- Ekonom UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, mengkritik kebijakan APBN pemerintah yang dinilai membebani kelas menengah serta daerah pada Rabu (10/6/2026).
- Pemerintah dianggap memangkas anggaran daerah dan masyarakat produktif, namun tetap mempertahankan proyek besar yang manfaatnya kurang nyata.
- Wisnu merekomendasikan evaluasi program strategis pusat demi menciptakan lapangan kerja berkualitas dan perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.
Suara.com - Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, mengkritik cara pemerintah menjaga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai justru membebani kelas menengah dan pemerintah daerah.
Di tengah tekanan ekonomi, kenaikan BBM non subsidi dan pajak, hingga daya beli yang melemah, pemerintah dianggap tetap mempertahankan program-program besar dengan anggaran fantastis yang manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Menurut Wisnu, kebijakan penghematan atau efisiensi belanja negara sejauh ini tidak menyentuh inti persoalan.
Pemangkasan anggaran justru dirasakan daerah dan kelompok masyarakat produktif, sementara proyek-proyek prioritas pusat tetap berjalan tanpa evaluasi serius.
"Jadi, ya rekomendasi kebijakan paling menarik berarti pemerintah harus cut spending. Tapi yang saat ini saya lihat, cut spending dilakukan pemerintah malah mengorbankan kelas menengah, malah mengorbankan daerah," kata Wisnu, Rabu (10/6/2026).
Ia menyoroti keluhan sejumlah kepala daerah yang belakangan mengaku kesulitan membayar gaji pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).
Bagi Wisnu, kondisi itu memperlihatkan adanya ketimpangan prioritas anggaran antara pusat dan daerah di tengah situasi fiskal yang semakin sempit.
Wisnu menilai pemerintah seharusnya berani menghentikan atau setidaknya mengevaluasi program-program besar yang menyedot APBN namun belum menunjukkan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi masyarakat.
"Harusnya kemudian mereka mau stop program-program atau kegiatan-kegiatan dari pemerintah pusat yang nilainya tuh sangat luar biasa fantastis, tapi kemudian manfaatnya belum kelihatan lebih jelas," tuturnya.
Baca Juga: Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
Ia secara terbuka menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Merah Putih yang sejauh ini memang membutuhkan anggaran sangat besar.
"Betul nanti akan ada suara protes, 'Ini kan program udah besar, nanti ada pengangguran 1 juta, 2 juta.' Saya enggak bilang itu salah, cuman selama ini juga kita melihat gaji guru Rp300.000 kita ketawa-tawa aja, joget-joget aja," ungkapnya.
"Jadi ketika terus pengangguran ya sama-sama gitu, entar kan bisa dialihkan program-program lain, bisa dialihkan program-program yang lebih tepat sasaran, social protection yang lebih tepat sasaran, investasi padat karya yang lebih baik," katanya menambahkan.
Ia mengatakan perlindungan terhadap kelas menengah seharusnya dilakukan lewat investasi dan belanja negara yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Jika tidak, tekanan terhadap daya beli masyarakat akan terus membesar sementara negara sibuk mempertahankan proyek-proyek mahal yang efektivitasnya masih dipertanyakan.
"Buat kelas menengah atau menuju kelas menengah kadang memang enggak butuhnya cash transfer, butuhnya adalah pekerjaan yang stabil, tidak dipecat, lalu kemudian daya beli yang kuat," tandasnya.
Tag
Berita Terkait
-
KSP Dudung Abdurachman Ungkap Nasib Motor Listrik BGN Senilai Rp1,03 Triliun
-
Singgung Lagu Mas Bahlil Ganteng, Mufti PDIP Kritik Kenaikan BBM: Kapan Pemerintah Memahami Rakyat?
-
Pertamax Tembus Rp16 Ribu, JS Khairen Sindir Balik Cuitan Lawas Partai Gerindra
-
Namanya Terseret Kasus BGN, Dudung Bantah Punya Dapur MBG: Silakan Cek, Saya Kasih Hadiah!
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda