News / Nasional
Senin, 01 Juni 2026 | 22:56 WIB
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. [Suara.com/Novian]
Baca 10 detik
  • Seskab Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik Dino Patti Djalal terkait lawatan luar negeri Presiden Prabowo di Jakarta, Senin (1/6/2026).
  • Pemerintah menegaskan kelebihan biaya perjalanan luar negeri Presiden Prabowo ditanggung secara pribadi dan jumlah rombongan telah dipangkas signifikan.
  • Jadwal lawatan menyesuaikan dinamika global untuk membangun hubungan personal antar pemimpin demi kepentingan diplomasi strategis bagi negara Indonesia.

Kedekatan Personal

Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Jakarta usai akhiri kunjungan di Prancis.Dok Biro Pers Istana Kepresidenan RI

Teddy kemudian mencontohkan jadwal tahunan seperti agenda KTT ASEAN, KTT G20, KTT APEC, KTT BRICS, dan Sidang Majelis Umum PBB.

Sementara itu, jadwal yang bersifat mendesak berkaitan dengan dinamika global, seperti konflik di sejumlah negara, krisis di Timur Tengah, dan perkembangan situasi di Palestina.

Jawaban berikutnya yang disampaikan Teddy terkait kritik Dino yang menyoroti frekuensi atau banyaknya jumlah lawatan luar negeri Presiden Prabowo serta hal-hal yang berkaitan dengan protokoler.

"Presiden Prabowo adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis, sebelumnya ada konflik di Ukraina, Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Itu terlibat (Arab) Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya," katanya.

Karena itu, lanjut Teddy, setiap pemimpin harus membangun hubungan yang dekat dengan para pemimpin dunia dan tidak bisa hanya mengandalkan hubungan ketika krisis terjadi.

"Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," ujar Teddy.

Teddy melanjutkan bahwa gaya diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo adalah pendekatan melalui kedekatan personal.

"Perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi. Jadi, salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi, kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy.

Baca Juga: Teddy: Lawatan Luar Negeri Prabowo untuk Bangun Kedekatan dengan Pemimpin Dunia

Load More