- Wakil Rektor UGM Arie Sujito menyatakan Indonesia mengalami regresi demokrasi serta munculnya neo-otoritarianisme dalam forum Konferensi Republik, Sabtu (30/5/2026).
- Kartelisasi politik dan kooptasi negara menyebabkan kebijakan publik tidak partisipatif serta melemahkan posisi tawar masyarakat sipil secara signifikan.
- Arie mendesak revitalisasi gerakan akar rumput dan penguatan fungsi kampus sebagai benteng moral untuk mengawal demokrasi substantif.
Suara.com - Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, menilai Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang krusial.
Hal itu menyusul adanya gejala regresi demokrasi serta menguatnya neo-otoritarianisme yang bergerak senyap di dalam koridor hukum formal.
"Kita sedang menyaksikan fenomena yang oleh para ilmuwan politik disebut sebagai regresi demokrasi dan kemunduran demokrasi," kata Arie dalam forum Konferensi Republik di Gadjah Mada University Club, Sabtu (30/5/2026).
"Apalagi dalam beberapa kasus belakangan disertai secara sporadis kasus teror, ragam bentuk dan reproduksi neo-otoritarianisme," katanya menambahkan.
Menurut Arie, salah satu ancaman terbesar bagi masa depan demokrasi di tanah air saat ini adalah menguatnya kartelisasi politik.
Kondisi tersebut diperparah oleh kooptasi negara terhadap ruang publik.
Kondisi ini membuat partai politik terjebak dalam kepentingan pragmatis jangka pendek dan mengabaikan proses deliberasi bersama rakyat.
"Akibatnya, kebijakan-kebijakan publik lahir tanpa melalui proses deliberasi yang bermakna buat rakyat, melainkan diputus di ruang-ruang gelap yang jauh dari kontrol publik," tuturnya.
Lebih lanjut, ia turut menyoroti melemahnya posisi tawar masyarakat sipil atau civil society akibat adanya polarisasi dan fragmentasi di era digital.
Baca Juga: Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal
"Ketika civil society terfragmentasi, posisi tawar dia terhadap kekuasaan menjadi lemah. Ini bahan refleksi buat kita. Konsolidasi sipil bukan semata-mata dikerjakan dalam tahap awal transisi demokrasi, justru harus dilakukan keberlanjutan," ucapnya.
Sosiolog UGM ini turut memberikan catatan kritis terhadap fenomena migrasi para aktivis ke dalam lingkaran kekuasaan.
Ia menyayangkan apabila kepindahan para penggerak masyarakat sipil tersebut tidak membawa agenda perubahan substantif tapi justru larut dalam kenyamanan birokrasi dan melupakan nilai kerakyatan.
"Kita tidak sedang menghakimi, tetapi tolong ini menjadi refleksi buat kita untuk saling mengingatkan agar perubahan pada track," tegasnya.
Untuk mengantisipasi kemerosotan situasi politik ini, Arie mendesak dilakukannya revitalisasi gerakan dari tingkat akar rumput. Ia menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak boleh hanya bergantung pada agenda prosedural pemilu lima tahunan semata.
"Demokrasi substantif membutuhkan kehadiran warga negara yang aktif, kritis, dan berdaya setiap hari. Kita perlu menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi, komunitas di kampung-kampung, kampus-kampus, di serikat pekerja," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
-
Tercatat Jadi Penasihat Little Aresha Daycare, Dosen UGM Ngaku Tak Tahu Struktur Organisasi
-
Geger Sekeluarga Tewas di Tenda Kamping Temanggung, UGM Konfirmasi Satu Korban Mahasiswanya
-
Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal
-
TNI Disuruh Urus MBG hingga Begal, Pakar UGM: Lalu Siapa yang Menjaga Pertahanan Negara?
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya
-
Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Risiko Bencana Alam, Bupati dan Wali Kota Jabar Diminta Hentikan Pembangunan di Hutan & Perkebunan
-
Skandal Epstein Memanas! Pam Bondi Akui Ada Kesalahan, DPR AS Curiga Ada Fakta yang Ditutupi
-
Banten Media Hub 2026: Ikhtiar Strategi Komunitas Media Lokal Bertahan di Era Digital
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili