News / Nasional
Selasa, 09 Juni 2026 | 09:36 WIB
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qadari dalam peluncuran buku Presiden Solusi di University Club, Jakarta, Senin (8/5/2026). (Suara.com/Lilis Varwati)
Baca 10 detik
  • Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qadari mengungkapkan strategi investasi saham yang biasa digunakannya saat pasar bergejolak.
  • Menurutnya, investor sebaiknya fokus pada fundamental emiten, bukan hanya pergerakan IHSG.
  • Ia juga menekankan pentingnya disiplin mengambil keuntungan ketika target, misalnya 35-40 persen, telah tercapai.

Suara.com - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qadari membocorkan strategi yang biasa digunakannya saat berinvestasi saham di tengah gejolak pasar. Menurut dia, investor tidak boleh hanya terpaku pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), melainkan harus memahami kualitas perusahaan atau emiten yang dibeli.

Qadari bahkan mengaku pernah merealisasikan keuntungan dari saham yang dimilikinya setelah target yang ditentukan tercapai.

"Emiten saya waktu itu sudah cuan, jadi saya sudah check out duluan," kata Qadari saat peluncuran buku Presiden Solusi di Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).

Di tengah tekanan yang masih membayangi IHSG, Qadari menilai banyak investor terjebak pada pergerakan indeks secara keseluruhan. Padahal, menurutnya, yang dibeli investor sesungguhnya adalah saham perusahaan, bukan indeks pasar.

"Kalau main saham jangan lihat IHSG secara keseluruhan. Kita pegang emiten," ujarnya.

Menurut Qadari, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan investor adalah tidak memiliki target keuntungan yang jelas. Akibatnya, keputusan investasi kerap dipengaruhi emosi dan harapan bahwa harga saham akan terus naik.

"Kalau kita mau trading, kita harus punya target di angka berapa. Masalah kita itu biasanya di emosi, di psikologi. 'Ah, kayaknya nanti naik lagi'. Nah itu nggak boleh, harus disiplin," tuturnya.

Ia mencontohkan, ketika target keuntungan sudah tercapai, investor sebaiknya berani mengambil keputusan untuk keluar dari pasar dan mengamankan keuntungan yang sudah didapat.

"Kalau target sudah tercapai misalnya 35 persen, 40 persen, out," sarannya.

Baca Juga: Rangkap Jabatan, Angga Raka Prabowo Dibela Akademisi

Dalam kesempatan itu, Qadari juga menyinggung saran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya mengajak investor memanfaatkan koreksi pasar untuk membeli saham di harga murah atau dikenal dengan istilah serok bawah.

Menurut Qadari, strategi membeli saat pasar turun tidak selalu menghasilkan keuntungan instan karena pergerakan pasar sering kali sulit diprediksi.

Qadari kemudian melontarkan celetukan yang mengundang tawa hadirin.

"Pak Purbaya itu Menteri Keuangan, bukan trader," katanya.

Meski begitu, Qadari menegaskan investor tetap perlu memperhatikan kondisi ekonomi secara umum. Namun, menurut dia, analisis terhadap emiten tetap menjadi faktor yang paling penting sebelum mengambil keputusan investasi.

"Saya kasih tahu sekarang. Lihat makronya, tapi juga lihat emitennya," pungkasnya.

Load More