News / Internasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 15:40 WIB
Fenomena aphelion berkaitan dengan posisi benda-benda antariksa terhadap matahari.
Baca 10 detik
  • Para astronom menemukan perubahan aktivitas magnetik Matahari yang terkonsentrasi di lapisan lebih dangkal berdasarkan data tahun 1987-2025.
  • Penelitian melalui jaringan BiSON menunjukkan reorganisasi energi internal Matahari yang memengaruhi akurasi pengukuran aktivitas di permukaan bintang tersebut.
  • Perubahan struktur internal Matahari berdampak langsung pada cuaca antariksa yang berpotensi mengganggu sistem navigasi dan infrastruktur kelistrikan Bumi.

Suara.com - Para astronom mengungkap temuan baru yang menunjukkan adanya perubahan tidak biasa di bagian dalam Matahari.

Fenomena yang disebut sebagai perubahan pada "detak jantung" Matahari ini diyakini dapat memengaruhi cuaca antariksa yang berdampak langsung terhadap Bumi.

Penelitian tersebut didasarkan pada hampir 40 tahun pengamatan terhadap gelombang suara yang merambat di dalam Matahari.

Dari data tersebut, ilmuwan menemukan tanda-tanda bahwa aktivitas magnetik di dalam bintang pusat tata surya itu mulai terkonsentrasi pada lapisan yang lebih dangkal di bawah permukaannya.

Studi ini memanfaatkan data yang dikumpulkan antara 1987 hingga 2025 melalui enam teleskop yang tergabung dalam Birmingham Solar Oscillations Network (BiSON).

Jaringan observasi tersebut merekam perubahan sangat kecil pada frekuensi osilasi Matahari selama beberapa siklus aktivitasnya.

Para peneliti menjelaskan bahwa gelombang suara di dalam Matahari berfungsi layaknya alat pemindai yang memungkinkan ilmuwan mengamati struktur internal tanpa harus melihatnya secara langsung.

Ilustrasi Matahari - Penyebab Suhu Panas di Indonesia (Pixabay)

Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan signifikan sejak siklus Matahari ke-23.

Hubungan antara getaran internal Matahari dan aktivitas yang terlihat di permukaannya kini tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Baca Juga: Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali

Temuan paling menarik adalah aktivitas medan magnet Matahari tampaknya semakin "tertekan" ke lapisan yang lebih dekat dengan fotosfer, yaitu lapisan bercahaya yang terlihat dari Bumi.

Profesor Bill Chaplin dari Universitas Birmingham, Inggris, selaku penulis utama penelitian tersebut, mengatakan Matahari memiliki semacam ritme alami atau "detak biologis" yang mengatur periode aktivitas magnetiknya.

"Matahari memiliki siklus aktivitas yang bergantian antara fase kuat dan lemah. Namun pengukuran tradisional di permukaan kemungkinan tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan yang sedang terjadi jauh di dalamnya," kata Chaplin dikutip dari The Guardian.

Tim peneliti menilai fenomena ini bukan sekadar akibat melemahnya medan magnet Matahari.

Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya reorganisasi besar dalam cara energi magnetik disimpan dan didistribusikan di bagian dalam Matahari.

Penemuan itu juga membantu menjelaskan mengapa Siklus Matahari ke-25 saat ini terlihat relatif biasa jika diamati dari permukaan, tetapi justru menunjukkan aktivitas yang lebih kuat berdasarkan data seismik atau getaran internal.

Load More