Militer Buka Suara
-
Kemlu: 5 WNI Ditangkap Tentara Israel
-
Blak-blakan di DPR, Menhan Sjafrie Ungkap Kronologi AS Minta Izin Lintas Udara RI
-
9 WNI Ditahan Israel dalam Misi ke Gaza, GPCI Minta Presiden Prabowo Ambil Langkah Diplomasi
-
AS Turunkan Pasukan FBI Jaga Stadion Piala Dunia 2026, Drone Dilarang Terbang!
-
Kapal Misi Kemanusiaan Ditahan Israel, Kemlu RI Tuntut Pembebasan Seluruh Awak
-
Tentara Israel Tangkap 9 WNI, GPCI Lapor MPR Desak Pemerintah Bertindak
-
5 WNI Termasuk Jurnalis Ditangkap Israel, TB Hasanuddin: Negara Harus Gerak Cepat!
-
Pengembangan Kasus Korupsi Bupati Ponorogo, KPK Geledah Rumah Pengusaha di Pacitan