- Polri menyatakan kesulitan memenuhi kuota 2 persen pekerja penyandang disabilitas sesuai UU Nomor 8 Tahun 2016.
- Brigjen Pol. Erthel Stephan menjelaskan bahwa kendala utama adalah jumlah personel besar yang mencapai 450.000 anggota.
- Hingga saat ini, Polri telah merekrut 22 penyandang disabilitas melalui jalur bertahap dengan memperhatikan kecocokan kompetensi dan organisasi.
Suara.com - Polri mengakui tidak mudah memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang mewajibkan instansi pemerintah mempekerjakan sedikitnya 2 persen penyandang disabilitas.
Hal itu terungkap dalam Forum Diskusi Publik bertajuk Inspirasi, Kesempatan, dan Kontribusi Penyandang Disabilitas dalam Pengabdian kepada Negara yang digelar SSDM Polri di Ambhara Hotel, Jakarta pada Selasa (9/6/2026).
Pertanyaan mengenai target pemenuhan kuota tersebut disampaikan oleh salah satu peserta forum diskusi, Istudiyanti Priatmi atau biasa dipanggil Ince dari ABK UMKM (Yayasan Griya Bina Karya Anak Berkebutuhan Khusus).
Ia menyoroti bahwa sejak Undang-Undang Penyandang Disabilitas disahkan pada 2016, jumlah anggota Polri dari kalangan penyandang disabilitas masih relatif sedikit.
"Saya ingin tanyakan untuk proyeksi Polri untuk dapat mencapai jumlah sesuai dengan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 untuk 2 persennya, Pak," kata Ince.
Menjawab pertanyaan itu, Karodalpers SSDM Polri, Brigjen Pol. Erthel Stephan menjelaskan bahwa tantangan terbesar terletak pada besarnya jumlah personel kepolisian di seluruh Indonesia.
"Kalau 2 persennya itu kecil, Bu, gampang itu. Cuma kalau dikali dengan jumlah anggota polisi seluruh Indonesia yang 450.000, berarti itu 9.000, Bu. Berarti itu 9.000 teman-teman disabilitas," ujar Erthel sebagai salah satu narasumber di Forum tersebut.
Menurut dia, jumlah tersebut tidak mungkin dipenuhi dalam waktu singkat karena kapasitas rekrutmen tahunan Polri sendiri tidak mencapai angka tersebut.
"Sepertinya kalau dalam satu kali rekrutmen setahun, itu rekrutmen kami saja nggak sampai segitu, Bu. Nah, jadi kayaknya tidak mungkin masa kita merekrut teman-teman disabilitas semua?" katanya.
Baca Juga: Tak Bisa Asal Masuk! Polisi Jabat di Kementerian Wajib Ikuti Open Bidding dan Seleksi Ketat
Meski demikian, Erthel memastikan tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berhenti membuka peluang bagi penyandang disabilitas.
"Kami akan tetap dinamis bergerak terus. Ini jumlahnya akan kita perbesar terus sesuai dengan ruang jabatan dan kompetensi yang memang bisa kami buka untuk teman-teman disabilitas," lanjutnya.
Erthel Stephan menjelaskan bahwa hingga saat ini Polri telah merekrut 22 penyandang disabilitas melalui jalur ASN, Bintara, dan SIPSS.
Menurut Erthel, penerimaan dilakukan secara bertahap karena Polri harus memastikan kesiapan organisasi, baik dari sisi budaya kerja, infrastruktur, maupun kecocokan jabatan.
"Kami membuka ruang lebih besar, tetapi harus mencocokkan ruang jabatan dan kompetensi dari rekan-rekan disabilitas," kata Erthel.
Ia menegaskan, Polri tidak ingin sekadar mengejar angka tanpa menyiapkan sistem pendukung yang memadai.
"Kami khawatir justru kami nanti lepas kontrol, tidak maksimal, asal rekrut dan lain sebagainya malah jadi permasalahan yang berkepanjangan nanti di organisasi," pungkasnya. (Reporter: Dinda Pramesti K)
Berita Terkait
-
Tak Bisa Asal Masuk! Polisi Jabat di Kementerian Wajib Ikuti Open Bidding dan Seleksi Ketat
-
Kapolri Listyo soal UU Baru Polri: Presiden Ingin Polri Terlibat di Hal-hal Kepentingan Nasional
-
Tepis Isu Bottleneck Karier, Kapolri Tegaskan Regenerasi Polri Tetap Berjalan Meski Ada UU Baru
-
Usia Pensiun Jenderal Bintang Empat Polri Bisa Diperpanjang, Presiden Pegang Kunci
-
UU Baru Bolehkan Polisi Urus Gizi Nasional hingga Pangan, Eddy Hiariej: Prinsipnya 'To Serve'!
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi