- PM Qatar bertemu utusan AS di Doha untuk menjembatani komunikasi buntu antara Washington dan Teheran terkait gencatan senjata.
- Kesepakatan gencatan senjata 60 hari terancam akibat eskalasi militer di Selat Hormuz, Lebanon, serta pengeboman udara kedua belah pihak.
- Pemerintah Iran membantah negosiasi langsung dan menuntut pencairan aset sebesar US$ 6 miliar sebagai bukti iktikad baik Amerika Serikat.
Suara.com - Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, dilaporkan telah bertemu dengan utusan Amerika Serikat (AS) Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner di Doha.
Pertemuan ini merupakan manuver diplomasi terbaru untuk menjembatani komunikasi yang buntu antara Washington dan Teheran.
Sebelumnya, AS dan Iran telah menyepakati Nota Kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026 yang berisi perpanjangan masa gencatan senjata selama 60 hari.
Kesepakatan tersebut sejatinya dirancang untuk memberi ruang diskusi terkait isu-isu krusial, meliputi status Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi jangka panjang, serta masa depan program nuklir Teheran.
Meskipun MoU telah ditandatangani, Aljazeera melaporkan, selama dua pekan terakhir justru menunjukkan eskalasi konflik. Rencana perdamaian terancam oleh serangkaian insiden, antara lain:
- Sengketa perlintasan kapal komersial dan militer di Selat Hormuz.
- Aksi pengeboman udara oleh militer AS di wilayah Iran.
- Serangan balasan dari pihak Iran yang menargetkan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.
- Berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon yang memicu kemarahan kawasan.
Perbedaan klaim juga memperkeruh suasana. Sementara Washington menyatakan siap menggelar negosiasi tatap muka di Doha, pemerintah Iran dengan tegas membantah adanya pertemuan langsung tersebut.
Klaim Washington: Posisi AS Kuat, Trump Buka Peluang Diplomasi
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengklaim bahwa pemerintahan Trump saat ini berada di "posisi yang sangat menguntungkan" terlepas dari apa pun hasil perundingan tersebut.
Vance menekankan bahwa infrastruktur militer dan program nuklir Iran telah "dihancurkan", seraya memperingatkan bahwa AS akan merespons keras setiap provokasi Iran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II
Terkait bantahan Teheran soal dialog langsung, Vance menyebut hal itu sebagai retorika belaka.
“Mereka berkata, ‘Tidak ada pembicaraan damai yang sedang berlangsung, tetapi ada pembicaraan teknis antara AS dan Iran tentang kesepakatan damai.’ Ini adalah taktik negosiasi dan gaya bahasa Persia yang tidak saya pahami,” ujar Vance dalam siniar The Michael Knowles Show.
Di sisi lain, laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump masih memprioritaskan jalur diplomasi.
Ia dilaporkan bersedia memperpanjang masa gencatan senjata 60 hari jika hal itu diperlukan untuk menuntaskan negosiasi terkait program nuklir Iran, alih-alih mengambil opsi militer.
Bantahan Teheran: Fokus pada Pencairan Dana US$ 6 Miliar
Pemerintah Iran bersikeras bahwa tidak ada pejabat tinggi mereka yang duduk satu meja dengan delegasi AS di Doha. Teheran menyatakan bahwa komunikasi hanya dilakukan secara tidak langsung (jalur belakang) dengan menempatkan Qatar sebagai mediator.
Berita Terkait
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Cek Harga Dolar AS di Bank Himbara dan Swasta, Ada yang Jual Rp18.050
-
Diplomasi AS - Iran Memanas, Utusan Donald Trump Kejar Kesepakatan Damai di Qatar
-
Iran Tolak Temui Utusan AS, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik
-
Awal Bulan Juli, Rupiah Tertekan Lawan Dolar AS ke Level Rp17.980
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Alasan Polisi Tak Izinkan Massa Demo BEM UI Lewati Jalan Trunojoyo di Hari Bhayangkara
-
Bupati Kuansing Minta Land Cruiser, Mobil Dibeli Kredit dengan Cicilan Rp46 Juta Per Bulan
-
Waspada! Kebijakan B50 Bisa Picu Krisis Minyak Goreng dan Bencana Lingkungan Akibat Sawit
-
Waspada El Nino hingga 2027, Megawati Keluarkan Instruksi 'Siaga Satu' Pangan dan Air
-
Dilarang Dekat Mabes, BEM UI Beberkan Rapor Merah 602 Kasus Kekerasan Polri di Depan Gedung ASEAN
-
Presiden Belarus Tiba di Jakarta, Disambut Menhan Sjafrie Sjamsoeddin
-
Dapat Kado Keranda Mayat dari BEM UI, Kapolri Akui Polri Belum Sempurna dan Butuh Kritik
-
Kepalanya Busuk, Bawahnya Pasti Busuk! BEM UI Meradang Usai Aksi Bawa Keranda Dihadang
-
Kado Keranda Mayat BEM UI Dilucuti Polisi, Demo #MatinyaReformasiPolri Ricuh
-
Tarif Transjabodetabek Bisa Berubah Total, Pola Jauh-Dekat Beda Harga