News / Internasional
Rabu, 01 Juli 2026 | 17:24 WIB
Kolase foto Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan). [Suara.com]
Baca 10 detik
  • PM Qatar bertemu utusan AS di Doha untuk menjembatani komunikasi buntu antara Washington dan Teheran terkait gencatan senjata.
  • Kesepakatan gencatan senjata 60 hari terancam akibat eskalasi militer di Selat Hormuz, Lebanon, serta pengeboman udara kedua belah pihak.
  • Pemerintah Iran membantah negosiasi langsung dan menuntut pencairan aset sebesar US$ 6 miliar sebagai bukti iktikad baik Amerika Serikat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa negosiator Iran hadir di Doha murni untuk membahas implementasi teknis dari MoU yang telah disepakati.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan penekanan khusus pada isu ekonomi. Ia menegaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan AS untuk membuktikan iktikad baiknya adalah dengan mencairkan dana milik Iran sebesar US$ 6 miliar yang selama ini dibekukan.

Mengapa Iran Enggan Berhadapan Langsung?

Keengganan Teheran untuk tampil langsung di meja perundingan memunculkan berbagai spekulasi. Alex Vatanka, Peneliti Senior di Middle East Institute, menilai hal ini dipicu oleh meningkatnya keraguan di internal pemerintahan Iran terhadap efektivitas MoU tersebut.

Menurut Vatanka, banyak pihak di Teheran mulai mempertanyakan implementasi kesepakatan.

"Mereka bertanya-tanya, MoU ini terlihat bagus di atas kertas, tetapi mana tindakan nyatanya? Mana aset yang dijanjikan cair? Bagaimana dengan kendali di Selat Hormuz, dan mengapa Israel masih berada di Lebanon?" jelasnya, dikutip dari Aljazeera.

Sangat masuk akal jika para pejabat senior Iran, seperti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi atau Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menghindari sorotan kamera di Doha agar tidak menjadi sasaran kritik publik di dalam negeri.

Sementara itu, mantan perwira CIA dan pakar keamanan nasional AS, Scott Uehlinger, melihat bahwa diskusi teknis ini dimanfaatkan oleh Washington untuk mengendalikan ambisi Iran atas Selat Hormuz.

"Tujuan utama negosiator AS adalah menggunakan pembicaraan teknis ini untuk mencegah konflik yang berpotensi meledak di masa depan, sekaligus memperjelas batas kewenangan Iran di perairan strategis tersebut sesuai dengan kerangka MoU," ungkap Uehlinger.

Baca Juga: Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II

Load More