News / Nasional
Kamis, 28 Mei 2026 | 12:09 WIB
Pembukaan Green Youth Quake Training di Bogor. (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Warga Nagari Anduriang masih menggunakan rakit untuk menyeberang sungai karena jembatan utama rusak akibat bencana enam bulan lalu.
  • Tokoh agama menekankan bahwa bencana ekologis bukan sekadar takdir, melainkan konsekuensi atas kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia.
  • Organisasi lintas agama berkolaborasi menerjemahkan isu krisis iklim menggunakan pendekatan nilai spiritual dan budaya agar mudah dipahami masyarakat.

Suara.com - Enam bulan setelah bencana yang melanda Sumatera pada November 2025, warga Nagari Anduriang, Kecamatan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, masih bergantung pada rakit untuk menyeberangi Sungai Batang Anai.

Jembatan yang sebelumnya menjadi akses utama warga terputus akibat bencana dan hingga kini belum dapat digunakan kembali. Sebagai pengganti, warga memanfaatkan rakit sederhana yang dibuat dari kayu dan drum bekas untuk menghubungkan dua sisi sungai.

Setiap hari, rakit tersebut digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar yang berangkat sekolah hingga warga yang hendak bekerja atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejumlah warga dan pelajar menaiki rakit penyeberangan di Sungai Batang Anai, Nagari Anduriang, Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (7/5/2026). [ANTARA FOTO/Fitra Yogi/tom]

Enam bulan lalu, banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Ribuan rumah rusak, infrastruktur terputus, dan banyak warga kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga. 

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 27 Mei 2026 mencatat sedikitnya 1.207 orang meninggal dunia dan 137 lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana tersebut berdampak pada 54 kabupaten dan kota di tiga provinsi.

Jejak kerusakan masih terlihat jelas di sejumlah daerah. BNPB mencatat 31.643 rumah mengalami rusak berat, 43.741 rumah rusak sedang, dan 95.186 rumah rusak ringan. Secara keseluruhan, sebanyak 183.751 rumah tercatat rusak atau harus direlokasi karena berada di kawasan rawan bencana.

Namun di tengah situasi tersebut, tidak sedikit narasi yang masih menganggap bencana semata sebagai takdir. Survei Pew Research 2025 tentang sikap terhadap iklim menunjukkan 38 persen responden cenderung mengaitkan fenomena cuaca ekstrem dengan kehendak ilahi dibanding aktivitas manusia seperti eksploitasi alam dan perusakan lingkungan.

Sejumlah warga menggunakan perahu karet untuk menyeberangi sungai karena jalan utama terputus akibat luapan air sungai di Desa Lhok Cut, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Aceh. Selasa (31/3/2026). [ANTARA FOTO/Rahmad/tom]

Padahal, pada saat yang sama, tekanan terhadap alam justru terus meningkat. Data terbaru Auriga Nusantara dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI 2025) mencatat luas hutan yang hilang mencapai 433.751 hektare sepanjang 2025. Angka tersebut melonjak 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 261.575 hektare, sekaligus menjadi kenaikan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah meningkatnya krisis ekologis itu, pertanyaan tentang relasi manusia dengan alam kembali mengemuka: apakah bencana hanya akan terus dipandang sebagai takdir, atau mulai dilihat sebagai konsekuensi dari cara manusia memperlakukan bumi?

Baca Juga: Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

Ketika Krisis Ekologis Dipisahkan dari Nilai Keagamaan

Pengurus Pesantren Ekologi Misykatul Anwar, Siti Barokah, melihat masih ada cara pandang di masyarakat yang memisahkan urusan agama dari persoalan duniawi, termasuk soal lingkungan. Akibatnya, menjaga alam belum sepenuhnya dipahami sebagai bagian dari praktik keagamaan.

“Jadi hal-hal yang sifatnya duniawi itu sering kali tidak dijadikan bagian dari implementasi agama,” ujar Siti.

Menurutnya, pemahaman mengenai takdir juga kerap disederhanakan. Dalam Islam, kata dia, terdapat takdir yang memang tidak dapat diubah, tetapi ada pula yang berkaitan dengan ikhtiar dan perilaku manusia. Karena itu, ia menilai penting untuk membedakan antara bencana alam dan bencana ekologis.

“Kalau bencana ekologis, itu ada campur tangan manusia di dalamnya,” katanya.

Siti mencontohkan banjir bandang yang semakin sering terjadi di sejumlah daerah. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari deforestasi, alih fungsi lahan, hingga berkurangnya kawasan resapan air akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Load More