- BEM FH UBK diduga menerima uang setelah menghadiri audiensi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Jakarta.
- Mahasiswa menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban pengurus BEM FH UBK atas dugaan penerimaan dana setelah pertemuan di istana.
- Informasi mengenai nominal dana yang diterima masih simpang siur serta menuai berbagai spekulasi di media sosial.
Suara.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) mendadak menjadi pusat perhatian dan buah bibir warganet setelah diterpa isu miring.
Salah seorang mahasiswanya diduga menerima sejumlah uang setelah menghadiri agenda mediasi dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, beberapa waktu lalu.
Buntut dari beredarnya kabar tersebut, jajaran pengurus BEM FH UBK langsung dituntut untuk memberikan klarifikasi serta pertanggungjawaban, baik oleh pihak birokrasi kampus maupun dari masa mahasiswa UBK sendiri.
Langkah ini didesak guna memulihkan serta membersihkan nama baik institusi universitas yang dinilai ikut tercoreng. Proses interogasi dan konfrontasi yang dilakukan oleh sesama mahasiswa UBK terhadap pengurus BEM tersebut bahkan sempat disiarkan secara langsung (live) melalui platform digital TikTok.
“Saya ngaku salah dan mohon maaf kepada kalian semua,” tutur Ketua BEM FH UBK, Abdi Maludin, dalam potongan video yang beredar.
“Langkah apa yang akan kamu pertanggungjawabkan untuk balikin nama UBK?” cecar salah satu mahasiswa penanya dalam forum klarifikasi tersebut.
Dalam sesi penyampaian pengakuan secara personal, sejumlah pengurus memaparkan bahwa mereka mendapatkan kantong dana dengan nominal berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per individu.
Saat menghadiri undangan audiensi dengan Wapres Gibran, Abdi Maludin diketahui tidak datang sendirian, melainkan didampingi oleh rombongan delegasi mahasiswa lain yang berjumlah 15 orang.
Informasi Simpang Siur dan Spekulasi Nilai Fantastis di Media Sosial
Baca Juga: Komisi X DPR Dukung Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Kunker Pantau Program MBG
Meskipun pengakuan dari internal pengurus telah mencuat, kebenaran substantif dari informasi ini dinilai masih simpang siur dan belum dapat dipastikan secara mutlak. Hal ini dikarenakan pernyataan serta pengakuan yang dilontarkan oleh pengurus BEM FH UBK tersebut diduga kuat berada di bawah tekanan situasi interogasi massal.
Selain itu, beredar pula kabar burung yang menyebutkan bahwa distribusi kucuran dana tersebut mengalir ke figur mahasiswa yang berbeda-beda dengan skema yang tidak seragam.
Di sisi lain, jagat media sosial X (yang sebelumnya bernama Twitter) turut didera kegaduhan serupa terkait polemik ini. Salah satu akun informan publik, @txtda***en, mengunggah narasi yang jauh lebih mengejutkan dengan menyebut angka yang lebih fantastis.
Akun tersebut mengeklaim bahwa kelompok mahasiswa yang diundang masuk ke istana tersebut diduga menerima dana suap terorganisasi hingga menyentuh angka Rp300 juta pasca-pertemuan dengan Wapres Gibran.
“Masih ingat mahasiswa yg di ajak gibran masuk ke istana? Ternyata mereka menerima suap pas ketemu gibran sebesar 300 juta. Bayangin banyaknya relawan yg nunggu berjam-jam menunggu hasil rapat mereka dengan wapres, tapi ternyata semuanya udah di setting. Malam ini (Selasa, 23 Juni) mereka lagi di introgasi oleh mahasiswa UBK,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Tidak berhenti di situ, opini publik di media sosial semakin liar setelah beberapa netizen melontarkan spekulasi lain yang menyeret keterlibatan institusi penegak hukum.
Berita Terkait
-
Naik Motor Listrik, Gibran Blusukan ke Agats Asmat Pantau Program Prioritas
-
PKB Heran Jokowi Mendadak Lempar Wacana Prabowo-Gibran 2 Periode: Kemajon!
-
Fokus Urus Perut Rakyat, AHY Ingatkan 2029 Masih Lama Saat Ditanya Isu Prabowo-Gibran 2 Periode
-
Bos Blueray Cargo Dituntut 3 Tahun Penjara dalam Kasus Suap Pejabat Bea Cukai
-
Pengamat Sebut Masa Depan Politik Gibran Sangat Bergantung pada Pengaruh Jokowi
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Promo Khusus KPR Renovasi BRI dengan Suku Bunga Spesial
-
Stok Beras BULOG Capai 5,25 Juta Ton, Tersebar di Berbagai Gudang Indonesia
-
Viral ASN PPPK Paruh Waktu DPUTR Bandung Barat Live TikTok, Singgung Fee Proyek
-
Tak Perlu Transit, TransNusa Buka Penerbangan Langsung Jakarta-Bangkok 2 Kali Sehari
-
Studi Ungkap Dampak Penuaan Mikroplastik terhadap Polutan di Tanah
-
WALHI: Sebutan "Bencana Alam" Tak Boleh Menutupi Kerusakan Ekologis
-
Di Balik Narasi 'Kecerdasan Bukan dari Sekolah': Mengingatkan Kembali Tanggung Jawab Negara
-
Khofifah Ajak Siswa Sekolah Rakyat Pasuruan Kobarkan Semangat Kemerdekaan Menuju Indonesia Emas
-
Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Mensesneg Minta Masyarakat Tak Lakukan Aktivitas yang Picu Kebakaran
-
Kabel Listrik Bermasalah, Ratusan Jaecoo J7 Kena Recall