- Sembilan WNI dalam armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla ditahan oleh militer Israel di perairan Laut Mediterania sejak Mei 2026.
- Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Ankara, Kairo, dan Amman berkoordinasi intensif untuk menjamin keselamatan seluruh WNI tersebut.
- Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan langkah kontingensi dan fasilitas perlindungan guna mempercepat proses pembebasan serta pemulangan para WNI.
Suara.com - Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) mengaku saat ini pihak Kementerian Luar Negeri sedang berupaya membebaskan warga negara Indonesia (WNI) beserta awak misi kemanusiaan yang ditahan oleh tentara zionis Israel.
Staf Khusus (Stafsus) Menteri HAM Bidang Transformasi Digital dan Komunikasi Media, Thomas Harming Suwarta, mengatakan pemerintah kini tengah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman.
“Kami mendapat informasi bahwa pihak otoritas diplomatik Indonesia telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman,” kata Thomas dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan serta mempercepat proses pemulangan WNI yang ditahan oleh zionis Israel.
“Langkah antisipatif ini diambil guna menjamin keselamatan serta mempercepat proses pemulangan para WNI yang terlibat dalam misi tersebut,” ucap Thomas.
Thomas menyatakan bahwa pemerintah terus memantau peristiwa ini melalui komunikasi intensif dengan berbagai pihak terkait demi memperoleh informasi terkini mengenai kondisi WNI tersebut.
Langkah fasilitasi perlindungan juga disiapkan secara maksimal seiring situasi yang berkembang cepat. Pemerintah tengah menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitas perlindungan dan percepatan pemulangan jika diperlukan.
“Kita tentu terus melakukan pemantauan dari waktu ke waktu untuk memastikan kondisi WNI kita dalam keadaan selamat dan bisa segera dibebaskan,” pungkas Thomas.
Sebelumnya, armada kapal misi kemanusiaan untuk Gaza, Palestina, yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2026, dikepung sejumlah kapal perang militer zionis Israel di perairan Laut Mediterania.
Baca Juga: Belum Bisa Selamatkan 9 WNI Diculik Tentara Israel, Begini Update Usaha Indonesia
Akibat insiden tersebut, keselamatan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di dalam armada kini terancam.
Informasi per Senin (18/5/2026) malam pukul 19.00 WIB menyebutkan bahwa satu WNI telah terdeteksi mengalami intersepsi langsung oleh pihak militer Israel.
Koordinator Dewan Pengarah Gerakan Penggalangan Clean Initiative (GPCI), Maimon Herawati, mengonfirmasi bahwa status bahaya atau red alert sudah ditetapkan sejak Minggu malam.
“Sebenarnya dari kemarin malam ini sudah mulai red alert. Maksudnya, kami karena positif pada tingkat 1 ya. Sudah terdeteksi kapal-kapal dan drone sekitar Flotilla, Global Sumud Flotilla," ujar Maimon melalui siaran Zoom langsung dari Command Center di Turki saat konferensi pers di Jakarta, Senin (18/5/2026) malam.
Laporan dari Media Crisis Center Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebutkan bahwa militer Israel mulai menghambat pergerakan armada yang membawa bantuan logistik darurat tersebut.
Berita Terkait
-
Belum Bisa Selamatkan 9 WNI Diculik Tentara Israel, Begini Update Usaha Indonesia
-
PBB Sebut Penangkapan Aktivis Sumud Flotilla oleh Israel Tabrak Hukum Internasional
-
Indonesia Pantau 9 WNI yang Diculik Israel, KBRI Siapkan Skenario Evakuasi Darurat
-
Update! 9 WNI Diculik Tentara Israel di Kapal Global Sumud Flotilla
-
Solidaritas untuk Jurnalis dan WNI yang Ditahan Israel Menggema di Bandung
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN