News / Internasional
Rabu, 27 Mei 2026 | 11:30 WIB
Rudal Iran (Tasnimnews)
Baca 10 detik
  • China mendesak DK PBB mengesahkan kesepakatan damai guna mengakhiri perang komprehensif di Iran.

  • Presiden Donald Trump mengklaim draf perjanjian damai penghentian perang sebagian besar telah dinegosiasikan.

  • Konflik memanas sejak Februari hingga memicu blokade Selat Hormuz yang mengancam jalur energi dunia.

Suara.com - Dewan Keamanan PBB didesak segera mengambil alih legitimasi kesepakatan damai guna menghentikan perang multilateral antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Langkah ini dinilai krusial agar resolusi penghentian konflik di kawasan Teluk memiliki kekuatan hukum internasional yang mengikat.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa konsensus global sangat dibutuhkan untuk mengawal stabilitas jangka panjang di Timur Tengah. Pihaknya berharap seluruh aktor yang terlibat bersedia menurunkan ego demi tercapainya titik temu penandatanganan perdamaian.

"Kami meyakini bahwa ketika itu tercapai, maka kesepakatan tersebut akan diserahkan kepada DK PBB untuk dukungan supaya dapat memiliki legitimasi dan kewenangan," kata Wang Yi dalam pernyataannya di Markas PBB pada Selasa (26/5).

Selat Hormuz (CNN)

Di sisi lain, Gedung Putih mulai menunjukkan sinyal positif yang mengarah pada berakhirnya konfrontasi senjata. Para pejabat Washington menyatakan optimisme yang terukur terhadap kemajuan draf perjanjian komprehensif tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa dokumen kesepakatan penutupan perang dengan Teheran sudah hampir rampung. Fase finalisasi antar-negara pelaksana diproyeksikan bakal berjalan dalam waktu dekat.

Sebagai pemegang presidensi DK PBB sepanjang Mei 2026, China memanfaatkan momentum ini untuk menekan badan urusan keamanan tersebut agar lebih agresif. Wang menilai PBB tidak boleh pasif dalam merespons peluang rekonsiliasi yang mulai terbuka.

Kapal tanker super (VLCC) milik National Iranian Tanker Company (NITC), dilaporkan memasuki wilayah perairan Indonesia, setelah lolos dari blokade militer AS di Selat Hormuz. [Al Jazeera]

"Selama China memimpin DK PBB di Mei 2026, Wang mengatakan ke depannya, badan yang ditugaskan menjamin perdamaian dan keamanan internasional tersebut harus bergerak maju dan memikul tanggung jawab."

Upaya diplomatik ini menjadi krusial mengingat eskalasi militer yang pecah sejak Februari lalu telah melumpuhkan stabilitas ekonomi global. Ketegangan bermula saat armada gabungan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara masif ke wilayah teritorial Iran.

Merespons agresi tersebut, Teheran membalas lewat serangan balik ke wilayah Israel dan pangkalan sekutu Barat di Teluk. Militer Iran juga memblokade total Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Baca Juga: Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?

Negosiasi alot yang dimediasi oleh Pakistan sempat membuahkan hasil lewat gencatan senjata jangka pendek pada awal April. Momentum jeda pertempuran itu kemudian diperpanjang secara sepihak oleh Trump hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Load More