- PM Qatar bertemu utusan AS di Doha untuk menjembatani komunikasi buntu antara Washington dan Teheran terkait gencatan senjata.
- Kesepakatan gencatan senjata 60 hari terancam akibat eskalasi militer di Selat Hormuz, Lebanon, serta pengeboman udara kedua belah pihak.
- Pemerintah Iran membantah negosiasi langsung dan menuntut pencairan aset sebesar US$ 6 miliar sebagai bukti iktikad baik Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa negosiator Iran hadir di Doha murni untuk membahas implementasi teknis dari MoU yang telah disepakati.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan penekanan khusus pada isu ekonomi. Ia menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan AS untuk membuktikan iktikad baiknya adalah dengan mencairkan dana milik Iran sebesar US$ 6 miliar yang selama ini dibekukan.
Mengapa Iran Enggan Berhadapan Langsung?
Keengganan Teheran untuk tampil langsung di meja perundingan memunculkan berbagai spekulasi. Alex Vatanka, Peneliti Senior di Middle East Institute, menilai hal ini dipicu oleh meningkatnya keraguan di internal pemerintahan Iran terhadap efektivitas MoU tersebut.
Menurut Vatanka, banyak pihak di Teheran mulai mempertanyakan implementasi kesepakatan.
"Mereka bertanya-tanya, MoU ini terlihat bagus di atas kertas, tetapi mana tindakan nyatanya? Mana aset yang dijanjikan cair? Bagaimana dengan kendali di Selat Hormuz, dan mengapa Israel masih berada di Lebanon?" jelasnya, dikutip dari Aljazeera.
Sangat masuk akal jika para pejabat senior Iran, seperti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi atau Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menghindari sorotan kamera di Doha agar tidak menjadi sasaran kritik publik di dalam negeri.
Sementara itu, mantan perwira CIA dan pakar keamanan nasional AS, Scott Uehlinger, melihat bahwa diskusi teknis ini dimanfaatkan oleh Washington untuk mengendalikan ambisi Iran atas Selat Hormuz.
"Tujuan utama negosiator AS adalah menggunakan pembicaraan teknis ini untuk mencegah konflik yang berpotensi meledak di masa depan, sekaligus memperjelas batas kewenangan Iran di perairan strategis tersebut sesuai dengan kerangka MoU," ungkap Uehlinger.
Baca Juga: Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II
Berita Terkait
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Cek Harga Dolar AS di Bank Himbara dan Swasta, Ada yang Jual Rp18.050
-
Diplomasi AS - Iran Memanas, Utusan Donald Trump Kejar Kesepakatan Damai di Qatar
-
Iran Tolak Temui Utusan AS, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik
-
Awal Bulan Juli, Rupiah Tertekan Lawan Dolar AS ke Level Rp17.980
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Liburan Agustus Lebih Hemat! Ada Diskon di Wisata Nako Pasir Angin Bareng BRI
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9