- Lagu viral "Mas Bahlil Ganteng" bertransformasi dari sindiran politik terhadap Bahlil Lahadalia menjadi alat penguatan citra positif.
- Algoritma media sosial mengubah kritik sarkastis menjadi konten hiburan populer melalui keterlibatan pengguna yang terus-menerus diulang.
- Fenomena ini berisiko menggeser fokus publik dari pembahasan kebijakan substantif menuju konsumsi konten hiburan di media sosial.
Fajar menyoroti penggunaan kata "mas" dalam judul maupun lirik lagu.
Menurutnya, pilihan kata tersebut memiliki dampak simbolik yang cukup kuat, terutama bagi pemilih di Pulau Jawa.
Sebagai tokoh yang bukan berasal dari Jawa, penyebutan "Mas Bahlil" dinilai dapat menghadirkan kesan kedekatan kultural dengan mayoritas pemilih di wilayah tersebut.
Ia menilai fenomena tersebut menunjukkan adanya banalitas dalam diskursus media sosial.
Kritik yang berulang tanpa pendalaman substansi akhirnya lebih banyak menghasilkan perhatian dibandingkan pembahasan serius mengenai kebijakan publik.
"Ketika kritik berulang tanpa kedalaman, ia tidak lagi mengganggu kekuasaan, malah menjadi pelumasnya. Algoritma tidak punya ideologi, ia punya insentif dan insentif itu adalah perhatian," tegasnya.
Di sisi lain, Fajar mengingatkan bahwa tren politik yang semakin didorong oleh meme dan konten viral berisiko menggeser fokus publik dari isu-isu substantif.
Perdebatan mengenai energi, transisi hijau, maupun ketahanan pasokan BBM dapat tersisih oleh konten hiburan yang lebih mudah menarik perhatian.
"Lagu viral MBG: Mas Bahlil Ganteng adalah pelajaran berharga tentang dinamika kekuasaan di era algoritma. Sarkasme netizen yang awalnya ingin menjatuhkan, justru mengangkat," ujarnya.
Baca Juga: Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa peningkatan literasi digital menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak fenomena serupa. Warganet perlu memahami bahwa setiap interaksi di media sosial, termasuk menyukai, membagikan, atau menggunakan sebuah konten.
"Warganet perlu menyadari bahwa apapun interaksi mereka di media sosial telah menjadi bagian dari mekanisme algoritma politik. Ke depan, fenomena ini masih terus terjadi, sampai di titik kebosanan publik dan kesadaran publik mengenai literasi digital," tandasnya.
Berita Terkait
-
Jokowi Akan Sambangi Sejumlah Daerah, Pengamat Soroti Strategi Politik Jangka Panjang
-
Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi
-
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
-
Dulu Cap PKI Sekarang 'Antek Asing', Pola Lama Bungkam Kritik dengan Wajah Baru
-
Tak Perlu Tunggu 32 Tahun, Ray Rangkuti Ungkap Alasan Rezim Sekarang Lebih Cepat Digoyang
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Prancis vs Inggris: Panggung Perpisahan Deschamps dan Ambisi Rekor Kylian Mbappe
-
Moisturizer Sariayu Mawar untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan Manfaat dan Review Pembeli
-
Keraton Surakarta Bersolek, 11 Kawasan Bersejarah Dipugar Mulai Agustus
-
FKGI Dukung Langkah Kemenhut, Infrastruktur Diminta Lindungi Koridor Gajah
-
Daftar Penjualan Mobil Mewah Juni dan Bocoran Amunisi Baru Jelang GIIAS 2026
-
Gagal Tembus Barikade Polisi, Massa Pendemo Berikan 3 Tuntutan Ini
-
Sempat Memanas, Massa Pendemo Coba Terobos Barikade Polisi Demi ke Patung Kuda
-
Persis Solo Resmi Rekrut Feby Eka Putra, Bidik Promosi ke BRI Super League
-
Sudah Masuk Ranah Pidana, KPK Ungkap Dasar Hukum Tolak Laporan Gratifikasi Raja Juli
-
4 Physical Sunscreen Heartleaf Cegah Kulit Sensitif Iritasi Akibat Sinar UV