- Pengamat politik Ray Rangkuti menyatakan tingkat keresahan masyarakat Indonesia saat ini mencapai 30 persen dibandingkan era Orde Baru.
- Teknologi informasi dan media sosial mempercepat penyebaran isu sehingga protes massa kini dapat terjadi jauh lebih cepat.
- Fenomena demonstrasi di depan gedung DPR pada Agustus 2025 menunjukkan perubahan sosial bisa mencapai titik jenuh secara instan.
Suara.com - Pengamat politik Ray Rangkuti memberikan analisis mendalam terkait situasi sosio politik Indonesia saat ini.
Ia menilai, meski tingkat keresahan publik terhadap tata kelola pemerintahan dan ekonomi saat ini baru mencapai kisaran 30 persen jika dibandingkan dengan era Orde Baru, namun potensi ledakan protes massa kini bisa terjadi jauh lebih cepat.
Ray mengenang kembali bagaimana sulitnya membangun gerakan mahasiswa pada tahun 1998 untuk meyakinkan publik bahwa rezim Mantan Presiden, Soeharto, harus berakhir.
Menurutnya, ada perbedaan signifikan dalam hal infrastruktur percepatan informasi.
"Saya kira kita baru di angka 30% dari apa yang pernah kita alami di era Orde Baru," ujar Ray Rangkuti dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Minggu (31/5/2026).
Menurut dia, meski bebannya baru terasa 30 persen, namun arus informasi saat ini memiliki kekuatan yang berbeda.
"Tapi percepatan isunya itu jauh lebih kuat dibandingkan tentu saja ketika itu terjadi di era Pak Harto gitu. Dengan bantuan media sosial gitu ya, dengan bantuan transportasi yang jauh lebih mudah gitu, tingkat pendidikan masyarakat kita yang sudah jauh lebih tinggi gitu. Nah, itu membuat satu peristiwa itu jauh lebih cepat sampai ke masyarakat kan dibanding dengan tahun '98 gitu," tambahnya.
Ray juga menceritakan pengalamannya saat kuliah semester satu, di mana ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kesadaran kolektif mahasiswa.
"Itu artinya bisa sampai 7 tahun kita membentuk itu gitu. lama sekali. Dan di era begitu demonstrasi-demonstrasi menuju camp itu itu bukan sehari dua hari digalang. Saya sendiri keliling dulu tuh 7 bulan 8 bulan sebelumnya dari kampus ke kampus," ujarnya.
Baca Juga: Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Kondisi tersebut sangat kontras dengan fenomena yang terjadi belakangan ini.
Ray mencontohkan gerakan dengan tagar "Peringatan Darurat" dengan poster biru yang viral di media sosial pada Agustus 2025 lalu.
Gerakan tersebut mampu menggalang ribuan orang untuk mengepung gedung DPR RI hanya dalam hitungan hari.
"Kalau Anda lihat pengepungan DPR ketika isu Indonesia darurat kan itu enggak lama, mungkin dua hari tagar Indonesia darurat yang biru itu muncul ribuan orang, besoknya ribuan orang sudah mengepung DPR," ujarnya.
Ia pun memberikan catatan penting bahwa kecepatan perubahan sosial saat ini tidak lagi bergantung pada durasi kekuasaan, melainkan pada titik jenuh yang bisa dicapai secara instan melalui teknologi.
"Kalau di 98 itu orang butuh berbulan-bulan untuk sampai pada satu titik kulminasi keresahan itu, ini (sekarang) hitungan hari bisa terjadi. Kalau di era 98 ya, Soeharto membutuhkan 32 tahun untuk kemudian orang merasa jenuh, jenuh itu sekarang tuh enggak butuh (lama),” ujarnya. (Reporter: Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Ratusan Aktivis dan Intelektual Gelar Konferensi Republik Soroti Krisis Demokrasi hingga Oligarki
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
Terkini
-
Skandal WO Marwah: 58 Calon Pengantin Tertipu, Total Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar
-
Gagal 'Pelaminan', Pasutri Pemilik WO Marwah Kini Berakhir di Sel Tahanan
-
Prabowo Diminta 'Pensiun' Keliling Dunia, Saatnya Oper Misi Diplomatik ke Menlu Sugiono
-
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
-
Pakar Sebut Hakim PN Jakpus Bisa Kabulkan Gugatan LCC Empat Pilar MPR, Jadi Terapi Kejut
-
KPK Didesak Segera Periksa Dirjen Bea Cukai Djaka Terkait Kasus Suap Blueray Cargo
-
Ray Rangkuti Sentil Mentalitas '5D' DPR: Datang, Duduk, Duit, dan Jadi Jubir Pemerintah
-
Daftar Majelis Hakim PN Jakpus yang Bakal Adili Gugatan LCC MPR, Ada Sosok Ummi Kusuma Putri
-
Ketua MPR Ahmad Muzani Digugat ke PN Jakpus Buntut Kisruh LCC Empat Pilar
-
Kunjungan Prabowo Dianggap Spontan, Seskab Teddy Diminta Tak Main Rahasia