- Lagu viral "Mas Bahlil Ganteng" bertransformasi dari sindiran politik terhadap Bahlil Lahadalia menjadi alat penguatan citra positif.
- Algoritma media sosial mengubah kritik sarkastis menjadi konten hiburan populer melalui keterlibatan pengguna yang terus-menerus diulang.
- Fenomena ini berisiko menggeser fokus publik dari pembahasan kebijakan substantif menuju konsumsi konten hiburan di media sosial.
Suara.com - Lagu viral "Mas Bahlil Ganteng" atau MBG dinilai menjadi contoh bagaimana sarkasme di media sosial dapat berubah menjadi alat penguatan citra politik.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menilai fenomena tersebut menunjukkan cara kerja algoritma media sosial yang mampu mengubah kritik menjadi popularitas.
Menurut Fajar, pada awal kemunculannya lagu tersebut banyak dipahami sebagai bentuk sindiran terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.
Namun seiring berjalannya waktu dan tingginya tingkat penyebaran di media sosial, makna kritik yang terkandung di dalamnya perlahan memudar.
"Awalnya, lagu ini jelas dibaca sebagai sarkasme. Di tengah isu energi, harga BBM, dan tanggung jawab seorang Menteri ESDM sekaligus Ketum Golkar, muncul jingle yang menggambarkan Bahlil Lahadalia seperti tokoh kartun imut yang 'semakin ganteng'," kata Fajar dikutip Selasa (2/6/2026).
Disampaikan Fajar, bahwa sarkasme yang terus-menerus diulang justru kehilangan daya kritisnya.
Lagu yang semula dimaksudkan sebagai sindiran berubah menjadi hiburan yang dinikmati banyak kalangan, mulai dari pengguna TikTok hingga anak-anak.
"Sarkasme yang direpetisi berulang-ulang justru melahirkan banalitas, yang tadinya tajam, menjadi biasa, yang tadinya menggigit, kini hanya jadi earworm yang muncul di kepala saat diam-diam: 'MBG… Mas Bahlil Ganteng…'" ucapnya.
"Sarkasme mati karena terlalu sukses. Ia kehilangan giginya karena semua orang ikut menyanyikannya, termasuk pendukung Bahlil sendiri," katanya menambahkan.
Baca Juga: Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
Ia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari mekanisme algoritma media sosial yang lebih mengutamakan keterlibatan pengguna dibandingkan konteks atau niat awal pembuat konten.
Semakin sering lagu diputar, dibagikan, atau digunakan ulang dalam berbagai konten, semakin besar pula jangkauan yang diperoleh.
"Inilah kekuatan, dan sekaligus bahaya, algoritma media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram tidak peduli niat awal pembuat konten. Mereka hanya melihat engagement: like, share, watch time, duet, stitch," ujarnya.
Menurut Fajar, respons santai yang ditunjukkan Bahlil dan Partai Golkar turut memperkuat efek tersebut.
Alih-alih menolak atau melawan narasi yang muncul, mereka memilih merangkul meme yang beredar sehingga citra Bahlil menjadi lebih dekat dengan publik.
"Sikap itu cerdas. Alih-alih defensif atau marah (yang justru akan jadi bahan bakar sarkasme baru), mereka memeluk meme tersebut," kata dia.
Berita Terkait
-
Jokowi Akan Sambangi Sejumlah Daerah, Pengamat Soroti Strategi Politik Jangka Panjang
-
Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi
-
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
-
Dulu Cap PKI Sekarang 'Antek Asing', Pola Lama Bungkam Kritik dengan Wajah Baru
-
Tak Perlu Tunggu 32 Tahun, Ray Rangkuti Ungkap Alasan Rezim Sekarang Lebih Cepat Digoyang
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
122 Prodi di Kampus Negeri dan Swasta Ditutup Sepanjang 2026, Menteri Brian Ungkap Alasannya
-
Pemerintah Anugerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya Kepada Enam Tokoh
-
Habiburokhman: Tak Perlu Ada Perlakuan Khusus untuk Dino Patti Djalal
-
Takut Negosiasi Iran Gagal, Trump Tegur Netanyahu: Tanpa Saya Kau Sudah Masuk Penjara!
-
Negosiasi Iran Terancam, Donald Trump Gunakan Kata Kasar Tegur Rencana Militer Netanyahu ke Lebanon
-
Kebakaran Kemayoran Hanguskan 304 Bangunan, Rano Karno: Listrik Harus Dijaga!
-
Nadiem Tuding Kasus Chromebook Bermula dari Dendam Birokrasi: Banyak yang Periuk Nasinya Terganggu
-
Habiburokhman Sentil Dino Patti Djalal: Jangan Sok Paling Tahu Diplomasi
-
Janda di Labuhanbatu Dianiaya Besan Hingga Pingsan, Laporan Mandek di Meja Polisi?
-
BRIN Minta Maaf atas Kesalahan Desain Lambang Garuda di Konten Hari Lahir Pancasila