- Aliansi BEM se-UI melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung ASEAN, Jakarta Selatan, pada Rabu (1/7/2026).
- Mahasiswa menuntut reformasi Polri serta menolak revisi UU Polri yang dianggap bermasalah secara formil dan materil.
- Aksi sempat terhambat barikade aparat saat massa mendesak untuk menyampaikan tuntutan langsung kepada pimpinan Mabes Polri.
Suara.com - Langkah Aliansi BEM se-Universitas Indonesia (BEM se-UI) membawa keranda dan karangan bunga duka cita tertahan akibat hadangan ketat aparat di depan Gedung ASEAN, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026).
Meski dihadang dan diminta berpindah ke lokasi lain, mahasiswa bersikeras ingin menembus barikade menuju Mabes Polri guna menyerahkan langsung tuntutan mereka kepada pimpinan tertinggi korps kepolisian.
Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, menegaskan bahwa upaya memindahkan rute aksi ke Museum Polri atau Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) merupakan sebuah ironi.
Bagi mahasiswa, menyerahkan simbol duka duka atas matinya reformasi kepolisian harus dilakukan langsung ke pusat komando.
"Lantas apa keperluannya kita mengirim surat kalau ujung-ujungnya tidak boleh ke tempat? Malah dipindahkan ke Museum Polri dan Baharkam. Tentu kita marah," kata Hafidz saat diwawancarai di depan Gedung ASEAN, Rabu (1/7/2026).
"Mabes Polri itu bertanggung jawab atas polda-polda di Jabodetabek, makanya kita ingin memberi langsung kepada kepalanya," katanya menambahkan.
Ketegangan ini bermula dari kritik mahasiswa terhadap pengesahan revisi UU Polri yang dinilai cacat formil dan materil melalui jalur cepat.
Salah satu poin yang ditentang keras adalah perpanjangan masa pensiun perwira tinggi, termasuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Menurut Hafidz, regulasi baru ini hanya membuat pucuk pimpinan kepolisian terlalu nyaman sehingga mengabaikan tuntutan pembenahan internal.
Baca Juga: Siapa Bertanggung Jawab? Polisi Usut Kelalaian Proyek yang Tewaskan Bocah 4 Tahun di Tebet
"Kita merasa bahwa ketika kepalanya busuk, barisan bawahnya akan pasti busuk. Reformasi Polri ini sudah cacat sekali," ujar Hafidz.
Ia mengingatkan kembali bahwa desakan reformasi ini merupakan akumulasi dari rentetan kasus kekerasan fatal yang tak kunjung dibenahi, seperti tewasnya almarhum Afif Kurniawan hingga kematian remaja 14 tahun, Arianta Tawakal, di trotoar jalan.
Upaya mahasiswa mencari transparansi ke instansi pemerintah juga menemui jalan buntu.
BEM UI sempat menyambangi Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) pada Mei lalu untuk meminta dokumen draf percepatan reformasi Polri yang diserahkan ke Presiden, namun dokumen tersebut tidak kunjung dibuka untuk publik.
Hafidz juga melempar kritik tajam terhadap peran DPR dalam proses legislasi ini.
Menurutnya, lembaga legislatif kini telah kehilangan fungsinya sebagai penyambung lidah masyarakat.
"Saat ini DPR bukan lagi Dewan Perwakilan Rakyat, DPR itu lebih pantas dibilang jubir pemerintah. Semua itu intrik-intrik politik dari eksekutif. Sayangnya, pemerintah saat ini terlalu sibuk untuk berkoalisi dengan partai-partai tapi tidak berkoalisi dengan masyarakat," pungkas Hafidz sebelum kembali merapatkan barisan bersama massa aksi yang masih tertahan di kawasan ASEAN.
Berita Terkait
-
Kado Keranda Mayat BEM UI Dilucuti Polisi, Demo #MatinyaReformasiPolri Ricuh
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo Beri Kenaikan Pangkat Kehormatan untuk Purnawirawan Polisi, Termasuk Mantan Ajudan Soekarno
-
Siapa Bertanggung Jawab? Polisi Usut Kelalaian Proyek yang Tewaskan Bocah 4 Tahun di Tebet
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara