- Wahyudi Kumorotomo menyoroti implementasi Program Makan Bergizi Gratis yang dinilai kurang tepat sasaran karena diberikan kepada seluruh siswa.
- Desain program yang tidak fokus pada daerah stunting berisiko menyebabkan pemborosan anggaran negara dalam skala yang sangat besar.
- Pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan transparansi anggaran guna memastikan efektivitas pemenuhan gizi anak sekolah.
Suara.com - Guru Besar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) Fisipol UGM, Wahyudi Kumorotomo, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang kembali menyinggung pihak-pihak yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu dilihat secara lebih substansial.
Menurutnya, kepedulian terhadap anak-anak yang masih mengalami kelaparan dan kekurangan gizi memang patut didukung. Namun implementasi program harus benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan.
"Pernyataan Presiden itu betul bahwa kita perlu memastikan semua orang itu tidak kelaparan," kata Wahyudi kepada Suara.com, Kamis (25/6/2026).
Disampaikan Wahyudi, persoalan utama bukan pada tujuan program, melainkan pada desain pelaksanaannya.
Ia menilai MBG saat ini diterapkan secara menyeluruh kepada seluruh siswa tanpa membedakan kondisi ekonomi maupun status gizi penerimanya.
Akibatnya, anggaran besar yang digelontorkan berisiko tidak efektif dalam menyelesaikan persoalan kelaparan dan stunting.
"Tapi persoalannya adalah bahwa MBG itu didesain dengan cara across the board, artinya semua anak-anak sekolah, baik yang kelaparan atau tidak, itu mendapatkan MBG," ujarnya.
Ia mencontohkan data yang menunjukkan distribusi fasilitas pendukung program belum sepenuhnya sejalan dengan daerah yang memiliki tingkat stunting tinggi.
Menurutnya, apabila tujuan utama MBG adalah meningkatkan status gizi dan menekan angka stunting, maka pemerintah semestinya memusatkan perhatian pada wilayah-wilayah yang paling membutuhkan intervensi.
Baca Juga: Khawatir Cucu Diintai, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Minta LPSK Lindungi Keluarganya
"Kalau yang kita maksudkan tujuan MBG itu untuk meningkatkan status gizi anak sekaligus membuat supaya anak-anak stunting itu tidak ada lagi, ya marilah kita pusatkan perhatian pada daerah-daerah yang memang banyak anak-anak stunting," tandasnya.
Selain soal ketepatan sasaran, Wahyudi turut menyoroti besarnya anggaran yang digunakan untuk program tersebut. Ia mempertanyakan efektivitas penggunaan dana yang mencapai triliunan rupiah setiap hari.
Belum lagi jika kemudian masih ditemukan makanan yang tidak layak dikonsumsi, kualitas makanan yang dipersoalkan, hingga kasus gangguan kesehatan yang muncul di sejumlah daerah.
"Sekali lagi pertanyaannya, apakah memang betul kita membantu anak-anak lapar dengan MBG? Kalau tidak, berarti ini memang kita harus evaluasi secara mendasar," tandasnya.
Wahyudi menilai pemerintah perlu lebih serius mengevaluasi struktur belanja dalam program MBG. Menurutnya, sebagian anggaran justru banyak terserap untuk pengadaan sarana dan prasarana.
Sementara manfaat langsung bagi pemenuhan gizi anak belum sepenuhnya terlihat secara optimal. Ia mengingatkan agar pemerintah memastikan program tersebut bebas dari konflik kepentingan, kebocoran anggaran, maupun praktik korupsi.
Berita Terkait
-
Khawatir Cucu Diintai, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Minta LPSK Lindungi Keluarganya
-
Krisna Murti Bandingkan Sony Sanjaya dengan Bharada E: Pelaku Penembakan Saja Dapat JC
-
Mahasiswa Demo Atas Nama Rakyat: Tapi Rakyat yang Mana?
-
Pilih Soroti MBG dan KDMP, Tiyo Ardianto Tak Ambil Pusing Temuan Alat Pelacak
-
Mengapa Gaji Guru Sangat Kecil?
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Polisi Klaim 995 Pistol di Ruang Kerja Eks Ketua Yayasan Sekolah Jaksel Bukan Senpi
-
Kalau Standarnya Cuma "Daripada Dikorupsi", Semua Program Terlihat Bagus
-
Bursa Kripto CFX10 Melesat, Bitcoin dan Ethereum Naik
-
Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
-
Kala Lapar Bertemu Deadline Kerjaan Tanpa Ampun, Lahirlah Kutukan 'Hangry'
-
Pemerintah Ubah Sebutan Pemulung Jadi 'Pemilah Sampah', Bakal Jadi Profesi Terlindungi
-
Kasus Kematian Mantan Istri Anggota Polri, Komisi III DPR RI: Jangan Gegabah Simpulkan Bunuh Diri
-
Ribuan Pemilah Sampah di Bantargebang Kini Punya Jaminan Kerja
-
Waspada Potensi Bencana Alam di Jateng, Sarif Abdillah: Pelatihan Relawan Jangan Kendor!
-
Berbagi Kisah & Harapan: Ketika Menagih Pajak Tidak Sekadar Soal Angka