- Presiden Prabowo Subianto dikritik karena kunjungan luar negerinya dinilai belum memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Indonesia.
- Peneliti CELIOS menyatakan realisasi investasi asing tidak tumbuh signifikan dan justru kalah dibandingkan dominasi modal dalam negeri.
- Perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat pada awal 2026 dianggap merugikan serta memicu kenaikan harga energi bagi publik.
Suara.com - Frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto jadi sorotan tajam di tengah situasi ekonomi nasional yang dinamik.
Meski pemerintah berulang kali mengklaim bahwa rangkaian diplomasi internasional tersebut dilakukan untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global serta menarik minat investor kakap, sejumlah pihak menilai hasilnya belum menyentuh realitas ekonomi masyarakat bawah.
Peneliti Hukum Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Muhammad Saleh, memberikan analisis kritis terkait fenomena ini.
Menurutnya, intensitas lawatan luar negeri yang dilakukan Prabowo belum menunjukkan korelasi positif dengan capaian ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh publik.
Ada jurang pemisah yang lebar antara narasi keberhasilan diplomasi di meja perundingan dengan data faktual di lapangan.
"Pertama setiap agenda pemerintahan itu, kata kunci pertamanya itu harus punya dampak kepada masyarakat. Jadi misalkan kalau pemerintah klaim kunjungan keluar negeri itu mendorong investasi, tapi datanya kan sebenarnya menunjukkan sebaliknya. Misalkan kalau kita lihat angka belakangan ini, realisasi investasi asing di Indonesia itu kan justru tidak jauh lebih baik," Ujar Saleh seperti disampaikan saat Podcast Deeptalk di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip pada Senin (15/6/2026).
Pemerintah seringkali menggunakan angka-angka fantastis sebagai indikator keberhasilan diplomasi.
Namun, Saleh mengingatkan agar publik tidak terjebak pada angka makro yang tidak merepresentasikan kontribusi riil modal asing.
Jika ditelaah lebih mendalam, dominasi modal dalam negeri masih jauh lebih kuat dibandingkan hasil dari perburuan investasi di luar negeri yang dilakukan oleh kepala negara.
Baca Juga: 'Saya Memang Tukang Lapor!' Firdaus Oiwobo Polisikan Tyo Eks Ketua BEM UGM Usai Kritik Prabowo
"Misalkan Teddy klaim bahwa ada 2.000 triliun investasi di tahun 2025 itu kan angka gabungan dari penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri. Dan kontribusi asing atau penanaman modal asing itu kan cuman 49 persen dari keseluruhan itu. Artinya proporsinya itu tidak begitu besar," ujarnya.
Persoalan diplomasi ini tidak hanya terbatas pada angka investasi semata. Posisi tawar Indonesia dalam dinamika geopolitik global yang kian memanas juga menjadi titik lemah yang disoroti.
Saleh membandingkan performa diplomasi Indonesia dengan negara tetangga, seperti Malaysia, yang dianggap lebih lincah dalam memanfaatkan momentum konflik dan kemitraan strategis untuk keuntungan domestik mereka.
"Misalkan presiden mengklaim diplomasi internasional mereka lakukan untuk memperoleh kemitraan yang jauh lebih strategis. Buktinya di dalam diplomasi kita, Malaysia justru dapat keuntungan lebih banyak misalkan dari Iran. Karena Iran tidak menutup selatnya untuk Malaysia. Karena Malaysia dianggap punya posisioning yang jauh lebih baik," katanya.
Ketidakjelasan arah kemitraan dagang Indonesia saat ini dinilai membawa risiko besar bagi stabilitas ekonomi nasional.
Alih-alih mendapatkan keuntungan, Indonesia justru terjebak dalam perjanjian-perjanjian internasional yang dianggap tidak menguntungkan posisi produsen dan konsumen dalam negeri.
Berita Terkait
-
'Saya Memang Tukang Lapor!' Firdaus Oiwobo Polisikan Tyo Eks Ketua BEM UGM Usai Kritik Prabowo
-
'Suara Indonesia Penting!' Presiden Palestina Telepon Prabowo, Minta RI Terus Kawal Gaza
-
Prabowo Terima Utusan Qatar, Kerja Sama Investasi dan Pembangunan Jadi Fokus Pembahasan
-
Mana yang Turun Duluan? Banner Demo Mahasiswa di DPR Sindir Kenaikan BBM hingga Jabatan Prabowo
-
Bukan Gerakan Makar, Aliansi Cipayung: Cara Aparat Memperlakukan Kami Seolah Kami Melakukan Kudeta
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Taruna Bhakti Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Gus Ipul: Jadi Fondasi Bentuk Karakter Siswa
-
Apa Arti Kota Global Jika Betawi Kehilangan Akar? FBR Tagih Pergub Lembaga Adat ke Pramono
-
Danantara: Seluruh BUMN Properti Dalam Kondisi Tidak Baik, Akan Dikonsolidasikan
-
Kesukseskan Pemberantasan Judol Tak Hanya dari Turunnya Nominal Transaksi
-
Dukung Program Prioritas Presiden, Mendagri Tito Groundbreaking Sekolah Rakyat Kabupaten Biak Numfor
-
Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan 1 hingga 31 Agustus 2026 di Riau
-
Aston Villa Bungkam Indonesia All Stars 3-1 di GBK, Arkhan Kaka Cetak Gol Penghibur
-
Resmi! Port FC Tumbang, Persebaya vs Arema, Persija Hadapi Persib di Semifinal Piala Presiden 2026
-
PBNU Minta Ponpes Tanpa Izin Dilarang Beroperasi dan Dilarang Pakai Gelar Kiai
-
Jokowi ke Kader PSI: Kalau Semua Jalur Mentok, Datang Saja ke Solo