- Pemerintah menuai kritik karena tetap melanjutkan pemanfaatan 21.801 motor listrik senilai Rp1,03 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis.
- Anggota MBG Watch Agus Sarwono mempertanyakan dasar kebutuhan nyata serta perencanaan anggaran pengadaan motor listrik yang dinilai keliru.
- Pemerintah didesak melakukan audit menyeluruh terhadap proses pengadaan yang saat ini sedang diperiksa oleh aparat penegak hukum.
Suara.com - Rencana pemerintah tetap melanjutkan pemanfaatan 21.801 unit motor listrik yang dibeli untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik.
Anggota MBG Watch Agus Sarwono menilai langkah tersebut justru menunjukkan cara berpikir yang keliru dalam pengelolaan anggaran publik.
Menurut Agus, pemerintah seharusnya lebih dulu menjawab apakah pengadaan motor listrik senilai sekitar Rp1,03 triliun itu memang didasarkan pada kebutuhan nyata program, bukan sekadar mencari cara agar barang yang sudah terlanjur dibeli dapat digunakan.
"Keputusan untuk terus melanjutkan pengadaan atau pemanfaatan 21.801 motor listrik MBG mencerminkan pemikiran yang salah. Negara justru sibuk mencari fungsi untuk barang yang sudah dibeli, tanpa terlebih dahulu menjawab apakah pengadaan itu benar-benar berdasarkan kebutuhan nyata program," kata Agus kepada suara.com, Jumat (12/6/2026).
Ia menegaskan persoalan utama dalam polemik tersebut bukan semata-mata soal pemanfaatan motor listrik, melainkan proses perencanaan dan pengambilan keputusan anggaran yang melatarbelakanginya.
"Apakah belanja publik senilai sekitar Rp1,03 triliun tersebut dibuat melalui perencanaan yang tepat, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan?" kritiknya.
Ia juga mempertanyakan argumentasi yang menyebut motor listrik harus tetap dimanfaatkan karena sudah terlanjur dibeli dan dibayar negara.
Menurut Agus, pendekatan tersebut berisiko mengaburkan persoalan yang lebih mendasar, yakni apakah pengadaan sejak awal memang memiliki justifikasi kebutuhan yang kuat.
Lebih lanjut, Agus menilai kerugian negara tidak hanya dapat diukur dari ada atau tidaknya pemanfaatan barang yang sudah dibeli.
Baca Juga: Jupnas Gizi Pertanyakan Kontradiksi Data Program MBG, Padahal Dulu Pamer Capaian
"Kerugian negara tidak hanya muncul ketika barang terabaikan, tapi kerugian sudah terjadi saat pengadaan dilakukan tanpa dasar kebutuhan yang jelas, ketika urgensinya diragukan, ketika usulannya pernah ditolak, dan ketika prosesnya sekarang sedang diperiksa oleh aparat penegak hukum," kata dia.
Karena itu, Agus meminta pemerintah tidak hanya fokus pada upaya pemanfaatan aset, tetapi juga memastikan adanya evaluasi dan audit menyeluruh terhadap proses pengadaan motor listrik tersebut.
"Jika pemerintah lebih menekankan narasi 'penyelamatan aset' daripada audit menyeluruh, maka publik berhak curiga bahwa yang sedang diselamatkan bukan kepentingan program, tetapi keputusan pengadaan yang sejak awal bermasalah," ujar Agus.
Tag
Berita Terkait
-
Jupnas Gizi Pertanyakan Kontradiksi Data Program MBG, Padahal Dulu Pamer Capaian
-
DPR Endus Pemborosan Rp1 T di BGN, Desak Audit Investigatif Ribuan Dapur MBG
-
6 Poin Kritis dr. Tirta di Tengah Carut-Marut Kebijakan: Dari Pertamax hingga Makan Bergizi Gratis
-
Purbaya Tunggu Keputusan Prabowo soal Potong Anggaran MBG
-
Program MBG Boros Rp1 T per Bulan, Pengamat: Mereka Memperhitungkan Ini untuk Investasi Pemilu 2029
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
ICW: Audit BPK Jadi Komoditas Dagang, WTP Cuma Alat Pencitraan Politik
-
Migrasi Pertamax ke Pertalite: Efek Domino di Baik Kenaikan BBM yang Mengintai
-
Jupnas Gizi Pertanyakan Kontradiksi Data Program MBG, Padahal Dulu Pamer Capaian
-
Massa Mahasiswa ke Aparat di Thamrin: Bapak Nanti Jaganya di HI Saja, Biarin Kita Jalan Dulu Pak!
-
BTN Jakarta International Marathon 2026 Diikuti Lebih Dari 45.000 Peserta dari 52 Negara
-
Jejak Angelo Pandeli: Pentolan Hells Angels yang Diburu Dunia Ditangkap di Bali
-
DPR Endus Pemborosan Rp1 T di BGN, Desak Audit Investigatif Ribuan Dapur MBG
-
Alasan Polisi Larang Mahasiswa Demo di Bundaran HI, Takut Jakarta Lumpuh
-
Kisah Ade dan Obed, PKL yang Ketiban Rezeki Nomplok di Tengah Riuhnya Demo Mahasiswa di Bundaran HI
-
Demo Mahasiswa: 5 Rute Transjakarta Berhenti dan MRT Tutup Sejumlah Akses Stasiun