- Para astronom menemukan perubahan aktivitas magnetik Matahari yang terkonsentrasi di lapisan lebih dangkal berdasarkan data tahun 1987-2025.
- Penelitian melalui jaringan BiSON menunjukkan reorganisasi energi internal Matahari yang memengaruhi akurasi pengukuran aktivitas di permukaan bintang tersebut.
- Perubahan struktur internal Matahari berdampak langsung pada cuaca antariksa yang berpotensi mengganggu sistem navigasi dan infrastruktur kelistrikan Bumi.
Suara.com - Para astronom mengungkap temuan baru yang menunjukkan adanya perubahan tidak biasa di bagian dalam Matahari.
Fenomena yang disebut sebagai perubahan pada "detak jantung" Matahari ini diyakini dapat memengaruhi cuaca antariksa yang berdampak langsung terhadap Bumi.
Penelitian tersebut didasarkan pada hampir 40 tahun pengamatan terhadap gelombang suara yang merambat di dalam Matahari.
Dari data tersebut, ilmuwan menemukan tanda-tanda bahwa aktivitas magnetik di dalam bintang pusat tata surya itu mulai terkonsentrasi pada lapisan yang lebih dangkal di bawah permukaannya.
Studi ini memanfaatkan data yang dikumpulkan antara 1987 hingga 2025 melalui enam teleskop yang tergabung dalam Birmingham Solar Oscillations Network (BiSON).
Jaringan observasi tersebut merekam perubahan sangat kecil pada frekuensi osilasi Matahari selama beberapa siklus aktivitasnya.
Para peneliti menjelaskan bahwa gelombang suara di dalam Matahari berfungsi layaknya alat pemindai yang memungkinkan ilmuwan mengamati struktur internal tanpa harus melihatnya secara langsung.
Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan signifikan sejak siklus Matahari ke-23.
Hubungan antara getaran internal Matahari dan aktivitas yang terlihat di permukaannya kini tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Baca Juga: Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali
Temuan paling menarik adalah aktivitas medan magnet Matahari tampaknya semakin "tertekan" ke lapisan yang lebih dekat dengan fotosfer, yaitu lapisan bercahaya yang terlihat dari Bumi.
Profesor Bill Chaplin dari Universitas Birmingham, Inggris, selaku penulis utama penelitian tersebut, mengatakan Matahari memiliki semacam ritme alami atau "detak biologis" yang mengatur periode aktivitas magnetiknya.
"Matahari memiliki siklus aktivitas yang bergantian antara fase kuat dan lemah. Namun pengukuran tradisional di permukaan kemungkinan tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan yang sedang terjadi jauh di dalamnya," kata Chaplin dikutip dari The Guardian.
Tim peneliti menilai fenomena ini bukan sekadar akibat melemahnya medan magnet Matahari.
Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya reorganisasi besar dalam cara energi magnetik disimpan dan didistribusikan di bagian dalam Matahari.
Penemuan itu juga membantu menjelaskan mengapa Siklus Matahari ke-25 saat ini terlihat relatif biasa jika diamati dari permukaan, tetapi justru menunjukkan aktivitas yang lebih kuat berdasarkan data seismik atau getaran internal.
Berita Terkait
-
Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali
-
Bumi Diprediksi Makin Panas hingga 2030, Sudah Cukupkah Upaya Mitigasinya?
-
Bukan CGI atau Planet Mars, Pulau Alien Ini Nyata Ada di Bumi
-
Misteri Jalan 'Tak Penting' di Gunung Ciremai, Warga Cium Aroma Proyek Geothermal Senyap
-
Pakeeeet! Teriakan Kebahagiaan atau Lonceng Kematian bagi Bumi Kita?
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi