- Mahasiswa melakukan demonstrasi di berbagai daerah pada Juni 2026 untuk menolak kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi pemerintah.
- Pakar kebijakan publik menilai aksi mahasiswa sulit mengubah keputusan pemerintah yang fokus menjaga stabilitas fiskal dan anggaran.
- Pemerintah menghadapi defisit fiskal besar sehingga memilih mempertahankan kebijakan kenaikan BBM guna menghindari penambahan beban utang negara.
Suara.com - Rencana aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah untuk menolak kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai kecil kemungkinannya mampu mengubah keputusan pemerintah.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, menilai tekanan fiskal dan pelemahan ekonomi membuat pemerintah cenderung mempertahankan kebijakan tersebut meski mendapat penolakan publik.
Namun, terlepas dari itu, aksi mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dalam ruang demokrasi yang harus dihormati. Menurut dia, mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk soal kenaikan harga BBM nonsubsidi.
"Demo di berbagai tempat yang menolak kenaikan harga BBM non-subsisi sebagai bentuk kebebasan di ruang demokrasi yang perlu dihormati," kata Subarsono kepada Suara.com, Kamis (11/6/2026).
Kendati demikian, ia menilai peluang gerakan mahasiswa untuk membatalkan kebijakan tersebut cukup kecil.
"Dengan tidak mengurangi semangat adik-adik mahasiswa nampaknya perjuangan mahasiswa sulit mengubah kebijakan yang sudah ada," imbuhnya.
Salah satu penyebabnya adalah kondisi fiskal pemerintah yang sedang tertekan akibat defisit anggaran yang terus membesar.
"Mei 2026 defisit fiskal sudah mencapai sebesar Rp180.4 Triliun dan kalau pemerintah tidak menambah pendapatannya dari kenaikan BBM non-subsidi, maka akan menambah utang pemerintah untuk menutup defisit fiskal," tuturnya.
Menurut Subarsono, situasi menjadi semakin berat setelah pelemahan nilai tukar rupiah ikut menambah beban APBN. Dalam kondisi tersebut, pemerintah diperkirakan akan lebih memilih menjaga stabilitas fiskal dan mempertahankan kepercayaan investor dibandingkan membatalkan kebijakan kenaikan BBM.
Baca Juga: Derita Pekerja Setelah Harga Pertamax Naik: Sekarang Uang Rp50.000 Tak Cukup
Apalagi pemerintah juga tengah mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen. Oleh sebab itu, stabilitas ekonomi dan politik dinilai menjadi prioritas utama yang ingin dijaga pemerintah.
Di sisi lain, ia menyoroti kecenderungan respons pemerintah terhadap kritik publik dalam beberapa waktu terakhir. Gerakan mahasiswa justru berpotensi menghadapi pendekatan represif apabila aksi protes berlangsung besar-besaran.
"Kalau merespons tuntutan mahasiswa dengan membatalkan kenaikan BBM non-subsidi, maka pilhannya adalah menutup defisit fiskal dengan utang, dan saya pikir probabilitasnya kecil atau bahkan tidak akan dilakukan oleh pemerintah dalam situasi rupiah yang melemah saat ini," tegasnya.
Selain faktor politik dan fiskal, Subarsono menyebut gerakan mahasiswa masih menghadapi tantangan dalam membangun solidaritas kolektif.
Menurut dia, tidak semua mahasiswa terdampak langsung oleh kenaikan BBM nonsubsidi karena sebagian besar masih menggunakan Pertalite.
Meski demikian, ia mengingatkan dampak tidak langsung tetap akan dirasakan masyarakat, terutama jika terjadi perpindahan besar-besaran pengguna Pertamax ke Pertalite.
Kondisi itu dikhawatirkan memicu antrean panjang di SPBU dan memperbesar keresahan sosial. Jika tidak ditangani dengan cepat, tekanan ekonomi akibat kenaikan BBM dikhawatirkan dapat berkembang menjadi persoalan sosial dan politik yang lebih luas.
"Ini perlu direspons oleh pemerintah dengan menambah supply pertalite di berbagai SPBU. Kalau tidak, bisa berpotensi menambah gejolak sosial dan gerakana mahasiswa menjadi riuh," tandasnya.
Berita Terkait
-
Derita Pekerja Setelah Harga Pertamax Naik: Sekarang Uang Rp50.000 Tak Cukup
-
Mengapa Pertamina Naikkan Harga Pertamax Saat Gajian Telah Habis?
-
Harga Pertamax Harusnya Tembus Rp 30.000/Liter
-
Pertamax Naik, Pakar Mewanti-wanti Risiko Migrasi Massal ke Pertalite
-
Update Harga Pertamax dan Pertalite Hari Ini 11 Juni 2026, Ini 3 Alasan Harga BBM Naik
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
Terkini
-
Klaim Serang 18 Pangkalan Militer AS, Iran Ancam Washington: Kawasan Ini akan Jadi Neraka!
-
Bawa Sang Anak yang Pebisnis, JK Minta Waktu Bertemu Presiden Prabowo di Istana Hari Ini
-
Disrupsi Teknologi: Kecerdasan Buatan Mulai Ambil Alih Pelatihan Korporasi Global
-
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Penyederhanaan Cukai Rokok, Tolak Penambahan Lapisan Tarif
-
Mau Gratis Naik MRT sampai Masuk Ragunan? Catat Dua Tanggal Ini
-
Menkes Budi: Sektor Kesehatan Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
-
Ketika Jakarta Berbenah Menjadi Kota yang Lebih Ramah Manusia di HUT Ke-499
-
Soal Begal Takut Tentara, DPR Ingatkan Proses Pidana Tetap di Tangan Polisi
-
Di Tengah Kenaikan Harga BBM, Bisakah Sampah Plastik Menjadi Sumber Energi Alternatif?
-
Menkes Minta RS dan Klinik Jujur Isi Sensus Ekonomi: Jangan Takut Data Dipakai untuk Pajak