- Mahfud MD menanggapi silang pendapat antara Seskab Teddy Indra Wijaya dan Dino Patti Djalal pada Rabu (3/6/2026).
- Secara prosedural, pejabat negara memang wajib menanggung sendiri kelebihan biaya jika pengeluaran kunjungan melampaui plafon anggaran negara.
- Publik lebih menyoroti frekuensi kunjungan yang terlalu sering, transparansi hasil, serta efektivitas dampak kebijakan bagi pembangunan nasional.
Suara.com - Mantan Menteri koordinator Bidang Politik dan keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, turut angkat bicara mengenai silang pendapat antara Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dengan diplomat senior Dino Patti Djalal.
Mahfud menyoroti pernyataan Teddy yang menyebut bahwa kelebihan biaya kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto ditanggung menggunakan kantong pribadi sang Presiden.
Menurutnya, secara aturan ketatanegaraan, pejabat negara memang diwajibkan menanggung sendiri biaya tambahan jika pengeluaran tersebut melampaui plafon anggaran yang telah ditetapkan negara.
"Secara aturan begini, setiap kunjungan kenegaraan bukan hanya presiden, menteri atau pejabat apapun kalau ada kelebihan yang dibutuhkan dari yang ditentukan oleh anggaran memang harus biaya sendiri," ujar Mahfud dalam kanal Youtube Mahfud MD Official, Rabu (3/6/2026).
Mahfud menilai pembelaan Teddy tersebut bukanlah jawaban inti dari kritik yang dilemparkan publik.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan dana pribadi untuk menutupi kelebihan anggaran adalah hal yang otomatis dan prosedural.
"Jadi sebenarnya itu bukan jawaban yang tepat bahwa setiap kelebihan itu dibiayai oleh pribadi, itu memang harus, otomatis harus dibiayai," ungkapnya.
Bukan Soal Nominal, Tapi Transparansi dan Hasil
Lebih lanjut, Mahfud menegaskan bahwa substansi kritik dari Dino Patti Djalal maupun masyarakat sebenarnya bukan hanya terletak pada besaran anggarannya, melainkan pada frekuensi kunjungan yang dinilai terlalu sering serta kejelasan hasilnya.
Baca Juga: Komunikasi Istana Dinilai Kehilangan Arah, Publik Jenuh dengan Drama Elite
"Masalahnya itu karena terlalu sering kan gitu dan produknya gak jelas pertanggungjawabannya kan Itu yang dipersoalkan, bukan soal anggarannya aja," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa rombongan besar dalam kunjungan kepresidenan adalah hal yang wajar dan memiliki landasan anggaran. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah efektivitas dan tindak lanjut dari setiap komitmen internasional yang dibuat.
"Persoalannya bukan jumlah anggarannya, tapi terlalu sering itu, lalu boros gitu. Sementara produknya juga apa follow up dari itu? seperti itu saya kira ya supaya dikurang," jelas Mahfud.
Mahfud juga mengingatkan pentingnya transparansi mengenai dampak kunjungan tersebut terhadap kebijakan dalam negeri.
Ia menyoroti potensi ketidaksinkronan antara komitmen luar negeri dengan rencana pembangunan nasional.
"Transparansi serta apa akibatnya terhadap pejabat di negara kita ini kalau melakukan komitmennya dengan negara lain begitu. Sementara di tempat kita gak ada program itu, di kebijakan kita," ujarnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Terkuak! Ini Alasan Prabowo Copot Dadan Hindayana Cs Sebelum Akhirnya Ditahan Kejagung
-
Detik-detik Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Masuk Mobil Tahanan
-
Komunikasi Istana Dinilai Kehilangan Arah, Publik Jenuh dengan Drama Elite
-
Mahfud Tegaskan Polisi Tak Bisa Menolak Putusan Praperadilan Kasus Andrie Yunus
-
Dadan Hindayana dari Partai Apa? Eks Kepala BGN yang Dijemput Kejagung
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
Terkini
-
'Ampun Bos', Menteri PU Dody Hanggodo Tertawa Dengar Kabar Mau Dicopot
-
Polemik Perjalanan Menteri PU Memanas, KPK: Sudah Tak Sesuai Peruntukan!
-
Purbaya Sebut Kegiatan PFII Pakai Valuta Asing, Komunikasi Bahasa Inggris
-
4 Lipstik Buttonscarves Beauty Diskon sampai 80% di Shopee, Harga Mulai Rp60 Ribuan!
-
Pakai Masker dan Berjalan Cepat, Raja Juli Cuma Ucap 'Terima Kasih' Saat Ditanya Soal KPK
-
Persis Solo Datangkan Terens Puhiri untuk Pegadaian Championship 2026/2027
-
Satu Siswa SD Meninggal, Luthfi Pastikan Korban Kecelakaan KA Semarang dapat Perawatan Penuh
-
Serba-serbi Piala Dunia 2026: Kiprah Fenomenal Vozinha hingga Drama Intervensi Aturan
-
Pemain Baru Persija Langsung Angkat Topi Merasakan Atmosfer Dilatih Shin Tae-yong
-
Purbaya Ungkap Tujuan PFII, Tarik Investasi Asing hingga Biayai Sektor Riil