News / Nasional
Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:24 WIB
Ilustrasi tragedi penggerebekan bandar narkoba di Katingan, Kalimantan Tengah, berujung satu anggota polisi gugur dan dua lainnya hilang. (Dok. Suara.com)
Baca 10 detik
  • Penggerebekan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kalimantan Tengah, pada Kamis (2/7/2026) berubah menjadi bentrokan berdarah antara warga dan polisi.
  • Insiden tersebut menyebabkan satu anggota Satresnarkoba Polres Katingan, Aipda Yudhi Perdana Putra, gugur akibat serangan senjata tajam warga.
  • Aparat kini melakukan operasi pencarian intensif terhadap dua personel polisi lainnya yang masih hilang misterius pascabentrokan di lokasi tersebut.

Suara.com - Operasi pemberantasan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, berujung duka pada Kamis (2/7/2026) kemarin.

Insiden berdarah itu menyebabkan satu anggota Satresnarkoba Polres Katingan, Aipda Yudhi Perdana Putra, gugur akibat luka senjata tajam.

Sementara dua rekannya, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana hingga kini masih hilang misterius saat menyelamatkan diri dari kepungan massa di sungai tak jauh dari lokasi.

Peristiwa tersebut memicu operasi besar-besaran aparat untuk mencari dua personel yang belum ditemukan sekaligus mengamankan lokasi kejadian.

Penggerebekan Jadi Bentrokan Berdarah

Peristiwa itu berawal ketika Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti laporan masyarakat yang berkaitan dengan maraknya peredaran narkotika jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei.

Target operasi dalam penggerebekan itu adalah dua residivis kasus narkoba berinisial BIO dan BUSU. Mereka berdua yang diduga kembali menjalankan bisnis obat terlarang itu di Desa Tumbang Kalemei.

Tim gabungan yang dipimpin Kasatresnarkoba Polres Katingan berangkat pada Rabu (1/7/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Sebanyak 12 personel diterjunkan dan tiba di lokasi sasaran sekitar pukul 00.30 WIB setelah menempuh perjalanan menuju desa tersebut.

Setibanya di lokasi, personel dibagi menjadi dua tim. Sembilan anggota bertugas melakukan penyergapan ke rumah target, sedangkan tiga personel lainnya bersiaga di sekitar SMP setempat sebagai tim pendukung.

Baca Juga: Polisi Gugur dan Dua Anggota Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba, DPR Minta Pelaku Ditindak Tegas

Operasi awalnya berjalan sesuai rencana. Polisi berhasil mengamankan salah satu pelaku.

Namun situasi mendadak berubah ketika seorang pria, yang diduga keluarga korban, keluar dari arah dapur sambil mengayunkan parang ke arah anggota, meski serangan itu berhasil digagalkan.

Tak lama berselang, datang dua pria lainnya kembali menyerang Kasatresnarkoba dengan parang. Melihat keselamatan personel terancam, petugas di lokasi melepaskan tembakan peringatan.

Namun akibat perlawanan yang tidak segera berhenti membuat polisi mengambil tindakan tegas terukur yang mengenai Teriyo (40), seorang warga di desa tersebut.

Kematian Teriyo kemudian memicu kemarahan ratusan warga yang mendatangi lokasi penggerebekan hingga situasi semakin tidak terkendali. Ada yang membawa parang, balok kayu hingga senjata api rakitan.

Massa yang menang secara junlah langsung mengejar anggota kepolisian yang berupaya menyelamatkan diri. Kondisi itu mengubah operasi penggerebekan narkoba menjadi bentrokan berdarah.

Terjebak di Pulau Kecil, Bertaruh Nyawa di Tengah Sungai

Situasi di lokasi penggerebekan semakin tidak terkendali. Mengingat jumlah personel yang jauh lebih sedikit, polisi memutuskan mundur untuk menyelamatkan diri. Tim sempat meminta bantuan ke Polres Katingan dan Polsek Katingan Tengah.

Sebagian anggota disebut berlari ke arah sungai dan menyeberang menuju sebuah pulau kecil di tengah aliran sungai. Mereka berharap lokasi itu dapat menjadi tempat berlindung sementara dari kejaran massa.

Namun, posisi personel di pulau kecil justru membuat mereka terjebak.

Saat berusaha menyelamatkan diri dengan berenang, tiga anggota dilaporkan kelelahan. Menurut laporan, mereka sempag berkata, "saya menyerah," sebelum kembali ke tepian sungai yang telah dipenuhi warga.

Setelah situasi mulai terkendali, aparat melakukan penyisiran untuk mencari personel yang belum diketahui keberadaannya.

Hingga proses evakuasi selesai dilakukan, sembilan anggota berhasil diselamatkan.

Korban dan Situasi Terkini

Tragedi di Desa Tumbang Kalemei menyebabkan satu anggota kepolisian gugur dan dua personel masih dinyatakan hilang.

Korban meninggal yakni Aipda Yudhi Perdana Putra yang ditemukan di atas sebuah lanting di tepi sungai. Korban ditemukan dengan luka parah di bagian kepala yang diduga akibat serangan senjata tajam.

Adapun jenazah Aipda Yudhi telah berada di RS Bhayangkara Palangka Raya untuk menjalani autopsi untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.

Sementara dua anggota lain yakni Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana hingga kini masih dalam proses pencarian.

"Saat ini kami masih memfokuskan seluruh upaya untuk menemukan dua anggota yang belum diketahui keberadaannya," kata Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono.

Kronologi berdarah penggerebekan bandar narkoba di Katingan, Kalimantan Tengah, berujung satu anggota polisi gugur dan dua lainnya hilang. (Dok. Suara.com)

Selain kepolisian, ada pula tim dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Palangka Raya yang menurunkan 10 personel untuk melakukan operasi pencarian dua personel polisi tersebut di sepanjang aliran sungai Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah.

Sementara lima anggota lainnya berhasil selamat setelah bersembunyi di kawasan hutan hingga situasi memungkinkan untuk dievakuasi. Seluruh personel yang selamat kemudian berhasil dievakuasi oleh tim gabungan.

Untuk mengamankan lokasi, Polda Kalimantan Tengah mengerahkan 50 personel Brimob ke Desa Tumbang Kalemei.

Pasukan tersebut diterjunkan guna mencegah bentrokan susulan, memburu pelaku pembacokan terhadap anggota polisi, sekaligus melanjutkan pengungkapan jaringan narkoba yang menjadi target operasi.

"Saat ini situasi sudah kondusif. Keluarga pelaku sudah kabur dari lokasi. Sebanyak 50 personel dari Polda Kalimantan Tengah juga telah bergerak memberikan bantuan dan dukungan dalam penanganan peristiwa ini," ujar Dodik.

Terpisah, Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Aipda Yudhi Perdana Putra dalam operasi pemberantasan narkoba di Kabupaten Katingan.

Ia turut mendoakan agar Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Selain menyampaikan duka cita, Ketua Komisi III DPR meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut.

Ia menegaskan para pelaku penyerangan terhadap polisi maupun jaringan bandar narkoba yang terlibat harus ditindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Jangan beri ruang sedikit pun bagi bandar narkoba. Kami juga mendesak agar dua anggota polisi yang dilaporkan hilang segera ditemukan dalam kondisi selamat. Kejar pelaku sampai dapat, hukum harus ditegakkan sekeras-kerasnya," tegas Habiburokhman.

Dugaan Kuat Dukungan Warga terhadap Bandar Narkoba

Perlawanan massal terhadap polisi saat penggerebekan bandar narkoba di Katingan dinilai tidak bisa dipandang sebagai reaksi spontan semata.

Pakar menilai aparat perlu mendalami mengapa masyarakat justru melakukan pembelaan terhadap pihak yang diduga terlibat dalam jaringan narkotika.

Pakar Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Trisno Raharjo, mengatakan operasi di kawasan yang diduga menjadi sarang narkoba memang memiliki tingkat risiko tinggi. Pasalnya pelaku kerap berbaur dengan masyarakat.

"Karena memang terkadang itu dia (pelaku) bukan tempat tersembunyi, justru dia berada di lingkungan masyarakat. Masyarakatnya itu juga bisa jadi adalah masyarakat yang sebenarnya merasa terbantukan oleh adanya bandar, mungkin dia diberikan logistik dan sebagainya," kata Trisno, kepada Suara.com.

Menurut Trisno, dugaan adanya kedekatan antara warga dan bandar narkoba harus menjadi perhatian penyidik.

Ia menambahkan, penindakan hukum saja tidak cukup apabila masyarakat masih memberikan perlindungan kepada pelaku.

"Masyarakatnya juga harus mendapatkan pembinaan yang baik agar mereka tidak melakukan pembelaan terhadap bandar narkoba," ujarnya.

Evaluasi SOP hingga Penindakan Pelaku

Di sisi lain tragedi berdarah saat penggerebekan bandar narkoba di Katingan ini dinilai menjadi alarm bagi kepolisian untuk mengevaluasi pelaksanaan operasi di wilayah yang memiliki potensi perlawanan tinggi.

Trisno menilai penggerebekan ke lokasi yang diduga menjadi sarang narkoba harus disertai perhitungan risiko yang matang.

"Penggerebekan ini kemungkinan mendapat perlawanan. Nah, seharusnya itu telah diperhitungkan atau belum. Kalau belum, berarti itu kelalaian. Kalau sudah diperhitungkan, itu adalah risiko yang menjadi risiko pekerjaan pihak kepolisian," tuturnya.

Menurut Trisno, kejadian di Katingan juga harus menjadi bahan evaluasi terhadap prosedur operasi yang berlaku.

"SOP itu dilihat lagi apakah masih bisa diterapkan atau ada perbaikan itu harus bisa dilakukan. Kalau misalnya itu sudah baik, kenapa kok tetap jadi korban? Itu harus segera menjadi evaluasi dari pihak kepolisian," ujarnya.

Sementara itu, Pakar Hukum Pidana UGM, Sigid Riyanto, menambahkan bahwa penyerangan terhadap aparat apalagi hingga menyebabkan korban meninggal dunia dapat dijerat dengan ketentuan pidana yang lebih berat.

"Tindak pidana narkoba terhadap pengedar setahu saya sudah cukup tinggi sanksinya. Pemberatan coba dilihat dalam bab tindak pidana terhadap aparat penegak hukum/ketertiban umum," kata Sigid.

Load More